Rakyat Amerika Tidak Siap Untuk Memulai Perang Baru

Pada awal bukunya, The True Flag: Theodore Roosevelt, Mark Twain, and the Birth of American Empire, Stephen Kinzer menjelaskan bahwa “antusiasme rakyat Amerika untuk melakukan intervensi asing tampaknya surut dan mengalir seperti arus yang pasang surut… Pada beberapa saat kita (warga Amerika -red) terbakar emosi dan marah karena percaya diri terhadap kekuatan yang kita miliki. Kita meluncurkan perang dan menggulingkan pemerintah. Lalu, kita segera mundur, dan siklus ini berulang lagi.”

Jika gairah untukmelakukan petualangan militer di luar negeri bergerak seperti arus gelombang, maka sekarang kita melihat lebih banyak pasir dan lumpur daripada air biru. Rakyat Amerika tidak ingin memulai lebih banyak perang lagi. Sebaliknya, mereka percaya bahwa intervensi AS telah merusak keamanan dalam negeri. Sebagai contoh, penelitian yang disponsori bersama oleh Charles Koch Institute dan Center for National Interest menemukan bahwa 51 persen orang Amerika percaya bahwa kebijakan luar negeri pasca-9/11 telah membuat keamanan dalam negeri AS menjadi berkurang.

Mereka menginginkan lebih banyak sumber daya digunakan untuk pembangunan bangsa di dalam negeri, bukan justru digunakan untuk pembangunan negara lain di luar negeri. Hampir delapan dari sepuluh responden lebih memilih memberikan tambahan pajak untuk pengeluaran domestik, bukan untuk anggaran militer.

Sementara itu, sebuah jajak pendapat yang diajukan oleh Committee for Responsible Foreign Policy mengungkapkan bahwa hampir 71 persen rakyat Amerika menginginkan perwakilan mereka di Kongres untuk membatasi kehendak melakukan kebijakan intervensi luar negeri.

Rakyat Amerika percaya bahwa perang adalah jalan terakhir. Mereka menginginkan “tujuan yang jelas untuk membenarkan tindakan militer di luar negeri, termasuk tenggat waktu dan indikator kemenangan; serta pengawasan dan pertanggungjawaban dari Kongres mengenai penempatan tentara dan operasi militer yang sedang dilakukan di luar negeri.”

Mayoritas rakyat Amerika, menurut jajak pendapat, juga menginginkan jaminan bahwa senjata dan peralatan yang diberikan kepada pihak asing tidak digunakan untuk menyakiti warga sipil yang tidak bersalah.

“Penelitian tersebut menunjukkan bahwa 67,4 persen rakyat Amerika tidak menyetujui kepemimpinan Kongres yang mengizinkan keterlibatan kami dalam konflik di luar negeri tanpa secara formal menyetujui tindakan militer – atau hanya membiarkannya menjadi sebuah perdebatan,” jelas Bill Dolbow, juru bicara komite tersebut.

Donald Trump tidak memenangkan kursi kepresidenan berdasarkan pandangan kebijakan luar negerinya, tapi dia meyakinkan kepada para pemilih bahwa negara tersebut bergerak ke arah yang benar. Termasuk berhasil meyakinkan pemilih yang mengalami ketidakpuasan dengan beberapa perang AS yang masih berjalan. Namun pada kenyataannya, Donald Trump belum memulai apapun untuk mengubah kebijakan luar negeri negara tersebut.

Dia menyetujui eskalasi perang di Afghanistan, dan berjanji untuk meninggalkan pasukan AS di Asia Tengah tanpa batas waktu. Dia telah menambah jumlah pasukan AS di Eropa, mempertahankan keberadaan angkatan laut AS yang cukup besar dan menonjol di kawasan Asia Pasifik, dan mendukung keterlibatan Amerika yang dalam dalam perang saudara yang berkecamuk di Suriah dan Yaman. Dia bahkan tampaknya siap untuk memulai perang di Semenanjung Korea, yang bisa mengkerdilkan semua konflik pasca-9/11, dalam hal korban nyawa dan harta.

Pihak lainnya memiliki target yang berbeda dalam pandangan mereka. John Bolton, misalnya, menentang Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA),  yaitu kesepakatan negosiasi yang membatasi program nuklir Iran, yang selalu dibenci Trump. Bolton lebih menyukai sebuah kebijakan tekanan yang lebih besar dengan tujuan untuk “mengakhiri Revolusi Islam 1979 di Iran sebelum tahun 2019.”

Bolton mencoba untuk membangkitkan amarah pembaca Wall Street Journal terhadap Iran dengan menceritakan memori tentang sandera Amerika yang disekap lebih dari tiga puluh delapan tahun yang lalu, setelah revolusi yang menggulingkan Shah Iran yang didukung Amerika.

Tapi, kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang bisa membuat jenuh. Bahkan beberapa imperialis paling hebat di akhir abad kesembilan belas mulai memikirkan kembali kebijaksanaan perluasan wilayah dengan penaklukan militer pada dekade pertama abad ke-20. Saat mendapat kesempatan untuk menguasai Republik Dominika pada tahun 1904, Presiden Theodore Roosevelt menjawab “Saya memiliki keinginan untuk mencaploknya, tapi ular sanca yang kenyang mungkin harus menelan landak hidup-hidup.” Filipina adalah masalah lain, yang bahkan lebih besar lagi untuk Roosevelt. Dia khawatir bahwa Filipina mungkin secara geopolitik cenderung kepada Jepang.

Seorang sejarawan, David Mayers, menyebutkan bahwa rakyat Amerika cenderung berubah-ubah. Di satu sisi mereka dipermalukan oleh imperium Amerika, dan merasa cemas terhadap biaya pemeliharaan kolonial.”

 

Baca halaman selanjutnya: Mereka Masih Sama Saja