Al-Qaeda Merehabilitasi Mantan Anggota IS dan Afiliasinya


Alih loyalitas kepada organisasi jihad lain menjadi indikator utama ketahanan kelompok jihadis yang tetap berkembang setelah wilayah kontrol direbut.

 

Al-Qaeda berusaha untuk menyadarkan kembali ekstremis IS (the Islamic State) setelah “kekhalifahan” mereka runtuh di tengah kerugian besar berupa sumberdaya manusia, material, wilayah, dan prestise. Kampanye rekrutmen dimulai pada musim panas tahun lalu (2017), bahkan sebelum IS kehilangan markas besar terakhirnya. Hal ini menggarisbawahi pentingnya Al-Qaeda untuk memenangkan jumlah personel dan sumberdaya dari kompetitornya, terutama IS.

Salah satu upaya tersebut diluncurkan oleh pejuang Al-Qaeda di Aljazair pada bulan Agustus 2017. Sepuluh pejuang yang sebelumnya bergabung dengan afiliasi ISIS di negara tersebut beralih kesetiaan setelah berdebat dengan para ulama yang setia kepada Al-Qaeda. Demikian sumber-sumber keamanan setempat melaporkan.

Di wilayah Sahil, Afrika Utara, petinggi senior Al-Qaeda diyakini telah berhasil mendekati komandan milisi, yang orang-orangnya diperkirakan telah menyerang dan membunuh empat pasukan khusus AS di Niger pada bulan Oktober 2017.

Sekitar waktu yang sama, sebuah kawat berita pro-Al-Qaeda di Yaman mengabarkan “pertobatan” banyak pejuang IS yang telah kecewa dengan pemahaman keagamaan dari para pemimpin mereka, termasuk penyimpangan dan perilaku “ekstrem” mereka. Mereka yang rujuk ini baru saja bergabung dengan barisan Al-Qaeda. Di Afghanistan, sekelompok pejuang IS di Provinsi Ghor yang terpencil, namun penting karena posisinya yang stratejik, membelot ke Taliban.

(Baca juga: Tiga Fase Perubahan Strutur Al-Qaeda Pasca Serangan 11/9)

Laporan seputar fenomena ini sedang dipelajari oleh para pejabat keamanan Barat yang berharap dapat memahami evolusi ancaman yang ditunjukkan oleh IS—maupun elemen turunannya—untuk beberapa bulan dan tahun mendatang.

Sebagian analis percaya bahwa IS saat ini berusaha memanfaatkan jaringan yang tersebar luas—dari berbagai kelompok dan faksi sekutunya—di seluruh dunia untuk melancarkan serangan lebih jauh ke Barat. Tujuan IS untuk mempertahankan posisinya sebagai kelompok yang tampil di depan di kalangan jihadis.

Para pejabat keamanan juga khawatir, afiliasi-afiliasi IS—yang sering menamai diri “Wilayah” (setingkat provinsi)—mungkin menawarkan tempat yang aman bagi para petempurnya yang melarikan diri dari Irak dan Suriah,

Yang juga diwaspadai adalah sebaliknya; orang-orang yang beralih kesetiaan dari Al-Qaeda ke IS, termasuk anggota-anggota baru yang direkrut bukan dari Al-Qaeda. Ini juga indikator kunci dari ketahanan IS karena kelompok itu berevolusi setelah gagal membangun kekuatan teritorial baru.

Sejauh ini pejabat Barat mengatakan, hanya segelintir pejuang dan kelompok di antara jaringan yang berafiliasi ke IS, yang tampak mempertimbangkan kembali kesetiaan mereka sejak IS meluncurkan serangan besar pertama. “Yang pasti hanya tetesan, bukan banjir,” kata salah seorang pejabat keamanan.

Di antara kelompok yang diawasi ketat oleh para analis adalah Boko Haram, yang muncul sebagai kelompok independen di Nigeria timur laut. Kelompok ini ada sejak enam tahun sebelum berjanji setia kepada IS pada tahun 2015.

Meskipun dikabarkan pecah, kedua faksi utama pecahannya diketahui belum mencabut kesetiaan kepada Abu Bakr Al-Baghdadi, pemimpin IS. Analis mengatakan, kelompok seperti Boko Haram sepertinya tidak terpengaruh secara substansial dalam jangka pendek oleh peristiwa di Timur Tengah.

Al-Qaeda diyakini mencoba untuk memenangkan kembali kesetiaan Adnan Abu Al-Walid Ash-Shahrawi, komandan yang orang-orangnya diperkirakan telah membunuh empat pasukan khusus AS di Niger pada bulan Oktober 2017. IS tidak mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut sehingga—menurut beberapa analis—hal ini menunjukkan bahwa kelompok tersebut (IS) tidak yakin dengan kesetiaan Ash-Shahrawi.

Seorang pejabat Barat mengatakan, beberapa “poin data” menunjukkan bahwa Ash-Shahrawi, yang pernyataan baiatnya kepada IS pada tahun 2015 baru diterima pada 2016, sekarang mengalihkan kesetiaannya kepada Al-Qaeda.

Di Yaman, IS berjuang untuk membangun kembali kelompoknya, di tengah-tengah dominasi Al-Qaeda di sana. Setahun yang lalu, pejabat Amerika Serikat mengatakan, kedua kelompok tersebut bekerja sama di Yaman “pada tingkat taktis, dalam rangka memukul mundur musuh domestik bersama mereka”. Namun, kabar baru-baru ini menyebutkan bahwa faksi-faksi pro-IS telah diserap oleh Al-Qaeda, kata para pengamat.

 

Baca halaman selanjutnya: Program “Rehabilitasi” untuk Mantan Kombatan IS di Suriah