DeIslamisasi dan Pengaburan Sejarah Nusantara

Sejarah menjadi amat penting dalam perjalanan peradaban manusia di tengah masyarakat, sebagai pelajaran hidup yang telah dilalui oleh pendahulunya. Selain untuk mengungkap jati diri suatu bangsa atau peradaban, sejarah juga berfungsi sebagai bahan motivasi dan sekaligus bahan instrospeksi, supaya tidak terjatuh di lubang yang sama, mengulang kesalahan yang sama yang pernah dialami generasi sebelumnya. Karena sejarah pasti akan selalu terulang dengan aktor yang berbeda.

Sejarah umumnya ditulis oleh pemenang dan dengan perspektif pemenang juga tentunya. Demikianlah kenyataan yang berlaku di seluruh dunia. Dan pemenang dalam persaingan sebuah peradaban yang kemudian menjadi penguasa menggantikan peradaban sebelumnya berusaha sekuat tenaga mengecilkan kontribusi lawannya dalam memajukan masyarakat, atau bahkan kalau bisa berusaha menguburnya sehingga peradaban yang dikalahkan tidak akan pernah bangkit kembali dan menjadi ancaman bagi ideologi dan kekuasaan pemenang.

(Baca juga: Imam Bondjol, Seorang ‘Teroris’ di Era Penjajahan Belanda)

Demikian jualah yang terjadi dengan sejarah Indonesia. Penulisan sejarah Indonesia dipelopori oleh para sarjana sejarah berkebangsaan Belanda, negara yang terlibat peperangan selama ratusan tahun hampir di seluruh pelosok Nusantara dengan para penguasa lokal dengan misi penjajahan. Tidak bisa dipungkiri bahwa sejarah yang ditulis Belanda dengan perspektif penjajah berusaha memandang sejarah indonesia dengan sudut pandang penjajah Barat.

Penulisan sejarah Indonesia dipelopori oleh para sarjana sejarah berkebangsaan Belanda, negara yang terlibat peperangan selama ratusan tahun hampir di seluruh pelosok Nusantara dengan para penguasa lokal dengan misi penjajahan. Tidak bisa dipungkiri bahwa sejarah yang ditulis Belanda dengan perspektif penjajah berusaha memandang sejarah indonesia dengan sudut pandang penjajah Barat.

Penulisan sejarah Indonesia berusaha mengecilkan (menyembunyikan) peran Islam dan politik Islam dengan berusaha memunculkan dan membesar-besarkan peran dan kejayaan politik negara-negara sebelum negara Islam berdiri di Nusantara. Hal demikian wajar karena selama ini hampir di semua daerah, penjajah Belanda selalu berhadapan dengan umat Islam ketika berusaha menacapkan kepentingan penjajah. Para ulama dan pemimpin Islam selalu mengumandangkan seruan jihad untuk mempertahankan wilayah dan hak-hak mereka yang berusaha dirampas oleh orang-orang kafir penjajah Belanda.

Mahad Islam di Pekalongan, 10-10-1939, sumber: pinterest via @ahmad_eliaas

Upaya deislamisasi sejarah Islam di Indonesia sengaja dilakukan oleh penjajah Belanda sebagai salah satu upaya untuk mencegah kebangkitan kembali institusi politik yang berdasarkan Islam yang merepotkan bahkan mengancam kepentingan penjajahan. Dengan kenyataan itu para orientalis Belanda memandang Islam sebagai ancaman terhadap keberlangsungan misi penjajahan. Sebagaimana pandangan seorang ahli strategi Belanda, Cristian Snouck Hurgronje yang memandang Islam sebagai faktor penghalang misi penjajahan terutama yang disebutnya sebagai Islam Politiek.

(Baca juga: Perang Aceh, Perang Terlama dan Terberat Bagi Penjajah Belanda)

Oleh karena itu Belanda berusaha sekuat tenaga mengubur sejarah kesuksesan politik Islam dalam mengatur masyarakat Indonesia. Di sisi lain didorong penelitian dan penulisan sejarah kegemilangan peradaban pra-Islam, khususnya kejayaan kerajaan Syiwa-Budha Majapahit. Eksistensi negara Islam berusaha dikaburkan dalam penulisan sejarah Belanda di masa lalu, dan berlanjut di era kemerdekaan.

Upaya deislamisasi sejarah Islam di Indonesia sengaja dilakukan oleh penjajah Belanda sebagai salah satu upaya untuk mencegah kebangkitan kembali institusi politik yang berdasarkan Islam yang merepotkan bahkan mengancam kepentingan penjajahan.

Para penjajah sadar bahwa sejarah menjadi sarana yang efektif untuk mempropagandakan idiologi dan peradaban selain Islam, yang lebih bisa kompromi dengan penjajah. Makan tidak heran bila tulisan-tulisan sarjana Belanda banyak sekali mengangkat sejarah era pra-Islam. Bahkan De Graaf, seorang Sejarawan Belanda menyebut bahwa, terlalu banyak tulisan mengenai sejarah Jawa dan Bali yang diterbitkan dalam bahasa Belanda di abad 20 yang meneliti dan mengulas peradaban pra Islam. Pandangan sejarah ala Barat lebih menonjolkan uraian-uraian ilmiah tentang masa Hindu-Jawa.

(Baca juga: Cara Belanda Menghentikan Perjuangan Rakyat Indonesia: Hentikan Khilafah dan Pemikirannya!)

De Graaf juga mengakui bahwa, selama hampir satu abad telah banyak waktu dan biaya dihabiskan (pemerintah Hindia Belanda) untuk mengadakan penyelidikan kepurbakalaan terhadap bangunan-bangunan kuno pra-Islam, yaitu candi-candi, tetapi penyedikan terhadap bangunan kuno zaman Islam diabaikan.

Dampaknya para peneliti sejarah saat ini kesulitan mencari sumber referensi tulisan sejarah Indonesia kecuali dari tulisan-tulisan sejarawan Belanda. Maka kita dapati bahwa sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah sejak masa penjajah Belanda sampai saat ini selalu menonjolkan kegemilangan peradaban Syiwa-Budha Majapahit dan mengecilkan peran era Islam dalam membangun dan memajukan masyarakat.

Perusakan sejarah yang didukung dengan teori nativisasi (kembali ke aslinya) yang dilakukan oleh penjajah adalah salah satu upaya mereka mencegah kebangkitan kembali institusi politik yang berdasarkan Islam yang bisa mengancam kepentingan dan keberlangsungan penjajahan.

Eksistensi negara Islam berusaha dikaburkan dalam penulisan sejarah Belanda di masa lalu, dan berlanjut di era kemerdekaan. Tegaknya negara yang berdasarkan Islam di Asia Tenggara atau Nusantara adalah sebuah fakta sejarah yang tidak bisa ditutup-tutupi, dan mulai terkuak seiring dengan berjalannya waktu. Kejayaan politik dan peradaban Islam tidak kalah dengan kejayaan peradaban pra Islam yang selalu berusaha dipromosikan oleh Penjajah.

 

 

Rujukan:

Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah, Jilid 1, cet.2, Penerbit Surya Dinasti Bandung 2015

Hamka, Sejarah Umat Islam, Jld. IV, Bulan Bintang, Jakarta, 1981

H.J. De Graaf dan T.H. G. T.H. Pigeaud, Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, Peralihan dari Majapahit ke Mataram, terj. Grafiti press dan KITLY, PT Grafiti pers. Jakarta. 1985

J. De Graaf And Tieodore G. Th. Pigeaud, Islamic States In Java 1500-1700, Springer-Clence Business Media