Intervensi Amerika ke Afghanistan: Kesalahan Konsep

Sudah hampir 18 tahun sejak Amerika Serikat mengintervensi dan menyerang Afghanistan, dan baik Amerika Serikat maupun Afghanistan tidak lebih baik kondisinya.

AS telah kehilangan ribuan nyawa, triliunan dolar, tanpa hasil yang diinginkan. AS terjebak dalam keadaan seperti yang dikatakan sejarawan militer Andrew Bacevich, dalam sebuah “intervensi promiscuous” yang melelahkan di mana komitmen militer baru dilakukan karena otomasi (meneruskan sistem yang sudah ada) daripada strategi, “tanpa menyadari kemungkinan bahwa di beberapa belahan dunia, pasukan AS mungkin tidak lagi dibutuhkan, atau bahkan di tempat lain, kehadiran mereka mungkin merugikan. “

Dengan keterlibatan AS selama 18 tahun ini, Afghanistan tetap terperosok dalam kekacauan, kemiskinan, dan teror. Pada tahun 2014, pemerintah AS telah menghabiskan banyak uang, menyesuaikan inflasi, membiayai rekonstruksi Afghanistan daripada yang dihabiskan di seluruh Marshall Plan untuk membangun kembali Eropa setelah Perang Dunia II. Namun, Afghanistan masih berada di bawah standar ukuran keberhasilan pembangunan manusia: Keamanan rendah; kerentanan ekonomi tinggi; harapan hidup hanya 60 tahun dan krisis pengungsi meningkat.

(Baca artikel penting lainnya: Nilai Strategis Jihad Afghanistan Dalam Membebaskan Palestina)

Lebih dari 100.000 warga Afghanistan diperkirakan tewas dalam perang selama 18 tahun, dan setelah pertumpahan darah itu pengaruh Taliban semakin meningkat. Pada pertengahan 2016, wilayah kelompok tersebut berada pada titik tertinggi sejak 2001. Pejuang Taliban menguasai 15 persen negara tersebut dalam satu tahun.

Pemerintahan Trump berencana untuk mengirim 1.000 tentara AS lagi pada musim semi, sehingga jumlah total militer AS di sana mencapai sekitar 16.000, tidak termasuk sekitar 28.000 kontraktor Amerika di sana. Namun Menteri Pertahanan James Mattis belum menandatangani rencana itu. Dan dia seharusnya tidak melakukannya.

Tambahan 1.000 tentara AS tidak akan bisa “memperbaiki” Afghanistan. Walaupun ditambah 5.000, atau 10.000 atau 20.000 tentara lagi. Pada tahun 2010 dan 2011, adalah puncak intervensi asing di Afghanistan, ada sekitar 140.000 pasukan asing di negara ini, 100.000 di antaranya pasukan Amerika, ditambah 112.000 kontraktor AS. Apa yang bisa dilakukan 1.000 tentara tambahan, sedang yang ratusan ribu saja gagal?

Kenyataan yang sulit bagi Washington karena tidak ada jawaban bagus untuk pertanyaan-pertanyaan ini. Masalah di Afghanistan bukanlah masalah jumlah pasukan. Kebijakan luar negeri AS setengah hati, dan kesalahannya tidak dapat dikoreksi dengan mengacak-acak kendali sampai ada hasil. Ini tidak akan pernah berhasil, karena intervensi ini adalah kesalahan konsep, bukan eksekusi-meskipun eksekusi juga rusak dan boros.

Solusinya bukan mengirim 1.000 orang Amerika lainnya ke dalam bahaya dan memperpanjang perang terpanjang di AS. Mattis sebenarnya bisa membuat terobosan dengan lebih tepat dan lebih bijaksana: Akhiri intervensi. Menolak untuk kebijakan yang tidak efektif tahun-tahun sebelumnya. Mengakui bahwa sebuah gelombang baru tidak akan membawa Afghanistan ke titik perdamaian atau bahkan stabilitas, karena intervensi militer eksternal telah berlangsung selama 18 tahun terbukti tidak mampu memaksakan ketertiban atas kekacauan politik internal Afghanistan.

(Baca juga: Taliban, Si Pengubur Jurus Militer 3 Presiden Amerika)

Kenyataan ini adalah fakta yang mengatakan bahwa intervensi militer Amerika tidak dapat disangkal lagi bukanlah solusi dari kesengsaraan ini, dan berbahaya untuk bersikap seolah-olah sedikit mengutak-atik semua yang AS butuhkan untuk menang.

Mattis masih bisa menggunakan kesempatan untuk memperbaiki keadaan dengan kebijakan yang baik. Jika dia tidak melakukannya – jika dia merasa puas membiarkan Afghanistan tetap menjadi perang selamanya yang terlupakan, terus-menerus mengulang-ulang kegagalan – maka AS akan menemukan diri nya berada di tempat yang sama 18 tahun dari sekarang, masih menuangkan darah dan harta ke dalam lubang yang tidak akan pernah terisi.

 

Sumber: www.washingtonexaminer.com