Ketika Fakta Tentang Afghanistan Ditutup-Tutupi Pentagon

“Musuh tahu distrik mana saja yang mereka kontrol, musuh tahu apa situasinya. Militer Afghanistan tahu apa situasinya. Satu-satunya orang yang tidak tahu apa yang terjadi adalah pembayar pajak Amerika.” -John F. Sopko, pejabat SIGAR (Special Inspector General for Afghanistan Reconstruction)

 

Saat AS mengirim ribuan tentara lagi ke Afghanistan dan membuat serangan udara, sebuah laporan baru dari lembaga pengawasan menunjukkan bahwa perang Afghanistan masih dalam kebuntuan, dengan tanda-tanda kontrol pemerintah Afghanistan yang semakin menurun.

Dan jumlah informasi mendasar yang tersedia untuk publik tentang perang Afghanistan semakin kecil, sehingga lebih sulit bagi pembayar pajak AS untuk memahami bagaimana nasib pasukan yang didukung AS, dalam perjuangan melawan Taliban.

“Informasi yang tertahan selama tiga bulan terakhir ini adalah informasi yang telah kami laporkan tentang kejadian di Afghanistan sejak 10 tahun yang lalu,” kata John F. Sopko, pejabat SIGAR (Special Inspector General for Afghanistan Reconstruction), kepada harian Morning Edition. “Jadi selama 10 tahun, informasi ini adalah untuk memberitahu orang-orang Amerika, para pembayar pajak di Amerika. Tapi untuk beberapa alasan, dua kuartal terakhir … kami tidak dapat melaporkannya kepada orang-orang Amerika,” ujarnya.

Pentagon terus menyimpan fakta-fakta seperti jumlah tentara Afghanistan yang telah tewas dan jumlah pasukan Afghanistan yang telah mendapat pelatihan. Informasi ini juga tidak termasuk dalam laporan kuartal terakhir dari SIGAR, yang didirikan oleh Kongres AS untuk mengaudit pengeluaran negara tersebut dalam perang terpanjang AS tersebut.

Kongres telah memberi wewenang kepada pasukan Afghanistan untuk menerima 4,9 miliar dolar AS pada tahun fiskal ini, dan secara total, telah mengucurkan dana sebesar 120,8 miliar dolar As untuk rekonstruksi Afghanistan sejak tahun 2002.

Laporan tersebut juga tidak memasukkan indikator paling nyata dalam sebuah perang yaitu rincian wilayah distrik dan populasi yang dikendalikan oleh pemerintah Afghanistan dibandingkan dengan pemberontak.

(Baca juga: Pengamat Barat: Taliban Mampu Dengan Cepat Ambil Alih Wilayah Koalisi)

Departemen Pertahanan memberikan sedikit informasi tentang laporan pendendalian wilayah tersebut, yang menunjukkan bahwa kontrol pemerintah Afghanistan sedikit menurun.

“Pada Oktober 2017, sekitar 56% dari 407 distrik di negara tersebut berada di bawah kendali atau pengaruh pemerintah Afghanistan, 30% masih diperebutkan, dan sekitar 14% sekarang berada di bawah kendali atau pengaruh gerilyawan,” kata Kapten Angkatan Laut Tom Gresback, seorang juru bicara militer AS.

Itu berarti kontrol pemerintah Afghanistan turun sekitar 1 persen dibandingkan dengan kuartal terakhir, dan pemberontak mengendalikan atau mempengaruhi sekitar 1 persen lebih banyak.

Gresback menyatakan bahwa SIGAR memberi label informasi ini “salah.” Juru bicara SIGAR Philip LaVelle memberikan screen shot sebuah perintah dari Departemen Pertahanan yang menginstruksikan bahwa informasi tersebut tidak boleh dirilis ke pada publik. Tidak jelas mengapa informasi tersebut tidak dirilis dalam laporan tersebut, SIGAR menyebutnya sebagai “perkembangan yang mengkhawatirkan.”

“Bila Anda menyembunyikan informasi dari orang-orang, saya pikir orang-orang khawatir dan curiga bahwa mungkin ini lebih buruk daripada yang kami laporkan,” kata Sopko.

Dia menambahkan, “Musuh tahu distrik mana saja yang mereka kontrol, musuh tahu apa situasinya. Militer Afghanistan tahu apa situasinya. Satu-satunya orang yang tidak tahu apa yang terjadi adalah pembayar pajak Amerika. “

“Jelas terlihat ada ketegangan saat ini antara SIGAR dan militer AS tentang akses terhadap data,” kata Seth Jones, direktur Transnational Threats Project di lembaga the Center for Strategic & International Studies.

This slideshow requires JavaScript.

Data yang dikumpulkan oleh SIGAR selama dua tahun terakhir menunjukkan penurunan yang lambat dan stabil dalam hal jumlah wilayah di bawah kendali pemerintah Afghanistan. Misalnya, jumlah kabupaten yang dikendalikan atau dipengaruhi oleh pemerintah adalah 16 persen lebih sedikit dari pada bulan November 2015, menurut laporan dan data yang diberikan secara terpisah oleh Pentagon.

Dalam beberapa temuan pentingnya, laporan tersebut menyebutkan sebuah survei di mana separuh responden percaya bahwa rekonsiliasi dengan Taliban adalah sebuah kemungkinan. Selain itu, laporan tersebut juga menyatakan bahwa meskipun AS telah menghabiskan lebih dari 8 miliar dolar AS untuk usaha kontra-narkotika, produksi opium di Afghanistan selalu tinggi.

 

Baca halaman selanjutnya: Poin-poin Penting Laporan SIGAR 30 Januari 2018