Al-Qaeda Mencoba Bangkit Kembali di Tunisia

Terbunuhnya jihadis senior Aljazair oleh pasukan khusus sesaat setelah ia masuk ke Tunisia telah meningkatkan kekhawatiran bahwa Al-Qaeda mencoba untuk bangkit kembali di Afrika Utara. Fenomena ini terlihat setelah the Islamic State (IS) yang menjadi pesaingnya mengalami kemunduran besar. Demikian kata sumber keamanan kepada Reuters (7/2).

Bulan lalu, pasukan khusus Tunisia membunuh Bilal Kobi, pembantu utama Abdul Malik Droukdel, yang lebih dikenal dengan nama Abu Mush’ab Abdul Wadud, pemimpin Al-Qaeda di Maghrib (AQIM), di daerah pegunungan di sepanjang perbatasan Tunisia-Aljazair. Kobi sedang dalam misi nyata untuk menyatukan kembali kelompok pecahan pejuang Al Qaeda di Tunisia, membuat tentara waspada terhadap infiltrasi lebih lanjut, kata seorang sumber keamanan senior Tunisia.

(Baca juga: Al-Qaeda Merehabilitasi Mantan Anggota IS dan Afiliasinya)

AQIM adalah kekuatan jihad yang dominan di Afrika Utara, yang melakukan beberapa serangan mematikan tingkat tinggi sampai tahun 2013, meski menghadapi ancaman perpecahan karena banyak jihadis yang berbondong-bondong ke IS. IS sempat memiliki daya tarik, meski memiliki pandangan yang ekstrem, karena memiliki wilayah kontrol di Irak, Suriah, dan Libia.

IS menjadi kelompok perekrut utama yang menarik kalangan muda yang tidak puas, termasuk dari kalangan pengangguran, terutama dari Tunisia. Negara tersebut dilanda kemiskinan telah menyebar sejak pemberontakan yang menggulingkan Zine El-Abidine ben Ali pada tahun 2011, yang berujung kekacauan yang berkepanjangan.

Namun, pengaruh ajakan IS telah berkurang karena kelompok itu kehilangan hampir semua basis teritorialnya di Libia maupun di Irak dan Suriah. IS mundur setelah terkena serangan balasan dari pasukan keamanan negara-negara. Kemudian banyak pejuang yang kembali ke rumah atau menunggu alasan baru untuk bergabung dengan kelompok jihadis lainnya.

Fenomena ini juga mendorong AQIM untuk mencoba memikat bakat baru dari kalangan veteran IS, sebagaimana keterangan dua sumber keamanan Tunisia mengatakan kepada Reuters. “Al Qaeda ingin meraih keuntungan dari kemunduran Islamic State baru-baru ini untuk reorganisasi dan bangkit kembali. AQIM berusaha untuk melakukan restrukturisasi, terutama di Aljazair, Libia, dan Tunisia, dengan menunjuk para pemimpin lokal baru di lapangan,” kata salah satu sumber keamanan tersebut.

Kobi bukan satu-satunya jihadis senior yang dikirim untuk mengatur kembali Al Qaeda di Tunisia. Hamzah An-Nimr, seorang warga Aljazair yang bergabung dengan Al Qaeda pada tahun 2003, dikirim untuk memimpin sebuah sel di Tunisia, namun gugur bersama Kobi dalam operasi keamanan yang, lanjut sumber keamanan Tunisia.

Dengan dukungan negara-negara Barat, pasukan keamanan Tunisia mengklaim keberhasilan pencegahan serangan besar sejak seorang gerilyawan yang diduga dari IS menembak mati 39 orang asing di pantai Mediterania pada bulan Juni 2015. Sejak saat itu pihak autoritas meningkatkan kewaspadaan.

Pada bulan Desember 2017, Uni Emirat Arab dengan tegas melarang wanita Tunisia yang melakukan penerbangan ke Dubai setelah merasa terancam oleh kalangan Islamis. Tercatat ratusan warga Tunisia bergabung dengan kelompok jihad di luar negeri. Namun, tidak jelas berapa banyak yang telah kembali karena banyak dari mereka yang gugur dalam pertempuran di Suriah dan di tempat lainnya.

AQIM tetap aktif di gurun pasir Afrika Utara dan beberapa kali sempat menguasai wilayah Sahil, seperti di Mali, wilayah di mana kelompok ini memfokuskan aktivitasnya setelah IS muncul di utara, terutama di Libia dan Tunisia.

Cabang AQIM di Tunisia, yang dikenal sebagai Katibah Uqbah bin Nafi’, terbagi menjadi empat kelompok yang berbasis di daerah pegunungan Kasserine dan Kef yang terpencil, di barat laut dekat Aljazair. Struktur komando mereka didominasi oleh orang-orang Aljazair sementara kelompok saingan yang terkait secara longgar dengan IS yang berbasis di wilayah yang sama dijalankan oleh orang-orang Tunisia, menurut sumber keamanan Tunisia.

Kobi, yang duduk di jajaran pemimpin mereka sebelumnya, telah dikirim untuk membawa kelompok yang menyempal dari Al Qaeda agar kembali, menurut sumber keamanan Tunisia. “Uqbah memiliki puluhan pejuang; setiap kelompok terdiri dari 20 teroris,” kata salah satu sumber Tunisia. Lebih lanjut menurutnya, Katibah Uqbah bin Nafi’ telah menargetkan pasukan polisi dan tentara; tidak seperti fokus IS yang membunuh warga sipil, seperti aksi di Pantai Sousse.

Tunisia memantau perbatasan dalam kerja sama yang erat dengan Aljazair, yang membanggakan diri telah melakukan pencegahan serangan apapun sejak seorang komandan veteran AQIM, Mokhtar Belmokhtar, mengklaim serangan di sebuah pabrik gas alam di padang pasir pada tahun 2013.

Ada indikasi pejuang AQIM mencoba menyeberang ke Tunisia karena tentara Aljazair telah menekan AQIM dalam dua pekan terakhir. Delapan mujahidin gugur di timur ibu kota Algiers. Kemudian gugur pula kepala unit media AQIM (Al-Andalus) beberapa hari kemudian.

Kesimpulannya, “AQIM sedang menurun (di Aljazair), tidak dapat merestrukturisasi atau memindahkannya kembali di sini,” kata sumber keamanan Aljazair. Namun, sumber keamanan Tunisia mengatakan bahwa seorang komandan AQIM regional tetap berada di Aljazair Timur untuk membenahi organisasi tersebut di seluruh Afrika Utara; tidak hanya di Tunisia.

 

 

Sumber: www.reuters.com