Menguak Rahasia Strategi Taliban Mengatur Gerakannya

Buku yang berjudul The Legitimization Strategy of The Taliban’s Code of Conduct, Through the One-Way Mirror secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai “Strategi Legitimasi Kode Etik Taliban, Melalui Cermin Satu Arah”. Buku yang ditulis oleh Yoshinobu Nagamine ini diterbitkan oleh   Palgrave Macmillan, New York Amerika Serikat, pada bulan September  2015.

Buku dengan ketebalan sebanyak 293 halaman ini mempunyai ISBN  978-1137537164 untuk versi cetak sampul tebal. Isi buku ini disusun menjadi 8 bab termasuk Bab Pendahuluan dan Bab Kesimpulan. Buku ini juga dilengkapi dengan beberapa lampiran, Daftar Catatan Kaki, Daftar Pustaka, dan Daftar Indeks.

Yoshinobu Nagamine, penulis buku ini, adalah peneliti independen dan saat ini bekerja untuk sebuah organisasi kemanusiaan besar di Jenewa. Sebelumnya dia pernah bekerja di Afghanistan, Republik Demokratik Kongo, Indonesia, dan Pakistan dalam bantuan kemanusiaan dan rekonstruksi.

Nagamine meraih gelar PhD dalam Human Security dari Universitas Tokyo, Jepang, dan MA dalam Hubungan Internasional dari Graduate Institute, Jenewa, Swiss. Pada tahun 2010 ia terpilih sebagai Young Global Leader dari Forum Ekonomi Dunia.

Taliban Afghanistan sering dihakimi bertentangan dengan norma-norma internasional. Namun, sedikit yang mengetahui bahwa mereka telah menghasilkan seperangkat norma mereka sendiri yang dirancang untuk membimbing tingkah laku mereka.

Norma dan prinsip apa yang memandu Taliban Afghanistan dalam melakukan perjuangan mereka? Penulis berfokus pada Layeha, sebuah Kode Etik yang dikeluarkan oleh otoritas tertinggi Taliban. Wawancara dengan anggota Taliban dilakukan untuk memahami persepsi mereka tentang Layeha, yang dimodelkan sebagai ‘cermin satu arah’.

Dalam penelitian mendalam ini, Yoshinobu Nagamine meneliti kode etik Taliban, Layeha. Nagamine menganalisis Layeha dibandingkan dengan Hukum Islam dan hukum kemanusiaan internasional dan melakukan wawancara dengan anggota Taliban untuk memahami bagaimana mereka menafsirkan dan merujuk pada Layeha. Hasil wawancara tersebut memberi pada para pembaca pandangan orang dalam tentang strategi legitimasi pimpinan Taliban.

Karya ini memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penelitian terhadap aktor non-negara, kontra-insurgensi, dan fundamentalisme Islam, dan ini berfungsi sebagai sumber yang sangat diperlukan bagi ilmuwan tentang Taliban Afghanistan.

 

Ulasan Isi Buku Ini

Penulis pada Bab Pendahuluan menjelaskan bahwa tujuan buku ini adalah untuk menguji empat hipotesis berikut menggunakan analisis. Pertama, ia menghipotesiskan fakta bahwa legitimasi adalah pendorong utama terjadinya naik turun gerakan Taliban, dan bahwa kepemimpinan Taliban sadar akan pentingnya legitimasi di atas kekuatan material atau paksaan.

Kedua, buku ini mengasumsikan bahwa pimpinan Taliban bercita-cita untuk memperoleh legitimasi politik dari masyarakat internasional sembari menyadari bahwa kelangsungan hidupnya bergantung pada persepsi legitimasi anggotanya sendiri. Landasan ideologis Taliban didasarkan pada penolakan terhadap sesuatu yang bersifat asing, internasional, atau Barat, dan Taliban tidak dapat memiliki komitmen terbuka terhadap norma-norma internasional.

Hipotesis ketiga adalah bahwa kepemimpinan perlu mengembangkan bahasa normatif dua arah untuk mendamaikan kedua tekanan tersebut: satu untuk konsumsi internasional (Barat) dan yang lainnya untuk menangani audiens internal.

Terakhir, Layeha Taliban mencerminkan strategi legitimasi normatifnya, dan pembandingan Layeha dengan berbagai norma menunjukkan pentingnya kepemimpinan melekat pada audiens masing-masing.

Penelitian ini didasarkan pada asumsi bahwa bagi sebuah kelompok aktor non-negara bersenjata (Armed Non-State Actors, ANSA) seperti Taliban, kekerasan dan pemaksaan tidak efektif kecuali jika digabungkan dengan legitimasi.

Mobilisasi sumber daya manusia, material, dan keuangan oleh ANSA hanya dapat terjadi jika pimpinan dan penyebab pemberontakan yang diproklamirkan dianggap benar dan dibenarkan.

Bagi sebagian orang, marginalisasi ANSA sebagai pelanggar undang-undang negara menempatkan “beban pembenaran yang lebih berat untuk penggunaan kekerasan bersenjata daripada yang secara konvensional dan legal menuntut negara-negara berdaulat.” Dengan kata lain, ANSA harus mengkompensasi status ilegalnya dalam hukum domestik dengan mengajukan legitimasi dari orang-orang yang diusahakannya untuk diadili.

Menurut teori ANSA, ada beberapa cara untuk memperoleh legitimasi, seperti melalui penyediaan materi, demonstrasi kekuasaan, penggunaan kekerasan untuk mendelegitimasi lawan, atau menggambarkan dirinya sebagai pemerintah de facto dengan menawarkan karya publik dan sosial.

Dalam penelitian ini, strategi legitimasi normatif akan disimpulkan melalui Layeha, Kode Etik Taliban, yang pertama kali dikeluarkan pada tahun 2006 diikuti oleh dua edisi yang diperbaharui di tahun 2009 dan 2010. Layeha sangat memudahkan identifikasi norma-norma karena merupakan sebuah enkapsulasi tatanan normatif Taliban dalam bentuk tertulis yang dikodifikasi.

Penggunaan Layeha yang dimaksudkan untuk operasi militer semakin menegaskan ambisi kepemimpinan untuk mengoperasionalkan Layeha. Proses konsultasi yang panjang selama pembicaraan dalam penyusunan Layeha untuk mendapat dukungan dari institusi pendukung.

Selain Layeha, ada beberapa manual perjuangan lainnya, namun panduan-pnduan ini agak taktis (mis., tentang penggunaan senjata) dan tidak sebanding dengan Layeha  dalam hal cakupan, sifat, dan tingkat penggunaannya.

Analisis pertama, Layeha dianalisis dalam hal bentuk dan isinya. Perbandingan edisi berturut-turut Layeha mencerminkan perubahan dalam memprioritaskan isu kebijakan dari waktu ke waktu. Analisis normatif mencoba untuk mengidentifikasi ketentuan yang berkaitan dengan sarana dan metode peperangan dan membandingkannya dengan norma lain yang relevan yang mungkin didukung oleh audiens yang dituju.

Bagi anggota Taliban sendiri, referensi normatifnya adalah Pashtunwali (kode asli masyarakat adat Pashtun) dan hukum Islam, sedangkan untuk khalayak internasional adalah IHL. Diasumsikan bahwa kesesuaian Layeha dengan norma-norma itu diharapkan dapat meningkatkan legitimasi dengan masing-masing audiens yang dituju.

Analisis empiris kedua menanyakan bagaimana Layeha dirasakan dan digunakan oleh anggota Taliban. Wawancara langsung dengan anggota Taliban akan memberi wawasan tentang persepsi kognitif Layeha oleh anggotanya. Penerimaan subyektif terhadap Layeha, dan juga norma yang tercantum di dalamnya, akan menunjukkan tingkat keberhasilan strategi legitimasi internal kepemimpinan Taliban.

Sumber utama yang digunakan dalam penelitian buku ini terdiri atas wawancara, otobiografi, surat kabar, berita internet, materi propaganda Taliban, laporan lapangan, konferensi webcast, dan kabel diplomatik yang telah dideklasifikasi. Dokumen-dokumen penting ini diterjemahkan dari bahasa Dari atau Pashto ke dalam bahasa. Sumber sekunder yang digunakan meliputi monograf, makalah penelitian dan konferensi, artikel web, analisis berita, blog, dan buku teks.

Setelah Bab Pendahuluan menjelaskan tujuan, hipotesis, metode dan sumber penelitian yang digunakan dalam buku ini, secara ringkas bab-bab yang menyusun bagian utama buku ini dijelaskan sebagai berikut.

Bab 2 memberikan penjelasan singkat tentang konteks sosiokultural Afghanistan dan sejarah Afghanistan modern. Fokus ditempatkan pada asal mula gerakan Taliban, diikuti oleh gerakan pemerintahan Taliban dan perlawanannya setelah dikalahkan oleh Aliansi Utara dan Pasukan Koalisi pada tahun 2001.

Bab 3 memperkenalkan Layeha dan memeriksa perannya dalam strategi legitimasi Taliban. Khalayak yang dituju Layeha diidentifikasi dan tiga kemungkinan proses legitimasi dibahas. Latar belakang penyusunan Layeha, serta analisisnya yang berkaitan dengan bentuk dan struktur, membantu mengidentifikasi khalayak yang dituju dan jalur legitimasi.

Bab 4-6 adalah perbandingan normatif antara Layeha dengan Pashtunwali, hukum Islam, dan IHL. Diperkirakan bahwa kepemimpinan Taliban menangani anggotanya melalui hukum Islam dan Pashtunwali, sedangkan referensi normatif masyarakat internasional adalah IHL. Kesamaan dan perbedaan Layeha dengan masing-masing norma itu akan diidentifikasi dan dibahas.

Dalam Bab 7, wawancara langsung dengan anggota Taliban mengenai Layeha memberikan wawasan tentang bagaimana Layeha digunakan secara operasional dan bagaimana legitimasi normatif dirasakan dari dalam. Pada saat yang sama, ini mengungkapkan muatan budaya anggota Taliban, yang membentuk pemahaman kognitif tentang Layeha.

Bab 8 merangkum penelitian sebelumnya dan mencoba untuk menjelaskan dikotomi antara kiasan normatif dan konvergensi aktual dengan masing-masing norma itu. Bab ini menunjukkan bahwa kepemimpinan Taliban perlu menerjemahkan norma-norma internasional ke dalam bahasa anggota Taliban yang dapat diterima secara lokal, yang dikonseptualisasikan dalam bentuk model baru. Bab penutup ini membahas beberapa pilihan kebijakan berdasarkan wawasan bab-bab sebelumnya.

 

 

Baca halaman selanjutnya: Penilaian terhadap buku ini