Muslim Nusantara Inisiasi Khalifah Turki Utsmani Deklarasikan Jihad Melawan Penjajah Eropa

 

Selama pemerintahan Sultan Abdülhamid II (1871 – 1909), Khilafah Utsmaniyah merumuskan kebijakan penyatuan seluruh dunia Islam di bawah naungan Khilafah (sering disebut dengan istilah pan-Islam), yang memposisikan Sultan Utsmani sebagai khalifah dan pemimpin dunia Islam, serta menggalakkan solidaritas Muslim. Salah satu pencetus kebijakan itu adalah permintaan dari bangsa-bangsa Asia Tenggara agar kesultanan Utsmaniyah melakukan intervensi terhadap kehadiran dan ekspansi penjajah Eropa di Asia Tenggara.

Surat berbahasa Arab yang dikirimkan Sultan Mansur Syah dari Aceh kepada Sultan Utsmani Abdul Hamid, tahun 1849

 

Temuan baru dari arsip di Istanbul menunjukkan bahwa sejak awal abad ke-19 ada permintaan perlindungan dari para raja Melayu kepada Khilafah Utsmani dengan mengemukakan berbagai bukti dan argumentasi yang kemudian dipakai dalam kebijakan kekhalifahan Utsmani.

(Baca juga: Cara Belanda Menghentikan Perjuangan Bangsa Indonesia: Hentikan Khilafah dan Pemikirannya!)

Dalam sura-surat dari Kedah (1824), Aceh (1849, 1850), Riau (1857) dan Jambi (1858), sultan Utsmani disebut sebagai sultan, pemimpin Islam dan kaum Muslimin, Khalifah Allah, pemimpin dari mereka yang melancarkan jihad fi sabilillah, penjunjung syariah, dan pelayan dua tempat suci.

Surat berbahasa Arab dari Sultan Taha Saifuddin dari Jambi kepada Sultan Abdul Hamid, 1858, berisi permintaan bantuan menghadapi Belanda.

 

Harapan penyatuan umat Islam yang lebih dari sebelumnya difokuskan pada Turki pada periode ini, sebagai satu-satunya kekuatan Islam yang bisa diandalkan, sebagai pengemban Khilafah, dan juga penguasa Kota Suci Mekkah.

Orang-orang Arab dari Singapura, khususnya yang paling menonjol keluarga Assegaff dan al-Junaid, dan sahabat karib mereka Sultan Abu Bakar dari Johor, tidak hanya melakukan perjalanan ke Timur Tengah dan naik haji ke Mekkah, tapi juga mengunjungi Istanbul.

(Baca juga: Semangat Bangsa Indonesia Memperjuangkan Khilafah Tahun 1924)

Mereka juga bersimpati dengan umat Islam Indonesia, Aceh dan lainnya yang dianggap tertindas oleh Belanda. Tindakan simbolik Turki di Asia, diasumsikan kepentingan yang lebih besar melalui perantaraan orang tersebut, dan rekan-rekan mereka di seluruh Kepulauan Hindia.

 

Baca halaman selanjutnya: Khalifah Khawatir Dengan Kekuasaan Inggris dan Belanda atas Asia Tenggara