Rakyat Afghanistan, Korban Kebiadaban Amerika Atas Nama War on Terror

Salah satu tujuan yang dinyatakan oleh pasukan koalisi yang dipimpin oleh AS untuk menyerang Afghanistan pada tahun 2001 adalah untuk menggulingkan Taliban dari kekuasaannya dan membantu warga Afghanistan membentuk pemerintahan yang demokratis dan stabil. Tujuan utama menyingkirkan kelompok ekstremis  Taliban, adalah untuk mengalahkan terorisme yang dipelopori oleh jaringan Al-Qaeda, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan teroris 9/11. Al-Qaeda dikabarkan memiliki basis di Afghanistan.

Karena fokus utama pasukan koalisi adalah memberangus terorisme, ada baiknya menganalisis tujuan ini setelah menghabiskan waktu 17 tahun, dan mencari tahu kemajuan apa yang telah dicapai dalam mencapai tujuan ini.

Artikel ini akan membicarakan tentang korban jiwa dair rakyat sipil dan pengaruhnya terhadap strategi Afghanistan dan Amerika untuk memenangkan hati dan pikiran rakyat Afghanistan, untuk mengalahkan terorisme. Pentingnya berbicara tentang korban sipil adalah relevan karena kampanye untuk memerangi terorisme terus mengakibatkan bertambahnya korban sipil secara signifikan. Reuters melaporkan bahwa otoritas militer AS mengadakan sebuah penyelidikan tentang sebuah video yang beredar luas di mana seorang tentara Amerika menembaki sebuah truk sipil di Afghanistan.

Kejadian tersebut adalah sebuah ironi, di mana AS adalah mitra pemerintah Afghanistan, yang seharusnya membantu pemerintah mereka untuk melindungi rakyat sipil dan mengalahkan Taliban.

Perang Afghanistan hingga saat ini merupakan perang terpanjang dalam sejarah Amerika, setelah memasuki  tahun ke-17. Dengan pengumuman Presiden Trump bahwa dia akan meningkatkan jumlah pasukan Amerika di Afghanistan, perang akan menjadi berlarut-larut untuk bertahun-tahun yang akan datang. Sepertinya belum terlihat ujungnya.

Untuk membantu kita memahami kemajuan yang dicapai oleh pasukan Amerika dalam mengalahkan Taliban di Afghanistan, Watson Institute dari Brown University telah melakukan studi komprehensif mengenai kampanye tersebut dan menghasilkan sebuah laporan terperinci. Menurut studi tersebut, perang melawan teror belum menghasilkan tujuan yang diinginkan untuk menghilangkan ancaman teroris.

Ketika mantan Presiden AS, George W Bush, meluncurkan “War on Terror”, negara sasarannya hanyalah Afghanistan. Namun kini, setelah 17 tahun berperang di Afghanistan, konflik telah semakin meluas. Bahkan, telah menyebar ke 76 negara, yang setara dengan 39 persen bagian dari planet ini.

Di Afghanistan, apa yang disebut perang melawan teror telah menimbulkan malapetaka. Perang ini telah mengubah seluruh negeri menjadi medan pertempuran dimana pembunuhan, ledakan, dan pemboman telah menjadi makanan sehari-hari.

Serangan udara terus meningkat tanpa ada akhir, menyebabkan kerusakan yang menyakitkan dalam prosesnya. Terlepas dari kampanye militer selama 17 tahun di Amerika, Taliban telah mendapatkan wilayah yang lebih banyak di Afghanistan.

Sekarang, sekitar 43 persen distrik di negara itu berada di bawah kendali Taliban, atau sedang diperebutkan oleh kelompok tersebut. Secara keseluruhan, Taliban mengancam 70 persen wilayah Afghanistan. Sangat menyedihkan, ISIS, yang telah dikalahkan di Suriah dan Irak, justru menyebar cepat di bagian timur Afghanistan.

ISIS merupakan bahaya serius bagi keamanan kelompok minoritas agama di Afghanistan yang menganut sekte Syi’ah. Kelompok ini telah membuktikan rasa pengecut dan kebrutalannya dengan menargetkan tempat ibadah Syiah, dan dengan membunuh sejumlah besar penganut Syiah.

Kelompok ini merupakan ancaman terhadap stabilitas, toleransi beragama dan struktur sosial negara tersebut. Sampai sekarang, belum terlihat adanya strategi yang jelas atau efektif dari pemerintah dalam memberantasnya. Yang lebih mengkhawatirkan adalah menjamurnya lebih banyak kelompok teror di kawasan ini. Menurut sebuah laporan terbaru dari Pentagon ada “lebih dari 20 kelompok teroris atau gerilyawan di Afghanistan dan Pakistan.” Kondisi  ini akan mendorong Afghanistan dan Pakistan ke arah ketidakstabilan dan kekacauan.

Perang melawan teror juga telah merugikan AS. Perang ini sangat berbiaya mahal, dengan anggaran yang telah dihabiskan sebesar 5,6 triliun dolar. Anggaran ini membebani pembayar pajak Amerika dan telah memberi kontribusi pada hutang negara yang telah mencapai 20 triliun dolar. Biaya ini semakin memberatkan untuk saat ini, saat infrastruktur Amerika hancur dan sangat membutuhkan renovasi, ketimpangan kesejahteraan sedang meningkat.

Premi asuransi kesehatan naik, menempatkan kesehatan banyak orang Amerika dalam bahaya. Pendapatan negara stagnan dan setiap tahun fiskal selalu mengalami defisit anggaran. Sehubungan dengan perkembangan ini, biaya untuk apa yang disebut sebagai perang melawan teror tampaknya tidak masuk akal dan boros. Uang yang dihabiskan untuk perang melawan teror yang gagal bisa digunakan untuk memperbaiki taraf hidup orang Amerika dengan menjaga kualitas pendidikan, kesehatan dan pekerjaan mereka.

Secara militer, perang juga mahal biayanya. Tentara yang kembali dari medan perang tersebut mengalami masalah mental dan psikologis seperti gangguan stres pascatrauma (PTSD). Kondisi kesehatan mental ini, yang dipicu oleh pengalaman perang yang mengerikan, telah menjadi tantangan besar bagi keluarga para veteran yang mengidap PTSD dan untuk Kementerian Urusan Veteran. Bahkan, Kementerian Urusan Veteran ini cukup berantakan. Birokrasinya tidak efektif dan menjadi tempat yang paling tidak menarik untuk bekerja.

Departemen ini tidak hanya harus mengatasi banjir pasien yang mencari pengobatan dan kadang meninggal karena lama menunggu, tapi juga harus menghadapi 20 kasus bunuh diri per hari di antara para veteran.

 

Baca halaman selanjutnya: Tragedi Korban Rakyat Sipil