National Socialist Underground; Wajah Teroris Sayap Kanan Abad 21

 

Jika pikiran Anda langsung tertuju ke-Islam setelah membaca kata “Teroris”, mungkin buku ini layak dibaca. Makna teroris dalam buku ini tidak ada sangkut pautnya dengan Islam. Buku tulisan Daniel Koehler tentang terorisme dan kekerasan ekstremis ini menawarkan sintesis pengetahuan ilmiah dan juga contoh nyata yang luar biasa tentang jalan masuk dan keluar dari ekstremisme kekerasan.

Dalam buku Right-Wing Terrorism in the 21st Century ini, Koehler membawakan cerita tentang salah satu kasus terorisme yang paling merusak pada seperempat abad yang lalu, melalui analisis dokumen milik pemerintah Jerman, putusan pengadilan, laporan pers dan database terorisme.

Kegiatan teroris National Socialist Underground (NSU) berlangsung lebih dari satu dekade. Selama masa tersebut, mereka melakukan sepuluh pembunuhan, tiga pemboman dan empat belas perampokan bank antara tahun 1998 dan 2011. Koehler menggunakan contoh kasus NSU dan kasus terorisme sayap kanan di Jerman sebagai titik fokus. Ia juga menggunakan kasus NSU di Jerman dalam analisis yang lebih luas tentang terorisme sayap kanan pasca Perang Dunia II di seluruh Eropa dan Amerika Utara.

Setelah membaca  secara menyeluruh tentang tinjauan akademis mengenai terorisme sayap kanan di bagian pertama buku ini, Koehler menulis Bab 3 dengan mendefinisikan istilah “terorisme sayap kanan.” Dia berpendapat bahwa aktivitas terorisme sayap kanan perlu dianggap terpisah dari kategori yang lebih luas seperti “kejahatan kebencian” atau “kekerasan sayap kanan,” yang mungkin tidak memiliki dasar politik dan ideologis yang memotivasi terorisme sayap kanan.

Puncak dari bagian ini adalah analisis Koehler mengenai peran yang dimainkan ideologi kekerasan dalam strategi komunikasi, taktik, dan aktivitas teroris sayap kanan. Kekerasan, menurut Koehler, adalah “tidak hanya sarana untuk mencapai tujuan politik tertentu, tetapi juga inti atau esensi” dari terorisme sayap kanan (halaman 55). Inti dari ideologi sayap kanan adalah ritualisasi kekerasan, batasan yang jelas antara ‘kita’ dan ‘mereka,’ antara musuh dan teman, dan tujuan militeristik untuk menindas kelompok etnis dan ras yang lebih lemah dan inferior untuk menyucikan bangsa. Koehler berpendapat bahwa ideologi ini “tidak dapat dipahami, atau dipisahkan dari kekerasan dalam bentuk apapun” (hal 56).

Pada paruh kedua bab ini, Koehler menciptakan tipologi aktivitas kriminal sayap kanan, mulai dari kejahatan non-politik, kejahatan kebencian, kekerasan sayap kanan dan terorisme sayap kanan. Kategori terakhir ini, yang merupakan fokus dari buku ini, didefinisikan oleh Koehler sebagai “bentuk lebih lanjut dari kekerasan atas dasar kebencian” (hal 63). Dalam kesimpulan bab ini, Koehler secara eksplisit menyebut persamaan antara terorisme sayap kanan dan bentuk terorisme lainnya.

Dalam Bab 4 dan 5, Koehler menindaklanjuti teori definitif yang disebutkan di bab pertama buku ini. Ia menuliskan analisis rinci tentang terorisme sayap kanan di Jerman, dengan fokus pada kasus NSU sekaligus mememberi tambahan berupa analisis di dalamnya tentang konteks kekerasan sayap kanan yang jauh lebih luas di Jerman pasca Perang Dunia II. Kedua bagian ini mungkin merupakan bagian terpenting dari buku ini dari perspektif ilmiah, karena kedua bab ini mengisi celah yang ada dalam literatur berbahasa Inggris tentang terorisme sayap kanan Jerman dan dengan demikian memberikan kontribusi penting terhadap diskursus global dan komparatif mengenai terorisme dan ekstremisme.

Bab 6 diisi oleh Koehler dengan analisis agen intelijen dan kepolisian, menyelidiki pertanyaan yang sering diajukan tentang bagaimana NSU bisa lolos dari deteksi begitu lama. Koehler menceritakan kisah sejarah kegagalan intelijen militer, intelijen domestik dan agen kepolisian kriminal federal dan negara bagian, yang pada akhirnya membantah argumen bahwa keberhasilan NSU untuk lolos dari deteksi sebagian disebabkan oleh tata organisasi yang buruk dan kurangnya komunikasi dan koordinasi di seluruh lembaga polisi dan militer.

Pihak berwenang meremehkan kemampuan kelompok sayap kanan untuk melakukan kekerasan dan terorisme, yang menyebabkan mereka secara konsisten dikaitkan dengan pembunuhan imigran, misalnya, terkait dengan pertengkaran dalam komunitas imigran. Karena penelitian tentang kelompok sayap kanan terutama berfokus pada partai politik formal, narapidana di penjara, atau subkultur pemuda seperti kelompok skinhead, Koehler berpendapat, paradigma kebijakan dan intervensi Jerman cenderung melihat kekerasan yang dilakukan oleh kelompok sayap kanan hanya melalui lensa ini dan bukan sebagai sesuatu yang dapat diorganisasikan dan direncanakan secara strategis.

Satu kelemahan tentang buku ini, adalah pada poin terakhir, salah satu kritik paling tajam tentang penelitian dan pembuatan kebijakan ekstremisme sayap kanan dan kekerasan tidak disorot secara lebih mendalam. Hal ini menunjukkan bahwa penelitian yang ada selama ini telah menyebabkan munculnya blind spot tidak hanya pada ranah keilmuan, tetapi juga pada paradigma yang dimiliki oleh intelijen dan polisi tentang potensi kekerasan, terorisme atau ekstremis dari kelompok tertentu adalah ide pokokyang harus disorot lebih banyak lagi.

Di Bab 6, Koehler memperkenalkan konseling keluarga sebagai contoh khusus deradikalisasi. Koehler menyoroti program inovatif dari Prancis, Jerman, Belanda, Denmark dan tempat lain untuk menunjukkan bagaimana kemitraan berbasis masyarakat dan publik antara agen polisi setempat, pekerja sosial, pendidik dan keluarga bekerja untuk mencegah radikalisasi kekerasan dan merehabilitasi orang-orang yang insaf. Koehler menunjukkan peran penting kepercayaan terhadap keberhasilan kemitraan ini dan menunjukkan bagaimana program konseling keluarga bekerja dalam jaringan pemerintahan, sekolah, organisasi keagamaan, dan agen pemuda yang lebih luas, yang pada akhirnya menyimpulkan bahwa model ini adalah “pendekatan yang sangat menjanjikan dan inovatif untuk mengatasi masalah proses radikalisasi yang mengarah pada kekerasan dan terorisme “(hal 158).

Bab 7 dalam buku ini membahas pertanyaan paling sentral yang diajukan terhadap program “intervensi”: apakah berhasil? Koehler menganalisis standar, rancangan program, dan evaluasi di seluruh program dalam upaya mencari praktik terbaik untuk mengukur dampakyang ditimbulkan. Koehler menolak pendekatan ‘satu ukuran untuk semua’ yang menggeneralisasi obyek deradikalisasi menggunakan satu pendekatan yang sama. Koehler berpendapat bahwa perlu untuk menetapkan metode yang jelas untuk mengevaluasi keefektifan program deradikalisasi dan rehabilitasi.

Bab ini membuat satu lompatan untuk menganalisis berbagai pendekatan yang ada dan merupakan titik awal yang penting untuk membuka percakapan seputar standar dan metode untuk evaluasi. Praktisi dan pembuat kebijakan akan melakukannya dengan baik untuk menghabiskan waktu yang dibutuhkan untuk membaca mendalam. Ini juga terjadi pada Bab 9, ketika Koehler beralih ke topik tentang alat dan metode untuk melakukan deradikalisasi, dengan fokus pada identifikasi alat standar yang digunakan di lapangan. Meskipun masih terintegrasi dengan jenis analisis akademis yang membuat buku ini benar-benar merupakan integrasi antara karya ilmiah dan terapan, bab ini adalah yang paling jelas dan paling mudah diakses bagi para praktisi, yang menawarkan deskripsi kritis tentang strategi intervensi seperti peran mantan ekstremis, pendampingan, kreativitas seni, pelatihan kejuruan, olahraga, dan konseling psikologis.

Bab 8 dalam buku ini berisi deskripsi metrik teroris sayap kanan dan aktor teroris sayap kanan Jerman selama lima puluh tahun terakhir. Dalam kesimpulannya, Koehler dengan tepat merangkum keseluruhan argumen dan pelajaran yang dipetik serta petunjuk untuk penelitian selanjutnya. Buku Right-Wing Terrorism in the 21st Century merupakan bacaan penting bagi akademisi di bidang terorisme dan kekerasan dan akan menjadi sumber utama bagi para pembuat kebijakan, analis pemerintah dan pakar hubungan internasional.

Ketika pemerintah AS sedang mencari formula terbaik untuk merumuskan sebuah perubahan besar dalam strategi melawan kekerasan-ekstremisme (CVE) yang berfokus hanya pada ekstremisme Islam, analisis deradikalisasi Koehler, yang mengintegrasikan contoh kerja praktisi melintasi spektrum kekerasan ekstremis, adalah sebuah intervensi kritis dalam literatur. Bersama dengan buku pendampingnya tentang ekstremisme sayap kanan, sepasang buku ini memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap beasiswa global mengenai keterlibatan ekstremisme, radikalisasi dan deradikalisasi. Bagi para ilmuwan, praktisi, dan pembuat kebijakan yang bekerja untuk terorisme, kekerasan pemuda, radikalisasi atau deradikalisasi, buku ini harus dibaca.
REVIEW BUKU

JUDUL : Right-wing Terrorism in the 21st Century: The National Socialist Underground and the history of terror from the far right in Germany

PENULIS:  Daniel Koehler

PENERBIT: Routledge

TAHUN TERBIT: 2017

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *