Tahun 2018 Amerika Anggarkan 45 Miliar Dollar Hanya Untuk Perang Afghanistan

Pejabat tinggi Departemen Pertahanan AS pada hari Selasa mengatakan kepada anggota parlemen Senat bahwa perang di Afghanistan akan menelan biaya $ 45 miliar tahun ini (setara 600 Triliun rupiah). Biaya ini hanya untuk perang Afghanistan saja.

Randall Schriver, asisten sekretaris pertahanan untuk urusan keamanan Asia dan Pasifik, mengatakan bahwa angka tersebut mencakup sekitar $ 13 miliar untuk pasukan AS di negara Afghanistan, $ 5 miliar untuk pasukan Afghanistan, $ 780 juta untuk bantuan ekonomi dan sisanya untuk dukungan logistik.

Schriver berbicara di depan Komite Hubungan Luar Negeri Senat dalam sidang pertamanya mengenai perang Afghanistan sejak mengumumkan strategi baru Afghanistan enam bulan yang lalu. Pejabat Pentagon tidak dapat memberikan perkiraan biaya untuk strategi baru tersebut. (Baca ulasan terkait: Taliban, Si Pengubur Jurus Militer 3 Presiden Amerika)

Anggota parlemen mengkritisi biaya 2018 dan mempertanyakan apakah rencana pemerintah akan memaksa Taliban ke meja perundingan damai dan mengakhiri perang, yang sudah berlangsung selama 17 tahun tersebut.

Trump sendiri tampaknya mulai mempertimbangkan prinsipnya yang ia lontarkan sebulan lalu tentang menolak kemungkinan negosiasi dengan kelompok Taliban.

“Jadi, tidak ada yang berbicara dengan Taliban. Kami tidak ingin berbicara dengan Taliban. Kami akan menyelesaikan apa yang harus kami selesaikan,” kata Trump, beberapa hari setelah Taliban mengaku bertanggung jawab atas pemboman mobil yang menewaskan sekitar 100 orang di Kabul. (Baca artikel terkait: Pernyataan Taliban Mentahkan Tuduhan Serangan Sasar Sipil)

Trump pada bulan Agustus mengumumkan bahwa dia akan mengirim lebih banyak tentara AS ke Afghanistan dalam sebuah strategi baru untuk melatih, membantu dan memberi saran kepada lebih banyak tentara Afghanistan. Rencana tersebut tidak memiliki tanggal akhir dan telah meningkatkan jumlah pasukan di negara ini dari 8.400 menjadi 14.000 orang. (Baca artikel terkait: Membaca Strategi Taliban Membekuk Pasukan Tambahan Amerika)

Senator Rand Paul (R-Ky.) mengeluh bahwa miliaran biaya yang dikeluarkan hanya terbuang sia-sia di kantong pejabat Afghanistan dan orang-orang Afghanistan tampaknya masih tidak dapat membela diri mereka sendiri.

“Saya pikir aperlu alasan yang memperkuat kebijakan tersebut, karena sebenarnya keamanan nasional kita sebenarnya terancam dan semakin menjadi bila kita lebih lama tinggal di sana. … Kami berada dalam situasi yang tidak mungkin,” kata Paul. “Saya rasa tidak ada solusi militer.”

Senator Jeff Merkley (D-Ore.)  mempertanyakan mengapa Taliban menginginkan sebuah penyelesaian politik karena mereka sekarang menguasai lebih banyak wilayah daripada tahun 2001 ketika Amerika Serikat menyerang negara tersebut setelah serangan 9/11.

Tapi ketua panitia, Sen Bob Corker mengatakan bahwa strategi pemerintah “lebih baik” daripada pemerintahan Obama, karena tidak dibatasi oleh jadwal dan tekanan Pakistan untuk mengakhiri dukungan bagi kelompok teroris Afghanistan.

Wakil Sekretaris Negara John Sullivan, yang berbicara bersama Schriver, membela strateginya.

“Saya pikir kebijakan kami mengakui bahwa tidak ada solusi militer atau solusi lengkap,” kata Sullivan.

“Saya mengerti ini adalah perang terpanjang di Amerika, tapi kepentingan keamanan kita di Afghanistan, di wilayah ini cukup signifikan … untuk mendukung pemerintah Afghanistan dalam perjuangan mereka melawan Taliban,” kata Sullivan. (Baca artikel terkait: Setelah 16 Tahun Gagal, Inilah 6 Skenario AS Akhiri Perang Afghanistan)

Baik Sullivan maupun Schriver tidak dapat memberikan perkiraan berapa banyak gerilyawan Taliban yang berperang di Afghanistan. “Saya tidak yakin bisa memberi tahu Anda jumlah gerilayawan Taliban yang sangat saya percayai,” kata Schriver.

NBC News pekan lalu melaporkan bahwa sebanyak 60.000 pejuang Taliban berada di Afghanistan.

“Saya akan mengatakan sekitar 60 persen dari negara ini dikendalikan oleh pemerintah, sebagian kecil dari itu diperebutkan dan sekitar 10 atau 15 persen kemungkinan dikendalikan oleh Taliban,” Direktur Staf Gabungan Letnan Jenderal Kenneth McKenzie mengatakan kepada wartawan di Pentagon.

“Saya pikir kita bisa mengejar angka dan mengatakan itu 9.000 atau 15.000 sepanjang hari tapi saya rasa ini bukan metrik yang sangat berguna,” kata McKenzie.

 

Sumber: thehill.com

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *