Teroris, atau Justru Pahlawan?

Hari itu, pada tahun 1928, seorang pemuda Indonesia yang kuliah di Belanda, yang kelak menjadi wakil presiden pertama Indonesia, berpidato. Tema yang ia sampaikan adalah tentang kemerdekaan Indonesia. Free Indonesia, begitu judul pidatonya.

Dalam sambutannya, Muhammad Hatta mengkritik kebijakan kolonial Belanda yang memaksa rakyat Indonesia untuk mempelajari tokoh-tokoh legenda Eropa. Mereka dipaksa untuk mengagumi William Tell, Giuseppe Mazzini, Giuseppe Garibaldi, William of Orange, dan semacamnya. Mereka tidak pernah kenal, dan entah apa jasa mereka bagi rakyat Indonesia. Tidak berhenti di situ, pada saat yang sama, Belanda juga memaksa para pemuda Indonesia untuk membenci para pahlawannya yang menentang penjajahan mereka.

“So too must Indonesian youth parrot its masters and call its own heroes, like Dipo Negoro, Toeankoe Imam, Tengkoe Oemar and many others, rebels, insurgents, scoundrels,and so on”

“Pemuda juga Indonesia harus membebek pada tuannya dan menjuluki pahlawan mereka sendiri, seperti Diponegoro, Imam Bondjol, Tengku Oemar dan banyak lainnya, sebagai pengacau, pemberontak, scoundrels, dan sebagainya”, tulisnya.

Apa itu scoundrel? Dalam terjemahan buku Muhammad Hatta pada tahun 1972 kata scoundrels diterjemahkan dengan kata ‘teroris’—terjemahan tersebut mungkin tidak digunakan lagi hari ini.

Iya, teroris. Belanda memaksa pemuda Indonesia untuk melabeli para pejuang, para pahlawan yang mempertaruhkan harta dan nyawa mereka untuk kemerdekaan dengan sebutan teroris.

(Baca juga: Imam Bondjol, Seorang ‘Teroris’ di Era Penjajahan Belanda)

Dalam sebuah dokumen CIA tahun 1948, Belanda menarasikan bahwa misi mereka di Indonesia adalah untuk “menegakkan perdamaian dan keamanan”, dengan tujuan untuk “mengeliminir teroris dan elemen-elemen yang tidak bertanggungjawab”. Tentu saja, label dan tuduhan tersebut dialamatkan kepada para pejuang kemerdekaan Indonesia. Selain teroris, dalam dokumen yang sama, label lain yang diberikan adalah ekstremis.

Belanda mencoba membangun narasi bahwa kebaikan bersama mereka, dan sebaliknya, pihak-pihak yang melawan mereka adalah para pembuat kekacauan, representasi dari keburukan, dan layak untuk dibasmi.

Dokumen CIA tahun 1948 tentang aksi militer Belanda di Indonesia

 

Politik labelisasi umum digunakan oleh penjajah Eropa dalam misi kolonialisme mereka. Dan Belanda tidak ketinggalan. Memberi label teroris lebih memberi kenyamanan saat mereka melakukan kekerasan, sekejam apapun, kepada pihak yang dituduh teroris.

Terorisme adalah istilah yang berbahaya, karena orang cenderung menyalahgunakannya dengan menyematkannya pada pihak yang mereka benci, sebagai cara untuk menghindari pemikiran dan diskusi rasional, dan sebagai pembenar atas tindakan ilegal dan tak bermoral yang mereka lakukan sendiri.

“Teroris” adalah politik labelisasi. Arti dan maknanya sangat tergantung konteks dan niat yang melabelkannya. Begitu juga istilah “ekstremis”. PBB sendiri sampai sekarang kesulitan untuk mendefinisikannya. Kesulitan itu tercermin dalam sebuah ungkapan, “teroris bagi satu pihak adalah pejuang kemerdekaan bagi pihak yang lain.”

“Teroris” adalah politik labelisasi. Arti dan maknanya sangat tergantung konteks dan niat yang melabelkannya.

Kata ‘teroris’ tak lebih dari sekadar label yang dicapkan atas orang yang menggunakan kekerasan—yang seringkali dilakukan sebagai langkah terakhir—untuk menggapai tujuan yang tidak dikehendaki oleh pihak lain. Label ini, pada akhirnya, seringkali terhapus oleh perspektif sejarah. Dengan kata lain, bukan tindakan kekerasan yang mendefinisikan terorisme, tapi penolakan pihak lain untuk menerima legitimasi atas tindakan tersebut dan tujuan yang ingin mereka capailah yang seringkali mendefinisikannya.

Mungkin para pejuang kemerdekaan tersebut seperti Batman bagi kota Gotham dalam film the Dark Night, seorang laki-laki yang bersiap untuk melawan hukum, melakukan kekerasan, demi kebaikan yang lebih besar.

Bagi orang Indonesia, Diponegoro, Imam Bondjol, Tengku Oemar adalah pahlawan, meski bagi Belanda mereka adalah teroris dan ekstremis.

Metamorfosa dari “teroris” menjadi “pahlawan” membuat kita harus memikirkan kembali kata “teroris”, bertanya tentang motif orang-orang yang melabelkannya, dan bahkan bertanya mengapa mereka yang kepadanya label teroris disematkan terpaksa menggunakan taktik tersebut.

Sebagaimana kecantikan, terorisme tergantung mata yang melihat.

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *