Saran Snouck kepada Hindia Belanda: Eksekusi Para Ulama! (Bag. 2)

 

Artikel berikut merupakan bagian kedua dari tulisan sebelumnya yang menjelaskan tentang biografi singkat Snouck dan tugasnya sebagai mata-mata Belanda.

Snouck, Mata-Mata Belanda yang Merusak Islam

Snouck juga pernah meminta kepada pemerintah Belanda untuk dikirim ke Indonesia sebagai mata-mata untuk Belanda: “Menanggapi diskusi saya dengan Yang Mulia, saya ingin mengulangi permintaan yang telah saya sampaikan sebelumnya melalui surat , yaitu agar saya dikirim ke Aceh … “. Pemerintah Belanda menyetujui permintaannya. Snouck dikirim ke Indonesia sebagai agen mereka.

Snouck mengatakan bahwa dia ingin memusatkan tugasnya di Aceh: “Sebelum berangkat ke Indonesia […] Saya menjelaskan kepada menteri bahwa sejauh menyangkut kepentingan politik Islam, Aceh sangat penting dalam penelitian saya.”

(Baca juga: Perang Aceh, Perang Terlama dan Terberat bagi Penjajah Belanda)

Ketika Snouck berangkat ke Indonesia, rencana awalnya adalah melakukan perjalanan dengan menyamar ke daerah pedalaman Aceh, untuk mendekati Sultan Aceh di Keumala dan mengumpulkan data intelijen yang akan bermanfaat bagi tentara Belanda. Namun, tentara Belanda tidak ingin bantuan Snouck. Karenanya, gubernur Belanda untuk Indonesia mengirim Snouck ke Batavia. Di sana ia tiba pada tanggal 11 Mei 1889. Kebanyakan Muslim Indonesia tidak menyadari maksud Snouck yang sebenarnya.

Teman-teman Indonesia Snouck di Mekah telah memberi tahu orang-orang sebangsanya tentang kedatangan Snouck. Mereka memperkenalkan Snouck sebagai seorang sarjana Muslim terpelajar. Oleh karena itu, Snouck menerima banyak undangan dari orang-orang Indonesia setempat, di mana dia secara reguler dipanggil dengan nama “Al Hajj Abdul Ghaffaar”, “Mufti” dan bahkan sebagai “Syaikhul Islam Batavia”.

Selama perjalanannya di Indonesia, Snouck tidak hanya mencatat segala macam informasi tentang masyarakat setempat. Ia juga berusaha keras meningkatkan statusnya di kalangan penduduk lokal. Untuk tujuan tersebut, ia biasa mengunjungi semua tokoh terkemuka di satu daerah.

Dan ketika di satu daerah ia diberi kesempatan untuk menikahi putri salah satu tokoh terkemuka, dengan senang hati ia menerimanya. Dia menikahi puteri berusia 17 tahun dari kepala-penghulu Ciamis, Raden Hadji Mohammed Ta’ib. Namanya Sangkana.

Ia sendiri tidak ingin menikahi Snouck, yang jauh lebih tua darinya dan tidak terlalu tampan. Tapi orang tuanya mendesaknya untuk menikahi “ulama besar” untuk meningkatkan status keluarga. Dengan alasan tersebut,  Sangkana menerimanya.

Snouck menikahi Sangkana menurut praktik Islam. Namun, menurut hukum Belanda, orang Eropa tidak diperbolehkan menikahi wanita pribumi. Oleh karena itu, begitu media Belanda mulai memberitakan rumor bahwa Snouck telah menikahi seorang wanita pribumi, Snouck mengirim surat ke surat kabar tersebut untuk menyangkal bahwa dia telah menikah.

Jamaah haji dari Martapura, Kalimantan, foto diambil oleh Snouck Hurgronje saat di Jeddah

 

Baca halaman selanjutnya: Saran Snouck Untuk Belanda: Bunuh Para Ulama, Karena Mereka yang Menggerakkan Ummat!

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *