Snouck, Mata-Mata Belanda untuk Merusak Islam (Bag. 1)

 

Foto Christiaan Snouck Hurgronje dan kawan-kawannya, Koleksi Khusus Perpustakaan Universitas Leiden

 

Meski sudah meninggal lebih dari setengah abad, Christiaan Snouck Hurgronje tetap menjadi tokoh yang sangat kontroversial di dunia Barat dan dunia Islam.

Pada masanya ia adalah seorang orientalis terkenal di dunia. Ia telah melakukan perjalanan ke Mekah, mempelajari dan mendokumentasikan kehidupan Muslim di sana. Selama bertahun-tahun ia tinggal dan bekerja di tengah orang-orang Muslim di Indonesia, membuatnya menjadi ahli dalam tradisi, bahasa dan agama dari berbagai suku di Indonesia.

Kepada rakyat dan pemerintah di Barat dia selalu menampilkan dirinya sebagai ilmuwan. Dan sebagai ilmuwan ia menasehati berbagai pemerintahan Barat mengenai “urusan kaum Muslimin”. Pada saat yang sama dia menampilkan dirinya sebagai seorang Muslim yang tulus—bukan sebagai ilmuwan—kepada orang-orang di dunia Muslim tempat dia tinggal dan belajar. Kepada mereka, ia memperkenalkan diri dengan nama “Abdul Ghaffaar”. Sebagai seorang cendekiawan Islam, dia bahkan menasihati kaum Muslimin mengenai urusan agama dan politik.

Karena ia memainkan peran ganda sepanjang hidupnya, hari ini, baik di Barat maupun di dunia Muslim, dia sangat dihormati oleh beberapa orang, namun dibenci di sebagian yang lain. Artikel ini bermaksud untuk mengemukakan fakta tentang Christiaan Snouck Hurgronje.

(Baca juga: DeIslamisasi dan Pengaburan Sejarah Nusantara)

Siapakah Snouck Hurgronje?

Christiaan Snouck Hurgronje lahir pada tanggal 8 Februari 1857 di kota Oosterhout Belanda. Ayahnya adalah Jacob Julianus Snouck Hurgronje (1812 – 1870), seorang pengkhotbah di gereja Protestan. Jacob sempat diusir dari gereja karena berselingkuh dengan Anna Maria de Visser (1819 – 1892) saat menikah dengan Adriana Magdalena van Adrichem (1813 – 1854). Setelah Adriana meninggal, Jacob akhirnya menikahi Anna Maria dan dia diizinkan kembali ke gereja. Dari pernikahannya dengan Anna Maria, lahirlah Christiaan.

Ibu Christiaan Snouck Hurgronje, Anna Maria, juga berasal dari keluarga pengkhotbah Protestan. Jan Scharp (1756 – 1828) adalah kakek Anna Maria. Dia adalah seorang pengkhotbah terkenal di tenggara Belanda. Ia juga seorang misionaris. Untuk mendukung kegiatan misionaris gereja Protestan Belanda Scharp pernah menulis sebuah buku tentang Islam pada tahun 1824.

Setelah menyelesaikan sekolah menengah di kota Breda, pada tahun 1874, Christiaan Snouck Hurgronje pindah ke Leiden untuk belajar teologi. Ia ingin menjadi seorang pengkhotbah di gereja Protestan, mengikuti ayah dan kakeknya. Pada tahun 1878 ia menyelesaikan pendidikan universitasnya dalam bidang teologi, namun saat itu dia tidak lagi percaya pada dogma kekristenan. Ia memulai sebuah studi bahasa Semit, yang mengkhususkan diri dalam bahasa Arab dan Islam. Untuk doktoralnya, ia melakukan penelitian tentang haji kaum muslimin.

Snouck pergi ke Jerman untuk belajar secara pribadi dengan orientalis paling terkenal di dunia saat itu, Theodoor Nöldeke. Setelah itu, Snouck memulai karirnya sendiri di dunia Orientalisme.

Snouck adalah teman dekat orientalis terkenal lainnya pada masanya, Ignac Goldziher (1850 – 1921). Goldziher adalah seorang Hongaria keturunan Yahudi yang juga pernah belajar di Leiden. Pada tahun 1873 Goldziher diberi beasiswa oleh pemerintah Hungaria untuk melakukan perjalanan ke Syam (sekarang Palestina, Suriah, Lebanon dan Yordania) dan Mesir.

Perjalanan tersebut membuat Goldziher menjadi orang non-Muslim pertama yang belajar Islam di Al Azhar, Kairo. Goldziher akhirnya menulis sebuah buku tentang pengalamannya, yang membuatnya menjadi orientalis terkenal di dunia. Snouck berambisi untuk mencapai posisi yang sama di bidang Orientalisme.

Snouck saat di Jeddah, bertugas untuk mematai-matai dan mencatat aktivitas haji terutama dari Indonesia

 

Snouck Hurgronje sebagai Penasihat Politik

Snouck hidup pada masa kolonialisme. Belanda adalah penguasa kolonial atas Indonesia, dan oleh karena itu surat kabar Belanda secara teratur melaporkan kejadian di Hindia Belanda. Surat kabar Belanda secara teratur memuat pendapat yang membahas masalah yang dihadapi Belanda di koloni mereka, dan mengusulkan solusi atas masalah tersebut.

Masalah utama bagi Belanda di Indonesia adalah perlawanan masyarakat setempat terhadap pemerintahan Hindia Belanda. Sebagian besar perlawanan tersebut terinspirasi oleh Islam. Banyak orang Indonesia bertempur karena mereka melihat diri mereka sebagai warga Khilafah yang tanahnya telah diduduki oleh orang asing. Kasus semacam ini terjadi terutama di Aceh. Akibatnya, Belanda mendapati dirinya mengalami kebuntuan dalam waktu lama, dalam sebuah perang panjang dan melelahkan, dengan biaya yang sangat mahal.

Masalah utama bagi Belanda di Indonesia adalah perlawanan masyarakat setempat terhadap pemerintahan Hindia Belanda. Sebagian besar perlawanan tersebut terinspirasi oleh Islam.

Snouck menyadari, bahwa ia memiliki kemampuan untuk memainkan peran penting dalam masalah ini. Sejak awal karirnya sebagai seorang orientalis ia melakukan yang terbaik untuk memainkan peran ini. Misalnya dalam buku yang ia tulis untuk disertasinya, “Perayaan Mekah (De Mekkaansche feesten)”, dia menulis saran untuk pemerintah Belanda:

“Jika di Hindia Belanda ada jamaah haji yang memberikan pengaruh buruk terhadap orang lokal [Indonesia], maka ia harus dihukum sekeras mungkin, juga dengan tujuan untuk mengurangi jumlah orang yang pergi haji.”

(Baca juga: Snouck Hurgronje, Arsitek “Islam Politiek” Hindia Belanda)

 

Jamaah Haji asal Aceh tahun 1884 yang diambil gambarnya oleh Snouck saat berada di Jeddah, Sumber: Tropenmuseum Belanda

Snouck diutus ke Mekah oleh pemerintah Belanda untuk menjadi mata-mata yang dapat memberikan informasi tentang orang-orang Indonesia di Mekah. Bukan suatu kebetulan, oleh karena itu, bahwa rumah di Jeddah yang menjadi tempat tinggal Snouck bersama Raden Aboe Bakr berada persis di seberang rumah seorang bangsawan terkemuka Aceh, yang digunakan sebagai penginapan oleh banyak jamaah haji asal Aceh. Dari rumah mereka, Snouck dan Raden Aboe Bakr bisa melacak siapa saja yang masuk atau meninggalkan penginapan tersebut.

Dalam bukunya yang menceritakan saat ia di Mekah, Snouck juga memberi nasehat kepada pemerintah Belanda mengenai Indonesia. Ia mengatakan bahwa pemerintah kolonial harus mengawasi para jamaah haji yang kembali ke Indonesia dan mencoba untuk mendapatkan simpati mereka. Jika upaya untuk mewujudkan hal ini tidak berhasil, kata Snouck selanjutnya, maka pemerintah Belanda harus menetralisir jamaah haji tersebut.

Jamaah haji asal Ambon Maluku yang diambil gambarnya oleh Snouck pada 1884

 

Baca halaman selanjutnya:  Snouck, Mata-Mata Belanda yang Merusak Islam