Empat Bentuk Perwujudan Imperium Amerika Serikat yang Penuh Kekacauan [Bag. 1]

 

Buku tulisan Michael Mann yang berjudul Incoherent Empire, ditulis pada tahun 2003, sesaat setelah invasi AS ke Irak. Mann adalah seorang profesor sosiologi di UCLA (University of California Los Angeles) dan penulis sebuah serial tulisan yang terdiri dari empat jilid, berjudul The Sources of Social Power, di mana dia menjelaskan perkembangan utama sejarah dunia sebagai interaksi antara empat jenis kekuasaan: militer, ekonomi, politik, dan ideologis.

Dalam buku Incoherent Empire, Mann menggunakan kerangka kerja yang sama untuk memeriksa apa yang dia sebut sebagai “imperialisme baru” yang diciptakan AS, setelah invasi ke Afghanistan dan Irak. Dia meramalkan bahwa, “Imperium Amerika akan terwujud dalam empat bentuk: (1) Raksasa Militer; (2) Pakar ekonomi yang tak berguna; (3) Skizofrenia politik; dan (4) Hantu ideologi.”

Yang paling mengejutkan adalah bahwa sama sekali tidak ada yang berubah dalam “ketidakjelasan” imperialisme AS. Jika seseorang mengambil buku itu untuk pertama kalinya hari ini dan tidak mengetahui bahwa buku tersebut ditulis 15 tahun yang lalu, ia akan membaca bahwa hampir semua hal dalam buku itu adalah kritik perseptif terhadap imperialisme Amerika hari ini.

Selama 15 tahun lebih melakukan intervensi, kegagalan kebijakan AS telah menghasilkan kekerasan dan kekacauan yang selalu terjadi yang mempengaruhi ratusan juta orang di belasan negara. AS selalu gagal membawa perang neo-imperialnya kepada akhir yang stabil atau damai. Namun, proyek imperium AS terus berlanjut, seolah buta terhadap bencana yang mereka hasilkan secara konsisten.

Pemimpin sipil dan militer AS tanpa malu-malu menyalahkan korban atas kekerasan dan kekacauan yang telah mereka lakukan, dan tanpa henti mengemas ulang propaganda perang yang sama untuk membenarkan anggaran militer dan mengancam perang baru.

Tapi mereka tidak pernah menahan diri atau bertanggung jawab atas bencana kegagalan atau pembantaian dan kesengsaraan yang mereka timbulkan. Jadi, mereka tidak pernah berusaha keras untuk mengatasi masalah sistem, kelemahan dan kontradiksi imperialisme AS yang diidentifikasi oleh Michael Mann pada tahun 2003, atau oleh analis kritis lainnya seperti Noam Chomsky, Gabriel Kolko, William Blum dan Richard Barnet, selama beberapa dekade.

Mari kita periksa masing-masing dari empat karakteristik dari fondasi Imperium AS yang kacau, yang disebutkan oleh Mann dan kita lihat bagaimana kaitannya dengan krisis yang ditimbulkan oleh imperialisme AS yang terus berlanjut:

1. Raksasa Militer

Seperti yang dicatat Mann pada tahun 2003, angkatan bersenjata imperium harus melakukan empat hal: mempertahankan wilayah mereka sendiri; menyerang secara ofensif; menaklukkan wilayah dan orang-orang; kemudian menenangkan dan memerintah mereka.

Korps militer AS saat ini mengerdilkan kekuatan militer negara lain. Mereka memiliki senjata api yang belum pernah ada sebelumnya, yang dapat digunakannya dari jarak yang jauh lebih jauh untuk membunuh lebih banyak orang dan menimbulkan kehancuran lebih dari mesin perang sebelumnya dalam sejarah, sekaligus meminimalkan korban dari pihak AS dan juga meminimalkan pukulan balik secara politis dari dalam negeri atas kekerasan yang mereka lakukan.

Tapi di sinilah kekuatan mereka berakhir. Ketika harus benar-benar menaklukkan dan mendamaikan negara asing, cara berperang Amerika dengan menggunakan teknologi ternyata tidak berguna. Kekuatan senjata AS, penampilan “Robocop” pasukan Amerika, kurangnya kemampuan bahasa dan keterasingan mereka dari budaya lain membuat tentara AS memiliki bahaya besar terhadap populasi yang mereka tanggung dengan mengendalikan dan menenangkan, tidak pernah ada kemampuan untuk mengatur dan memerintah, baik di Irak, Afghanistan atau Korea Utara.

John Pace, yang memimpin Misi Bantuan PBB ke Irak selama pendudukan AS menganalogikan usaha AS untuk menenangkan negara tersebut dengan kalimat “mencoba memukul seekor lalat dengan bom.”

Burhan Fasa’a, seorang reporter di Irak untuk jaringan TV LBC Lebanon, selamat dari serangan kedua AS di Fallujah pada November 2004. Dia menghabiskan sembilan hari di sebuah rumah yang ditinggali oleh 26 orang karena rumah-rumah tetangga rusak atau hancur, sehingga lebih banyak lagi orang yang mencari perlindungan ke rumah yang ditinggali oleh Fasa’a dan tuan rumahnya.

Akhirnya sekelompok regu Marinir AS menyerbu masuk ke rumah tersebut, meneriakkan perintah dalam bahasa Inggris yang sebagian besar penduduknya tidak mengerti dan menembak mereka jika mereka tidak menanggapi. “Orang-orang Amerika tidak memiliki penerjemah yang menyertai mereka,” kata Fasa’a. “Jadi mereka memasuki rumah dan membunuh orang karena mereka tidak berbicara bahasa Inggris … Tentara AS mengira orang-orang itu menolak perintah mereka, jadi mereka menembak orang-orang itu. Padahal, orang-orang itu tidak bisa memahami apa yang diucapkan oleh tentara.”

Ini adalah satu catatan pribadi dari satu episode dalam pola kekejaman yang terus dilakukan, hari demi hari, di banyak negara, seperti yang telah dilakukan selama 16 tahun terakhir. Sejauh ini media Barat meliput kekejaman ini dengan narasi bahwa kejadian ini adalah gabungan dari insiden yang tidak dikehendaki dan kengerian yang biasa timbul akibat perang.

Tapi itu tidak benar. Mereka adalah akibat langsung dari cara perang Amerika. Dalam praktiknya, hal ini berarti menggunakan senjata yang luar biasa dan tanpa pandang bulu dengan cara yang tidak memungkinkan untuk membedakan antara kombatan dengan orang-orang sipil yang tidak berperang, atau untuk melindungi warga sipil dari kengerian perang sebagaimana yang atur oleh Konvensi Jenewa.

Keterlibatan AS di Irak dan Afghanistan mencakup: penggunaan siksaan secara sistematis dan menyeluruh; perintah untuk “mematikan” atau membunuh pejuang musuh yang terluka; perintah untuk “membunuh semua laki-laki usia dewasa” selama operasi tertentu; dan zona “bebas senjata” yang mencerminkan zona “bebas peluru” di era Vietnam.

 

Lanjut ke halaman berikutnya….

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *