Empat Bentuk Perwujudan Imperium Amerika Serikat yang Penuh Kekacauan [Bag. 2]

Buku tulisan Michael Mann yang berjudul Incoherent Empire, ditulis pada tahun 2003, sesaat setelah invasi AS ke Irak. Mann adalah seorang profesor sosiologi di UCLA (University of California Los Angeles) dan penulis sebuah serial tulisan yang terdiri dari empat jilid, berjudul The Sources of Social Power, di mana dia menjelaskan perkembangan utama sejarah dunia sebagai interaksi antara empat jenis kekuasaan: militer, ekonomi, politik, dan ideologis.

Dalam buku Incoherent Empire, Mann menggunakan kerangka kerja yang sama untuk memeriksa apa yang dia sebut sebagai “imperialisme baru” yang diciptakan AS, setelah invasi ke Afghanistan dan Irak. Dia meramalkan bahwa, “Imperium Amerika akan terwujud dalam empat bentuk: (1) Raksasa Militer; (2) Pakar ekonomi yang tak berguna; (3) Skizofrenia politik; dan (4) Hantu ideologi.”

Penjabaran bentuk “Raksasa Militer” dan “Pakar ekonomi yang tidak berguna” sudah diulas di tulisan sebelumnya.

3.  Skizofrenia politik

Di dunia fantasi yang terisolasi, penderita “Skizofrenia Politik” menganggap AS adalah negara terhebat di dunia, “kota yang bersinar di atas bukit,” tanah penuh kesempatan dimana setiap orang dapat menemukan impian mereka. Seluruh dunia sangat menginginkan apa yang dimiliki Amerika sehingga Amerika harus membangun tembok untuk menjauhkan mereka. Angkatan bersenjata Amerika adalah kekuatan terbesar untuk kebaikan yang pernah diketahui dunia, dengan gagah berani berjuang untuk memberi orang lain kesempatan untuk menikmati demokrasi dan kebebasan seperti yang dinikmati oleh Amerika.

Tetapi jika kita benar-benar membandingkan AS dengan negara-negara kaya lainnya, kita menemukan gambaran yang sama sekali berbeda. Amerika Serikat memiliki ketimpangan yang paling ekstrem, kemiskinan paling meluas, mobilitas sosial dan ekonomi paling sedikit dan jaring pengaman sosial paling tidak efektif dibanding negara berteknologi maju manapun.

Amerika memang luar biasa, tidak hanya dalam khayalan imajiner politisi pengidap “skizofrenia politik”, tapi karena kegagalannya untuk memberikan perawatan kesehatan, pendidikan dan kebutuhan hidup lainnya ke sebagian besar penduduknya, dan dalam pelanggaran sistematisnya terhadap Piagam PBB, Konvensi Jenewa dan perjanjian internasional lainnya yang mengikat.

Jika AS benar-benar menjalankan demokrasi yang diklaimnya, publik Amerika dapat memilih pemimpin yang akan memperbaiki semua masalah ini. Namun, sistem politik AS sangat koruptif sehingga hanya Skizofrenia Politik yang bisa menyebutnya “demokrasi”. Mantan Presiden Jimmy Carter percaya bahwa AS sekarang “hanya sebuah oligarki, dengan penyuapan politik yang tidak terbatas.” Jumlah pemilih di AS jelas ada di antara yang terendah di negara-negara maju.

Sheldon Wolin, yang mengajar ilmu politik di Berkeley dan Princeton selama 40 tahun, menggambarkan sistem politik AS yang sebenarnya ada sebagai “totalitarianisme terbalik.” Alih-alih menghapus institusi demokratis dengan model “totaliter klasik”, sistem totaliter AS yang terbalik justru mempertahankan ornamen berlubang dari demokrasi untuk secara keliru melegitimasi oligarki dan penyuapan politik yang dijelaskan oleh Presiden Carter.

Seperti yang dijelaskan Wolin, sistem ini lebih enak dan berkelanjutan, dan karena itu lebih efektif daripada bentuk klasik totalitarianisme yang digunakan sebagai alat untuk memusatkan kekayaan dan kekuasaan di tangan kelas penguasa yang korup.

Korupsi dalam sistem politik AS semakin jelas bagi orang Amerika, juga bagi orang-orang di negara lain. Pemilu bergaya Amerika Serikat bernilai miliaran dolar akan menjadi ilegal di sebagian besar negara maju, karena mereka pasti akan menyingkirkan pemimpin korup yang menawarkan kepada publik tidak lebih dari slogan kosong dan janji yang tidak jelas untuk menyamarkan kesetiaan plutokratik mereka.

Pada 2018, pemimpin-pemimpin partai di AS masih bertekad untuk memecah rakyat AS berdasarkan garis pilihan pada pemilu 2016 antara dua kandidat paling tidak populer dalam sejarah, seolah-olah slogan mereka yang kacau, saling tuduh, dan kebijakan plutokratik akan mampu mengarahkan masa depan negara AS.

Mesin media AS yang penuh kebisingan bekerja lembur untuk menghalangi pandangan alternatif Bernie Sanders, Jill Stein dan kandidat lainnya yang menantang status quo yang korup masuk ke pikiran rakyat Amerika, dengan menutup berita, membersihkan orang-orang progresif dari komite DNC dan membanjiri pemberitaan dengan dengan kicauan Trump dan Russiagate.

Orang Amerika biasa yang mencoba terlibat dengan atau menghadapi politikus, bisnis dan media yang korup, merasa hampir tidak mungkin. The Political Schizophrenic bergerak dalam lingkaran sosial yang tertutup dan terisolasi, di mana khayalan tentang dunia fantasinya atau “realitas politiknya” diterima sebagai kebenaran yang tak terbantahkan. Ketika orang benar-benar membicarakan masalah nyata dan menyarankan solusi nyata kepada mereka, dia menolaknya dan menganggapnya sebagai idealis yang naif. Ketika kita mempertanyakan dogma dunia fantasinya, dia pikir kita adalah orang-orang yang tidak berhubungan dengan kenyataan. Kita tidak bisa berkomunikasi dengannya, karena ia hidup di dunia yang berbeda dan berbicara dalam bahasa yang berbeda.

Sulit bagi para pemenang di masyarakat manapun untuk menyadari bahwa hak istimewa mereka adalah produk dari sistem yang korup dan tidak adil, bukan dari kapasitas atau kemampuan superior mereka sendiri. Tapi kelemahan inheren “totalitarianisme terbalik” adalah bahwa institusi politik Amerika masih ada dan masih dapat dibuat untuk melayani demokrasi, jika dan ketika cukup banyak orang Amerika terbangun dari Skizofrenia Politik ini, mereka akan memberi solusi yang nyata untuk menghadapi masalah, dan memilih orang-orang yang benar-benar berkomitmen untuk mengubah solusi tersebut menjadi kebijakan publik.

Seorang pekerja sosial yang sering  berhadapan dengan penderita skizofrenia akan tahu bahwa mereka cenderung menjadi gelisah dan marah jika kita mempertanyakan realitas dunia fantasi mereka.

Bahaya Skizofrenia Politik yang dipersenjatai dengan mesin perang seharga satu triliun dolar per tahun dan senjata nuklir menjadi lebih jelas bagi lebih banyak orang kita di seluruh dunia karena setiap tahun berlalu. Pada tahun 2017, 122 negara memilih untuk menyetujui Perjanjian PBB yang baru mengenai Larangan Senjata Nuklir.

Sekutu AS telah menerapkan kebijakan oportunistik untuk menilai. Tetapi Rusia, China dan negara-negara berkembang secara bertahap mulai mengambil garis yang lebih kuat, untuk mencoba menanggapi agresi AS dan untuk menggembalakan dunia melalui masa transisi yang sangat berbahaya ini ke dunia multipolar, secara damai dan berkelanjutan. Sedangkan, AS menanggapinya dengan propaganda, demonisasi, ancaman dan sanksi, yang sekarang mirip sebuah Perang Dingin Kedua.

 

Baca halaman selanjutnya: 4. Hantu Ideologi