Pembantaian Ghouta: 674 Warga Terbunuh dalam 14 Hari Serangan

Sebanyak 674 warga sipil telah tewas selama hampir dua minggu akibat serangan udara terus-menerus di pinggiran Damaskus, Ghouta Timur, menurut sebuah kelompok relawan. Sedangkan dalam masa gencatan senjata (yang seharusnya tidak ada serangan -red) sebanyak 103 warga telah terbunuh.

Kelompok relawan Syrian Civil Defense, yang juga dikenal sebagai White Helmets, mengatakan pada hari Jumat bahwa lebih dari 670 orang telah terbunuh sejak pemerintah Suriah, dibantu oleh Rusia, melancarkan serangan udara di daerah pedesaan di luar ibukota Damaskus tersebut pada 18 Februari.

Ghouta Timur, yang menjadi tempat tinggal bagi hampir 400.000 orang, telah dikepung oleh pemerintah Suriah sejak kelompok oposisi menguasai kawasan tersebut pada pertengahan 2013.

Pemboman udara telah menimbulkan kecaman internasional, namun gencatan senjata 30 hari yang dengan suara bulat dipilih oleh anggota Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa Sabtu lalu telah gagal untuk dipraktekkan, karena serangan udara terus berlanjut tanpa henti.

“Sejak dimulainya “gencatan senjata” sampai sekarang, 103 orang telah terbunuh,” kata Mahmood Adam, seorang anggota White Helmets, sebuah kelompok sukarela beranggota 4.000 orang.

Diantaranya, ada 22 anak dan 43 wanita, kata Adam.

“Penargetan sistematis pesawat terbang Suriah dan Rusia di daerah pemukiman di Ghouta Timur belum berhenti,” katanya kepada Al Jazeera.

(Baca juga:  Menyayat Hati, Kisah Nyata Seorang Ibu Tepat di Bawah Hujan Bom Ghouta)

Warga telah menyatakan ketidakpercayaan mereka dalam “jeda kemanusiaan lima jam sehari”, yang diajukan oleh Rusia, yang konon akan menciptakan “jalur kemanusiaan” untuk memungkinkan evakuasi bagi penduduk sipil Ghouta yang mencari perawatan medis dan sebagai jalur masuknya konvoi bantuan.

Namun sejauh ini, tidak ada satu konvoi bantuan yang bisa masuk, dan warga mengatakan bahwa tidak ada jaminan keselamatan bagi mereka jika mereka memilih untuk mengungsi dari daerah tersebut.

“Orang-orang Ghouta Timur mengolok-olok berita tentang jalur keluar. Mereka tidak mempercayainya sedikitpun karena mereka telah kehilangan kepercayaan pada kredibilitas rezim, terutama karena serangan tidak pernah berhenti, dan baik orang Rusia maupun rezim Suriah tidak menyatakan apapun mengenai keseriusan menjaga warga sipil keluar dari perang, ” kata Abdelmalik Aboud, seorang aktivis dari kota Douma, kepada Al Jazeera.

Berlindung di Bunker

Ribuan keluarga dipaksa untuk berlindung di ruang bawah tanah atau tempat penampungan bawah tanah darurat karena intensitas pemboman dan serangan bom yang tinggi.

Berbicara kepada sebuah kantor berita Suriah setempat, penduduk Ghouta Timur mengatakan bahwa tempat penampungan ini masih belum memberi mereka keamanan dan keselamatan.

Seorang pria yang menyebut namanya sebagai Abu Anas, mengatakan bahwa dia dan keluarganya terpaksa untuk pergi ke tempat penampungan di Douma setelah daerah dimana dia tinggal bersama keluarganya terkena tembakan.

(Baca juga: Di Ghouta Timur, Bukti PBB Kalah Dengan Negara Bahkan Organisasi)

Satu rudal menabrak pintu masuk tempat penampungan yang mereka tinggali, mengakibatkan sejumlah korban cedera.

“Tempat penampungan ini penuh sesak dan tidak memiliki fasilitas untuk kebutuhan dasar,” kata Abu Anas, setelah memindahkan keluarganya ke rumah yang lain. “Mereka tidak memiliki persediaan makanan dan air, dan kebanyakan orang bahkan tidak punya pakaian ganti,” kata Abu Anas.

Pria lain, Omar, yang hanya memberitahu nama depannya, berasal dari kota Hazza. Dia mengatakan bahwa para pemuda tersebut mencoba memberikan kenyamanan kepada orang tua, terutama mereka yang menderita berbagai penyakit, tetapi keadaan tempat penampungan ini sangat mengenaskan.

“Kami menjalani berhari-hari tanpa makanan, dan saya tidak bisa menyediakan obat yang saya butuhkan untuk ibu saya,” kata Omar.

Juga tidak ada toilet di tempat penampungan. Terlepas dari risiko hidup mereka, Omar mengatakan bahwa dia harus membawa ibunya keluar dan masuk ke salah satu rumah terdekat kapan pun Ibunya membutuhkan istirahat.

 

Sumber: aljazeera

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *