Mantan Perwira Militer AS: Amerika tak Pernah Belajar Soal Perang

Terkadang saya merasa bahwa belajar itu terasa seperti kutukan daripada sebuah berkah; Akhirnya hal itu membuat paradigma saya menjadi buruk, tanpa kesempatan untuk memperbaiki.
-Frederick Douglass

Saya dulu seorang tentara. Pindah tujuh kali dalam 11 tahun. Berjuang dalam dua perang. Merasa sunyi di dekat selusin tentara. Dan, yah, kehilangan kepercayaan terhadap segala sesuatu yang saya percaya saat semuanya dimulai pada usia 17 tahun. Pada saat itu, saya telah berusaha untuk menyeimbangkan antara tentara dan beasiswa. Mungkin itu salahku.

Hal itu sudah hampir berakhir sekarang. Aku akan segera meninggalkan kehidupan itu, sekitar 16 tahun, tujuh bulan, dan 19 hari sejak semua itu dimulai di West Point, 50 mil menyusuri sungai dari New York City.

Orang-orang New York, tentu saja, hampir tidak tahu, atau tidak peduli, bahwa akademi militer negara ini ada di dekat kota metropolitan global yang mereka tinggali. Mereka, terutama kaum borjuis, menghuni sebuah alam semesta yang sama sekali berbeda dari para sukarelawan, tentara profesional yang berlatih, berjuang dan mati atas nama mereka.

Menempuh perjalanan 45 menit ke utara melalui kereta komuter di sepanjang Hudson adalah ibarat melintasi satu dimensi ke dimensi lain, ke dunia penuh dengan perang yang agak aneh. Sistemnya didesain seperti itu. Pria dan wanita yang hidup di dalam militer seolah terpisah dari masyarakat yang mereka bela. Mereka adalah sebuah kasta baru, kasta keluarga prajurit. Praetorians abad ke-21.

(Baca juga: Inilah Alasannya, Mengapa Imperium Amerika Akan Segera Berakhir!)

Ada sedikit ruang untuk perselisihan di ranah ini. Politisi memerintah, pejuang mematuhi, dan siklus ini terus berlanjut. Namun, ke mana hal ini telah membawa kita,sebagai tentara, atau, sebagai sebuah bangsa?

Pasukan AS sekarang berada di 70 persen negara di dunia dan terlibat dalam konflik aktif, yang biasa disebut sebagai perang, di sekitar tujuh negara. Pada tahun ini, AS telah membunuh dan terbunuh di Irak, Afghanistan, Suriah, Yaman, Somalia, Niger dan Pakistan.

Tiga perang di Irak, Afghanistan dan Suriah, meski terus berlanjut, pasukan AS kalah atau menemui jalan buntu. Empat perang lainnya menemui jalan buntu, dan, dalam kasus Pakistan, tergelincir lebih jauh dari pengaruh Amerika. Ketika melakukan perang melawan terorisme, janganlah mengharapkan hasil yang gemilang ataupun parade kemenangan, walaupun presiden AS sekarang pasti menginginkannya. Tidak; negara AS dan rakyatnya telah memulai kekacauan yang abadi, dan prajurit-prajuritnya yang tercinta (dan korban mereka yang tak terhitung jumlahnya) yang akan menjadi tumbalnya.

Aku adalah orang lain yang tidak ikut bepergian. Dan betapa lama dan aneh perjalanannya tersebut. Beberapa ratus buku, ribuan artikel dan terlalu banyak pengalaman mengubah dogma kemudian, dan keraguan veteran ini adalah, atau, sepadan dengan harganya. Sayangnya, seseorang tidak bisa benar-benar kembali dan melupakan semuanya. Meski terkadang, sejujurnya, aku berharap bisa melakukannya. Ketika sampai pada kesehatan emosional seseorang, mungkin ketidaktahuan benar-benar adalah kebahagiaan.

Apakah pendidikan yang luas dan mendalam merupakan berkat atau kutukan bagi seorang tentara di akhir perang luar negeri Amerika? Saya membawa buku-buku Sartre dan Camus di ransel saya saat tiba di provinsi Kandahar di Afghanistan dan setelah membacanya, membuat saya lebih bingung dan murung daripada saat saya tiba. Apa yang saya ketahui atau percaya, terlalu mengganggu.

Kadang-kadang, saya iri pada orang-orang di antara teman-teman saya dan di antara orang-orang yang tidak mengetahui atau mempedulikan fakta-fakta yang tidak menyenangkan ini:

  • Bahwa perang di Irak dilakukan di atas kebohongan dan dilancarkan tanpa kehati-hatian. Kesombongan orang Amerika itu menghancurkan masyarakat yang rapuh dan melepaskan sebuah perang saudara sektarian yang terbukti tidak mungkin dikembalikan seperti keaadaan semula. Bahwa tubuh tersiksa yang kami temukan, dan beberapa yang kami buat, adalah penolakan bagi fantasi Amerika tentang promosi demokrasi yang menipu.
  • Tentara AS sama sekali tidak melindungi orang-orang Afghanistan. Betapa saya berharap saya bisa melupakan bahwa semua usaha, ketakutan dan kekerasan itu adalah hal yang sia-sia, dan bahwa berusaha memaksakan sebuah rezim yang didukung oleh negara asing hampir tidak pernah berhasil, menurut catatan sejarah. Tanya saja orang Rusia-atau Inggris.
  • Bahwa tindakan militer dan kepercayaan AS mengenai intervensionisme ternyata tidak dapat menahan terorisme. Tentara asing, pada hakikatnya, menimbulkan keresahan. Penyebaran tentara Amerika dari Afrika Barat ke Asia Selatan justru meningkatkan terjadinya tindakan teror dan kelompok teror di seluruh wilayah yang diduduki.
  • Bahwa sebuah imperium, selalu, akhirnya akan berfokus kembali ke tanah air karena patroli polisi domestik yang dipersenjatai seperti militer mencekiknya seperti wilayah yang diduduki. Bahwa kita telah belajar hidup dengan penahanan massal dan penembakan massal, dua hal yang hanya terjadi di AS. Bahwa terorisme sebenarnya ada di jalanan, di sekolah dan bersembunyi di antara masyarakat AS. Bahwa AS tidak boleh menyalahkan para imigran, Muslim ataupun lainnya. Senjata, kekerasan dan pembantaian di luar negeri itu sama banyaknya dengan yang ada di dalam Amerika sendiri.

Bahwa banyak sekutu Amerika yang konon (seperti orang Saudi) adalah monster yang tidak berperikemanusiaan dan retorika luhur AS tak berguna pada anak-anak Yaman yang mengalami pembunuhan, melalui bom, penyakit dan kelaparan.

Pada akhirnya, kekerasan menimbulkan kekerasan, dan ketika semua dikatakan dan dilakukan, dua kali lebih banyak tentara Amerika akan meninggal dalam 16 tahun terakhir ini daripada jumlah warga negara AS yang tewas pada peristiwa 9/11. Tentu saja, secara eksponensial lebih banyak warga sipil asing meninggal di tangan militer AS, di bawah hujan bom dan ketidakstabilan negara yang diciptakan AS.

Betapa aku berharap, terkadang, aku tidak tahu, atau percaya, semua itu.

Aku telah menempuh perjalanan jauh dari percaya menjadi ragu-ragu dan aku sekarang adalah seorang yang murtad dari militer. Ada godaan untuk berfantasi, mempertimbangkan kebohongan, dan bertanya-tanya apakah ada yang lebih baik daripada tidak mengetahui kesia-siaan kehidupan tentara modern.

Orang-orang yang masih percaya pada intervensionisme akan membuang semua keraguan. Keraguan itu sulit. Keyakinan itu menghibur, lebih mudah, kurang rumit. Pada hari-hari yang sulit, aku iri dengan orang-orang yang percaya. Dan percayalah, mereka masih di luar sana, mengisi barisan, dari letnan hijau hingga menjadi jenderal beruban.

Betapa aku merindukan kesederhanaan dan ketenangan patriotisme buta dan jargon nasionalisme.

 

Tulisan di atas adalah testimoni dari Mayor Danny Sjursen, seorang perwira Angkatan Darat AS dan mantan instruktur sejarah di markas Pentagon, West Point. Ia pernah terjun ke medan perang sebagai unit pengintai di Irak dan Afghanistan. Kini, ia menjadi kontributor tetap di situs Truthdig.

 

Sumber:  truthdig

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *