Semua Musnah, Citra Satelit Tunjukkan Puluhan Desa Rohingya Dibuldozer

This slideshow requires JavaScript.

Pemerintah Myanmar menggunakan buldoser untuk membumiratakan puluhan desa di negara bagian Rakhine dalam sebuah operasi besar, yang menurut kelompok hak asasi manusia ini bertujuan untuk menghancurkan bukti kekejaman massal terhadap minoritas Muslim Rohingya.

Gambar satelit yang dirilis oleh DigitalGlobe yang berbasis di Colorado pada hari Jumat menunjukkan bahwa desa-desa dan dusun yang telah kosong benar-benar diratakan oleh pihak berwenang dalam beberapa pekan terakhir. Desa-desa tersebut telah dibakar pada kekerasan yang terjadi Agustus tahun lalu, dalam sebuah operasi “pembersihan etnis” yang telah memaksa ratusan ribu orang Rohingya lari ke pengasingan di Bangladesh.

Sementara itu, pemerintah Myanmar mengklaim bahwa mereka hanya berusaha membangun kembali wilayah yang hancur. Namun, tindakan pemerintah Myanmar tersebut telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan lembaga pemantau hak asasi manusia, yang mengatakan bahwa pemerintah menghancurkan sejumlah tempat kejadian perkara sebelum ada investigasi yang kredibel. Orang-orang Rohingya percaya bahwa pemerintah dengan sengaja memusnahkan sisa-sisa peradaban mereka sehingga membuat mereka hampir tidak mungkin mau untuk kembali.

(Baca juga: Kisah Nyata Menyayat Hati: Nyala Api Terbakar di Myanmar!)

Seorang wanita Rohingya yang mengungsi mengatakan bahwa dia baru saja mengunjungi rumahnya di Myin Hlut dan terkejut dengan apa yang dilihatnya. Sebagian besar rumah telah dibakar tahun lalu, tapi sekarang, “semuanya hilang, bahkan tidak ada pohon yang tersisa”, kata wanita bernama Zubairia. “Mereka baru saja membuldozer segalanya … saya hampir tidak bisa mengenalinya.”

Gadis berusia 18 tahun tersebut mengatakan bahwa rumah-rumah lain di daerah yang telah ditinggalkan juga diratakan dengan tanah. “Semua kenangan yang saya miliki telah hilang,” katanya. “Semuanya sudah musnah.”

Pasukan bersenjata Myanmar tidak hanya membakar desa-desa Muslim dengan bantuan massa Buddha, tapi juga melakukan pembantaian massal, pemerkosaan dan penjarahan yang meluas. Krisis terakhir di negara bagian Rakhine dimulai pada bulan Agustus tahun lalu setelah gerilyawan Rohingya meluncurkan serangkaian serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Foto-foto udara dari kerusakan tersebut pertama kali dipublikasikan pada tanggal 9 Februari ketika duta besar Uni Eropa untuk Myanmar, Kristian Schmidt, memposting gambar yang diambil dari pesawat terbang yang dia sebut sebagai “daerah luas yang di-bulldozer ” di selatan kota Maungdaw.

Citra satelit dari DigitalGlobe menunjukkan setidaknya 28 desa atau dusun hancur dalam radius 50 km di sekitar Maungdaw antara bulan Desember dan Februari. Di beberapa area yang telah dibersihkan, kru konstruksi telah mendirikan bangunan baru dan helipad. Analisis serupa oleh Human Rights Watch pada hari Jumat mengatakan setidaknya 55 desa telah terpengaruh.

(Baca juga:  Trauma Mendalam, Ratusan Ribu Pengungsi Rohingya Menolak Pulang)

Pemerintah Myanmar telah berbicara tentang rencana untuk membangun kembali wilayah tersebut selama berbulan-bulan, dan telah sibuk membangun jalan, memperbaiki jembatan, dan membangun tempat penampungan, termasuk puluhan shelter di sebuah kamp besar di Taungpyo, dekat perbatasan Bangladesh. Kamp tersebut dibuka pada bulan Januari untuk menampung pengungsi yang kembali; Tapi tidak ada pengungsi yang datang dan orang-orang Rohingya terus melarikan diri.

Parlemen Myanmar juga telah menyetujui anggaran 15 juta dolar Amerika untuk membangun sebuah pagar pembatas dan beberapa proyek terkait di sepanjang perbatasan Bangladesh di negara bagian Rakhine, yang telah menjadi jalur yang dilewati sekitar 700.000 orang Rohingya untuk melarikan diri sejak Agustus. Wakil menteri dalam negeri Myanmar, Jenderal Aung Soe, mengatakan bahwa pagar pembatas tersebut akan segera selesai sepanjang 202 km dari total panjang perbatasan 293 km.

Myint Khine, seorang pejabat pemerintahan lokal di Maungdaw, mengatakan beberapa rumah baru khusus dibuatkan untuk umat Islam. Banyak orang Rohingya takut bahwa pemerintah akan merampok lahan yang telah mereka tinggali selama beberapa generasi.

Sebuah daftar, yang diterbitkan oleh pemerintah pada bulan Desember, menunjukkan pembangunan 787 rumah namun hanya 22 rumah yang dibuatkan untuk “orang Bengali”. Istilah “Orang Bengali” ini  digunakan oleh kaum nasionalis Myanmar untuk mennyebut orang Rohingya, yang mereka anggap imigran ilegal dari Bangladesh.

Myint Khine mengelak bahwa ada motif tersembunyi , “Tentu saja Myanmar telah menggunakan mesin perata tanah dan bulldozer karena kita harus membersihkan lahan terlebih dahulu sebelum membangun rumah baru,” katanya.

(Baca juga:  Fakta Sejarah, Muslim Rohingya Pernah Bantu Kekhalifahan Turki Utsmani)

Chris Lewa, seorang pegiat Arakan Project, yang aktif dalam memantau penderitaan minoritas Muslim yang teraniaya itu, mengatakan, “Bagaimana bisa para pengungsi itu akan mengidentifikasi di mana mereka tinggal, jika tidak ada yang tersisa, jika tidak ada yang dapat dikenali?”

“Budaya mereka, sejarah mereka, masa lalu mereka, dan masa sekarang, semuanya terhapus. Bila Anda melihat gambarnya, jelas bahwa apa pun yang tersisa, masjid, kuburan, dan rumah – rumah mereka musnah. ”

Richard Weir, seorang kontributor Human Rights Watch, mengatakan: “Tidak ada lagi landmark, tidak ada pepohonan, tidak ada tumbuh-tumbuhan.”

“Semuanya dilenyapkan, dan ini sangat memprihatinkan, karena ini adalah lokasi terjadinya kejahatan. Tidak ada investigasi yang dapat dipercaya atas kejahatan ini. Jadi, yang sedang kita bicarakan ini adalah benar-benar penghalang terwujudnya keadilan bagi orang-orang Rohingya,” katanya.

 

 

Sumber:  theguardian