Kita Hidup di Dunia di Mana Perang tidak Pernah Berhenti

Kita hidup dalam dunia yang penuh masalah. Konflik saat ini mungkin jauh lebih mematikan daripada konflik yang merusak abad lalu, tapi juga sedikit lebih gampang (tepatnya digampangkan) dalam mengurai masalah. Kita tetap merasa sangat cemas. Kita bisa dengan mudah menyalahkan terorisme dan ketakutan yang ditimbulkannya, alih-alih memperhatikan jumlah korban yang secara statistik tidak dianggap penting. Media kontemporer dan siklus “breaking news” yang terus-menerus tidak dapat menutupi kenyataan bahwa perang yang tampaknya telah mengilhami orang-orang fanatik atau telah menghasilkan  banyak berita utama yang memicu tumbuhnya kecemasan. Salah satu alasannya adalah bahwa peperangan ini tampaknya tidak terlihat ujung akhirnya.

Untuk menjelaskan konflik ini, kita bisa mencari skema biner yang mudah: Islam vs Barat, Miskin vs Kaya; negara-negara yang “baik-baik” melawan “negara garong”. Kita juga melihat teori geopolitik besar – akhir dari sistem Westphalia yang diadopsi barat berhadapan dengan “kebangkitan yang lain” – atau bahkan hanya mengaitkan kekerasan dengan “geografi”. Tak satu pun dari penjelasan ini tampaknya cukup menghilangkan kekhawatiran kita.

Minggu ini Mohammad bin Salman, putra mahkota Arab Saudi, akan berada di London. Satu topik yang akan dia diskusikan dengan pembuat kebijakan Inggris adalah perang yang melanda sejak tahun 2015 di negara tetangganya, Yaman, di mana pasukan Saudi memimpin sebuah aliansi kekuatan regional melawan pemberontak Houthi.

Perang ini merupakan bagian dari kebijakan Saudi untuk mengadopsi strategi eksternal yang lebih agresif. Sayangnya, strategi ini tidak berjalan dengan baik. Perang di Yaman mengalami jalan buntu yang telah menyebabkan ribuan warga sipil tewas.

Pekan lalu Ashraf Ghani, presiden Afghanistan, mengumumkan sebuah rencana berani untuk menarik Taliban ke dalam proses perdamaian yang mengikat. Para komentator berbicara tentang pertaruhan terakhir yang putus asa untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung begitu lama sehingga tentara barat segera dikerahkan ke negara tersebut pada tahun 2001.

Di Suriah, di mana perang saudara sekarang berada di tahun ketujuh, tidak ada jeda dalam perang tersebut. Ghouta, daerah pinggiran Damaskus yang dikuasai pemberontak, berada di bawah pemboman sehari-hari setelah bertahun-tahun dikepung. Milisi bermanuver untuk mendapatkan keuntungan di seluruh negeri. Jika ada yang mengira jatuhnya Raqqa, markas besar ISIS, akan mengakhiri permusuhan, mereka sangat keliru.

“Perang panjang” ini, yang juga mencakup Somalia (perang sejak 1991) atau Libya (sejak 2011) atau Mali (sejak 2012), tidak terbatas pada dunia Islam. Ada Sudan Selatan, di mana perang sipil empat tahun yang kejam semakin meningkat, dan Republik Demokratik Kongo (Democratic Republic of Congo/DRC), di mana lebih banyak demonstrasi berakhir dalam pertumpahan darah minggu lalu.

Bagian timur DRC merupakan wadah konflik besar yang menewaskan 5 juta orang antara tahun 1997 dan 2003 dan tetap tidak stabil sejak saat itu. Ribuan orang telah meninggal dan jutaan orang telah mengungsi akibat konflik di sana dalam 18 bulan terakhir karena anarkisme menyebar di negara yang luas tersebut.

Hari ini lebih dari empat tahun sejak Rusia mencaplok Crimea dan membantu memicu pemberontakan di timur Ukraina. Sejak saat itu sekitar 10.000 orang telah meninggal, termasuk 3.000 warga sipil, dan lebih dari 1,7 juta orang mengungsi. Meskipun ada kesepakatan gencatan senjata, konflik dengan intensitas rendah telah menjadi latar belakang sehari-hari di wilayah yang tidak lagi bisa memperkirakan jalan keluar dari kesengsaraannya.

Untuk memahami durasi konflik ini kita perlu memahami sifatnya. Sebagian besar analisis berfokus pada negara. Peta kita memang menunjukkan bahwa dunia terbagi menjadi banyak negara. Ini adalah blok bangunan dari sistem politik, hukum, sosial dan ekonomi kita dan, seperti telah menjadi sangat jelas dalam beberapa tahun terakhir, kunci identitas kita. Di Afghanistan, perang adalah untuk membangun sebuah negara, dan tentang visi yang berbeda tentang bentuk apa yang harus digunakannya. Di Suriah, perang adalah mempertahankan, atau menggulingkan, sebuah negara. Di Yaman, perang adalah untuk mengendalikannya. Di DRC, akar konflik terletak pada kelemahan negara.

Negara juga telah memperpanjang konflik ini dan, dalam beberapa kasus, menyebabkan masalah ini. Ambisi pendukung Rusia di Ukraina, campur tangan Pakistan di Afghanistan. Keterlibatan begitu banyak aktor regional dan internasional di Suriah memicu kekerasan, dengan sengaja atau tidak sengaja.

Namun, betapapun pentingnya, negara bukanlah dari satu-satunya tokoh protagonis dalam konflik ini. Dalam dua dekade konflik di seluruh dunia, hanya dua yang melibatkan pasukan dua negara dalam konfrontasi langsung. Salah satunya adalah perang singkat antara India dan Pakistan pada tahun 1999; Yang kedua adalah perang di Irak pada tahun 2003. Menurut para periset di University of California, tidak ada yang lebih baru.

Ada temuan baru dalam konflik, yaitu adanya unsur ikatan klan atau kasta, bukan negara. Mereka bersinggungan dengan batas-batas antara komunitas etnis atau sektarian, bahkan mereka juga terbagi dalam kepentingan ekonomi masing-masing, misalnya, kelompok penggembala dengan petani, atau pemilik lahan dan penyewa lahan, atau perbedaan dialek atau bahasa. Konflik kepentingan ini tidak sulit dilacak, baik dalam pemetaan masalah ataupun di lapangan.

Sebenarnya, jika kita melihat-lihat seluruh dunia dengan banyak konfliknya, dan jika kita mendefinisikan peperangan ini secara lebih luas, maka kita melihat ada kekacauan di mana-mana, masing-masing dengan wilayahnya sendiri, dan selalu menghasilkan korban jiwa. Di Meksiko, Brasil, Afrika Selatan atau Filipina, ada banyak kekerasan yang terkait dengan kriminalitas dan upaya negara untuk membasminya. Ada kekerasan yang dilakukan kepada perempuan oleh orang-orang yang takut terhadap kemajuan dalam perjuangan untuk menciptakan distribusi kekuasaan, status dan kekayaan yang lebih merata. Ada kekerasan ekonomi, seperti kasus kematian 1.000 orang di sebuah bangunan runtuh di Bangladesh pada tahun 2013 atau, di DRC, cedera bagi para penambang yang menggali komoditas penting bagi industri di seluruh dunia?

Dunia kita mungkin tidak didera oleh konflik konvensional antara negara-negara bangsa seperti pada zaman sebelumnya, namun masih merupakan tempat yang sangat kejam. Kenyataan yang pahit mungkin kita tidak bertanya-tanya mengapa perang terasa begitu sulit saat ini, tapi mengapa waktu kita di planet ini dihabiskan untuk menciptakan perang yang sulit dikendalikan.

 

Baca halaman selanjutnya: Perang di Suriah dan Yaman