Pendukung HAM Marah Atas Kesepakatan Rahasia Google dan Pentagon Soal Drone

 

Para pendukung hak asasi manusia, pakar teknologi, dan kritikus program perang drone Amerika Serikat sangat marah atas kesepakatan rahasia Google dengan Pentagon -terungkap dalam dua buah laporan masing-masing oleh Gizmodo dan The Intercept– untuk mengembangkan kecerdasan buatan, atau AI, yang dapat secara cepat menganalisis rekaman drone.

Beberapa kritikus menunjuk moto lama Google, “Jangan Jahat”, dan penggantinya, “Kerjakan Hal yang Benar,” yang diperkenalkan pada tahun 2015 oleh perusahaan induk Google, Alphabet.

Laporan tersebut, yang dipublikasikan pada hari Selasa, menjelaskan rincian kemitraan antara Google dan Maven sebuah proyek milik Departemen Pertahanan AS yang baru-baru ini diungkapkan di milis perusahaan.

Pembahasan internal dilaporkan membuat marah beberapa karyawan Google, yang dilaporkan Gizmodo “merasa marah karena perusahaan tersebut akan menawarkan sumber daya kepada militer untuk teknologi pengintaian yang terlibat dalam operasi drone” dan menunjukkan bahwa “proyek tersebut memunculkan pertanyaan etika yang penting mengenai pengembangan dan penggunaan mesin belajar.”

Proyek Maven milik Dephan ini -juga dikenal sebagai the Algorithmic Warfare Cross-Functional Team (AWCFT)- diluncurkan pada bulan April lalu. Proyek ini “ditugaskan dengan menggunakan pembelajaran mesin untuk mengidentifikasi kendaraan dan benda-benda lain dalam rekaman drone, mengambil alih tugas dari para analis” yang telah tidak mampu mengikuti jumlah rekaman yang dikumpulkan oleh drone AS.

(BAca juga:  Menelusur Sejarah, Negara Amerika Dibangun dari Perbudakan)

Seorang juru bicara Google mengatakan bahwa perusahaan tersebut menyediakan bagi Pentagon dengan “open source TensorFlow APIs yang dapat membantu pengenalan objek pada data yang tidak terklasifikasi,” dan menegaskan “teknologi itu memberikan citra-citra untuk ulasan manusia, dan hanya untuk penggunaan non-ofensif.”

Namun, The Intercept mencatat – menunjuk pada laporan sebelumnya tentang proyek tersebut- bahwa tujuan dari teknologi AI adalah “untuk membantu pengguna drone menginterpretasikan data citra yang luas yang disedot dari armada militer dengan 1.100 drone untuk lebih menargetkan serangan bom terhadap the Islamic State.”

Sementara juru bicara Google menambahkan bahwa perusahaan tersebut “secara aktif membahas topik penting ini secara internal dan dengan pihak lain karena kami terus mengembangkan kebijakan dan pengamanan seputar pengembangan dan penggunaan teknologi pembelajaran mesin kami,” Intercept juga mencatat bahwa “kontrak militer dengan Google disalurkan melalui sebuah perusahaan teknologi Virginia Utara yang disebut ECS Federal, mengaburkan hubungan itu dari publik”-setidaknya sampai terungkap dalam laporan hari Selasa itu.

Kedua laporan tersebut juga menunjukkan bahwa Eric Schmidt, yang baru-baru ini mengundurkan diri sebagai ketua Alfabet, memimpin Dewan Inovasi Pertahanan. Itu adalah sebuah komite penasihat federal yang didirikan pada tahun 2016 “untuk mendorong adopsi terobosan teknologi militer,” dan yang telah mengembangkan rekomendasi bagaimana Departemen Pertahanan dapat lebih memanfaatkan peralatan dari Silicon Valley untuk berperang ke luar negeri.

Gizmodo, yang mengutip notulen pertemuan, mencatat bahwa “beberapa anggota tim Dewan itu adalah bagian dari kelompok pengarah eksekutif yang dapat memberikan masukan cepat” pada Project Maven. Direktur Pentagon telah menyatakan harapan bahwa proyek tersebut akan menjadi “percikan yang menyalakan api bagian depan kecerdasan buatan menuju seluruh Departemen Pertahanan.”

 

 

Sumber: commondreams

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *