Surat Terbuka Al-Qaeda Kepada Aktivis Jihad Media

Ideolog Al Qaeda Menyeru Aktivis Media Untuk Tetap Bersikap Adil Dan Menjunjung Akhlak Islam

Pada Senin (5/3) lalu, Devisi Media Al Qaeda, As-Sahab, merilis surat terbuka yang ditujukan kepada para aktivis jihad media, terkhusus kepada para pendukung, penuntut ilmu dan ulama jihadis. Menurut  Awwab bin Hasan Al-Hasani, penulis surat tersebut, artikel-artikel yang ditulis para islamis dan akun-akun media sosial milik para aktivis yang bekerja untuk agama (al-‘amilin lid diin) pada abad ke 15 Hijriah ini telah terjerumus ke dalam jurang sangat dalam, sehingga membuat kening orang mukmin berkerut.

Ia menulis, “Saya melihat sendiri beberapa kanal media sosial khusus yang beranggotakan beberapa ahli ilmu, cendikiawan, dan jihadis yang bertujuan melakukan reformasi (tajdid) Islam, mengembalikan Islam sebagaimana pada kondisi generasi awal (generasi sahabat), dan mengembalikan khilafah Islam sesuai dengan cara yang ditempuh oleh generasi awalnya, justru berisi saling melaknat, mencaci, mengejek, serta memanggil dengan gelar-gelar yang buruk, sehingga kanal-kanal mereka tersebut pantas disebut dengan kanal-kanal produsen kedustaan dan rumah-rumah kebohongan.”

Al-Hasani sangat menyayangkan manakala tulisan-tulisan islamis justru keluar dari prinsip-prinsip akhlak Islam dan melenceng dari yang seharusnya. Barangkali mereka tersebut berusaha berpenampilan islami melalui tweets atau status-statusnya, namun sebenarnya tulisan mereka mengandung budaya sekuler dalam bentuknya yang paling buruk tanpa mereka sadari dan tanpa mereka sengaja.

(Baca juga: Al-Qaeda Mengutuk Keras Serangan di Ghouta)

Hal ini karena realita tulisan seakan-akan mengajak untuk memisahkan moral (akhlak) dari agama. Kanal-kanal tersebut memang sering membagikan kuliah-kuliah dan ceramah-ceramah keagamaan, namun di sisi lain, status-status dari kanal tersebut tidak mencerminkan akhlak Islam. Atas kenyataan tersebut, hari ini, mata pena-pena memerlukan nasihat untuk menjaga kehormatan dan keutamaan mereka dan melindungi tinta-tinta dari kehinaan dan kerendahan kalimat-kalimat.

Seorang Mukmin akan melihat saudaranya sebagaimana ia melihat dirinya sendiri. Ia tidak akan menzaliminya dengan satu kata pun; tidak menghinanya dan tidak berkata yang buruk tentangnya meski bagaimana pun keadaannya; bahkan ia tidak akan menuliskan apa pun tentangnya kecuali jika ia ridha tulisan itu ditujukan untuk dirinya sendiri. Ini merupakan di antara prinsip-prinsip akhlak Islam yang mulia. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Tidak (sempurna) keimanan salah seorang di antara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”

Kaidahnya, setiap mereka yang ingin menanggapi atau mengomentari tulisan saudaranya seyogianya membayangkan bahwa tulisan itu ditujukan untuk dirinya sendiri. Jika ia ridha apabila tanggapan atau komentar itu ditujukan kepada dirinya sendiri, barulah ia kirim tulisan itu kepada saudaranya. Namun jika sebaliknya, ia tidak akan mengirimkannya kepada saudaranya.

Siapa pun yang memerhatikan status-status atau artikel-artikel islamis pada hari ini pasti berharap bahwa seandainya mereka (para aktivis media) menempatkan diri mereka sebagai saudara mereka sendiri. Jika tidak demikian, niscaya mereka akan merasa malu saat bertemu Allah kelak atas berbagai status yang ditulis oleh kedua tangannya. Karena boleh jadi, luka yang disebabkan pena lebih perih dibanding luka oleh anak panah. Begitu juga, terkadang pena seorang penulis lebih tajam dibanding pedang seorang prajurit.

Dalam pandangannya, perbuatan tercela tersebut pasti bersumber dari hawa nafsu yang menguasai diri seseorang, terkhusus nafsu kemarahan. Oleh itu, obatnya adalah mengekang dan membelenggu nafsu kemarahan tersebut dengan tali kekang dan belenggu yang kuat, dengan niat untuk memperbaiki dan mendidiknya menuju kemuliaan akhlak.

(Baca juga:  Metamorfosis Al-Qaeda; 3 Fase Perubahan Struktur Pasca Peristiwa 11/9)

Seyogianya setiap penulis menjaga penanya agar tidak menyakiti seorang Muslim pun; dengan apa pun bentuknya, serta tidak mengomentari tulisan seseorang yang masih global dengan penuh cacian, laknat, dan debat kusir yang tiada kesudahan dan kebaikannya. Padahal Rasulullah SAW pernah mengingatkan, “Seorang Mukmin (yang sempurna imannya) bukanlah seorang yang cuka mencela, melaknat, dan berkata kotor” [HR. Ahmad, no. 3646].

Al-Hasani juga menegaskan bahwa mata pena-pena yang keluar dari prinsip-prinsip akhlak Islami laksana kepala-kepala setan; yang tanduk-tanduknya digerak-gerakkan dengan tujuan untuk menimbulkan fitnah dan keburukan, sementara lambungnya digesek-gesekkan dengan tujuan menimbulkan kerusakan dan bahaya. Hari ini tampak bagaimana mata-mata pena berhasil menjadi pemicu pertengkaran di kalangan suadara-saudara se-Islam dan para aktivis Islam. Cukuplah kondisi kanal-kanal media sosial hari ini sebagai saksi yang melihatnya.

Oleh itu, di antara resep untuk mengatasi hal tersebut adalah berusaha berlaku adil dan proporsional. Adil merupakan perhiasan orang-orang mulia. Terimalah kebenaran dalam diri Anda dengan lapang dada; jangan dengan berat hati. Menerima kebenaran dengan berat hati dapat memperburuk kondisi seseorang. Sedikitnya akhlak adil dapat menjauhkan antara dua orang aktivis Islam. Betapa banyak hubungan yang dingin antara dua orang saudara atau dua orang teman berawal dari: pengingkaran salah seorang di antara keduanya atas sebagian keutamaan yang dimiliki oleh yang lainnya, dan bantahan atau suatu pendapat atau riwayat hadits yang ia sendiri tahu bahwa hal itu benar adanya.

Jiwa yang masih tersisa kebaikan dalam dirinya tidak sulit untuk bersikap adil. Manakala seseorang merasa bahwa pihak lain mengingkari keutamaannya, atau merasa berat jika pendapatnya dibantah, maka ia akan melihat orang tersebut bukanlah orang yang tepat untuk: dijadikan teman, bergaul dengannya, dan mendukungnya.

Bahkan akan terdetik dalam hatinya agar lebih baik tidak menyebut namanya dan bertemu dengannya. Bagaimana pun, pakaian adil merupakan suatu kemulian. Orang yang memakainya perlu banyak melatih jiwanya sampai ia mampu mencapai tingkat orang yang telah tertanam akhlak dan keutamaan pada dirinya.

(Baca juga:  Ketika Al-Qaeda Begitu ‘Dirindukan’ di Hadramaut Yaman)

Sikap adil menunjukkan pemiliknya berjiwa tenang dan senantiasa melihat jauh ke depan. Barang siapa yang melihat pada lawan (diskusinya) terdapat keutamaan, maka seyogianya ia hanya membatasi pada persoalan yang diperdebatkan, bukan justru menafikan semua kebaikannya. Para aktivis Islam juga seyogianya menyadari kondisi-kondisi di mana dorongan-dorongan untuk mengingkari kebenaran semakin menguat, sehingga ia bisa mempersiapkan diri agar tetap bersikap adil dan melawan dorongan-dorongan tersebut semampunya. Ini agar ia tidak terjerumus dalam jurang kedengkian atau kecintaan pada posisi di atas semua orang, meski ia tidak berada di atas kebenaran.

Menurut Al-Hasani, poin lain yang tak kalah penting yaitu hendaknya para aktivis media menjunjung tinggi ilmu dan memiliki rasa hormat kepada para ulama. Ia menulis, “Wahai pemilik pena! Alangkah kita membutuhkan sikap: menghormati ahli ilmu, berusaha menyatukan kalimat, melekatkan hati-hati (kita), menenun kembali ikatan yang terurai, dan menjauhi perbuatan yang bisa menimbulkan kecemburuan dan menyebarkan api dalam sekam.”

 

Sumber: As-Sahab Telegram, risala

 

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *