Islamophobia, dari Pelecehan hingga Pelarangan Jilbab dan Cadar

Komentar dan Penilaian terhadap Buku ini

“Sejak peristiwa 9/11 tindakan kebencian yang diarahkan pada komunitas Muslim telah menjadi salah satu isu sosial paling penting di masyarakat kontemporer. Melalui penelitian yang memecah kebuntuan ini, para ahli terkenal, Zempi dan Chakraborti telah menghasilkan karya hebat yang merinci kerugian yang disebabkan oleh kebencian Islamofobia yang ditargetkan terhadap wanita bercadar. Temuan mereka, yang secara cemerlang diuraikan dalam buku ini, menawarkan wawasan baru dan penting mengenai sifat dan dampak aspek gender dari Islamofobia dan menunjukkan mengapa Islamophobia, Victimisation and the Veil akan menjadi teks penting bagi ilmuwan dan praktisi yang bekerja di bidang ini.” Jon Garland, Universitas Surrey, Inggris

“Zempi dan Chakraborti telah menghasilkan analisis yang tepat waktu, penuh wawasan dan berwibawa tentang hubungan antara Islamofobia, visibilitas, pelecehan dan wacana cadar. Dengan menginterogasi cadar sebagai penanda ‘pembeda’ Muslim, mereka mengekspos bagaimana stereotip populer ini berkontribusi terhadap intoleransi terhadap Wanita Muslim bercadar, dan juga hubungan global antara Islam dan Barat. Mereka dengan terampil memadukan riset empiris mutakhir dengan kritik dan kerentanan yang lebih besar untuk menawarkan analisis yang sangat dibutuhkan, dapat diakses dan unik mengenai dimensi gender dari pelecehan Islamofobik ini” Gail Mason, Universitas Sydney, Australia

“Seiring dengan terus berkembangnya keilmuan bidang kejahatan kebencian kontemporer di Inggris, dengan buku ini, Zempi dan Chakraborti telah memberi kontribusi signifikan terhadap pengetahuan dan pemahaman kita tentang sebuah isu yang sampai sekarang belum banyak diteliti oleh literatur yang ada. Ada banyak pengetahuan yang terkandung dalam buku yang mudah diakses ini. Mengingat wacana politik dan sosial saat ini, buku ini harus dibaca oleh akademisi, pembuat kebijakan, dan praktisi.” Nathan Hall, Universitas Portsmouth, Inggris

 

Ulasan Isi Buku Ini

‘Saya berjalan di jalan dan orang-orang melihat saya seperti mereka telah melihat alien’.

Alima, 20 tahun

‘Orang-orang menghindar dari kami karena jika mereka berada di dekat kami, mereka mungkin terkontaminasi. Ini membuat kami merasa seolah kami kotor’.

Peserta Focus group

‘Menarik cadar saya adalah serangan yang sangat pribadi. Rasanya seperti serangan seksual’.

Haleemah, 32 tahun

‘Semuanya adalah penjara sekarang. Begitulah, hidupku telah menjadi seperti penjara; Di mana-mana ada penjara. Saya terpaksa tinggal di rumah saya sehingga mereka membuat saya menjadi tahanan. Mereka menindas saya’.

Maha, 40 tahun

 

Ungkapan-ungkapan diatas merupakan beberapa contoh bentuk kerawanan yang dihadapi oleh wanita Muslim yang mengenakan niqob (cadar). Mereka merupakan korban aktual dan potensial dari Islamofobia dan menyoroti dampak kumulatif dari jenis pelecehan terhadap mereka.

Visibilitas cadar menandai wanita Muslim sebagai sangat rentan terhadap serangan anti-Muslim di ranah publik. Memang, pemakaian cadar telah mendapat banyak liputan media, politik dan publik di Inggris dan tempat lain di Barat pada era pasca-peristiwa 9/11.

Dalam kerangka ini, cadar dipandang sebagai penanda ketidaksetaraan jender. Dengan demikian, wanita Muslim bercadar secara rutin dianggap tertindas dan ditundukkan, sementara Islam dipahami sebagai agama misoginis dan patriarkal.

Penggunaan cadar tidak hanya identik dengan penindasan gender tapi juga dengan terorisme Islam dan kurangnya integrasi. Dalam hal ini, cadar dianggap berbahaya bagi keselamatan publik karena penutup wajah ini menghalangi identifikasi. Penggunaan cadar juga dipahami sebagai penanda pemisahan atas dasar bahwa perempuan Muslim yang bercadar menolak untuk bergabung ke dalam masyarakat Barat.

Secara bersamaan, stereotip-stereotip ini memberikan justifikasi untuk melakukan serangan Islamofobia terhadap wanita Muslim yang bercadar. Hal itu sebagai alat tanggapan atas banyak ‘ancaman’ cadar sebagai simbol ketidaksetaraan gender, fundamentalisme agama dan pemisahan diri.

Ada banyak literatur yang menunjukkan bahwa wanita Muslim bercadar merupakan sasaran ‘ideal’ bagi mereka yang ingin menyerang simbol Islam (lihat, misalnya, Allen, Isakjee dan Young, 2013; Githens-Mazer dan Lambert, 2010). Namun, terlepas dari kerentanan wanita Muslim bercadar sebagai korban aktual atau potensial dari Islamofobia, sifat dan bahaya yang lebih luas yang terkait dengan pelecehan ini tetap ‘tak terlihat’.

Seperti bentuk kejahatan kebencian lainnya, korban prasangka dan kebencian anti-Muslim sering enggan untuk berbagi pengalaman mereka dengan polisi atau otoritas lainnya. Fakta bahwa pelecehan Islamofobia adalah fenomena yang tidak dilaporkan (dan topik yang kurang mendapat pehatian untuk diteliti) menunjukkan bahwa wanita Muslim bercadar sering menderita dalam keheningan.

Sekarang ini semakin banyak komentator yang mulai membedakan antara permusuhan Islamofobia (yaitu permusuhan yang diarahkan pada Islam) dan permusuhan anti-Muslim (yaitu permusuhan yang diarahkan pada orang-orang Muslim). Penting untuk dicatat bahwa kita menggunakan kedua istilah ini secara bergantian untuk menyoroti kerentanan wanita Muslim bercadar sebagai korban pelecehan jenis ini, terutama karena cadar dipandang sebagai simbol Islam.

Dengan latar belakang ini, para penulis mengkaji pengalaman hidup para wanita Muslim yang mengenakan cadar di tempat umum. Secara khusus, penelitian ini menyelidiki sifat pelecehan Islamofobik yang ditujukan pada wanita Muslim yang bercadar di depan umum. Penelitian ini juga mengeksplorasi dampak dari pelecehan terhadap wanita Muslim yang bercadar, keluarga mereka dan komunitas Muslim yang lebih luas.

Dengan menggunakan kota Leicester Inggris sebagai wilayah studi penelitian, kedua penulis menggunakan berbagai metode seperti wawancara individu dan kelompok fokus dengan wanita Muslim bercadar, wawancara individual dengan pemangku kepentingan utama dan pembuat kebijakan dari organisasi lokal, dan pendekatan etnografi yang mensyaratkan mengenakan cadar untuk waktu yang lama di berbagai belahan kota.

Seperti yang akan dibahas secara lebih mendalam di Bab 3, Leicester adalah situs yang ideal untuk melakukan penelitian ini mengingat keragaman agama, budaya dan etnis dan populasi Muslim yang besar.

 

Baca halaman selanjutnya: Ulasan Singkat Masing-masing Bab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *