Islamophobia, dari Pelecehan hingga Pelarangan Jilbab dan Cadar

Ulasan Singkat Masing-masing Bab

Berikut adalah ulasan singkat isi masing-masing bab dalam buku ini.

Bab 1: Konstruksi Islam, Gender dan Cadar (Constructions of Islam, Gender and the Veil), mengkaji persepsi kolonial dan populer tentang cadar dan menjelaskan pentingnya kerangka kerja ini bagi wanita Muslim bercadar. Bukti menunjukkan bahwa di zaman kolonial cadar dipandang sebagai simbol penindasan gender sekaligus merupakan tanda eksotisme. Dalam pengertian ini, ‘pembebasan’ wanita bercadar menjadi menyatu dengan motivasi ekspansi imperial.

Setelah peristiwa serangan 9/11 dan 7/7, stereotip populer semakin menggambarkan cadar sebagai simbol fundamentalisme Islam dan pemisahan diri serta pertanda ketidaksetaraan jender.

Bab ini menggambarkan bagaimana cadar telah -dan terus berlanjut- dianggap sebagai simbol Muslim ‘sebagai pihak lain’ dan menunjukkan bahwa visibilitas publiknya adalah kunci untuk membangun stereotip yang mengidentifikasinya sebagai penanda ‘perbedaan’ Muslim.

Bab 2: Mengungkap Pelecehan Islamofobik (Unveiling Islamophobic Victimisation) menunjukkan bagaimana stereotip-stereotip tersebut ‘melegitimasi’ tindakan kekerasan dan permusuhan yang diarahkan pada wanita Muslim yang bercadar saat mereka terlihat di depan umum. Bab ini mendefinisikan Islamofobia dan menafsirkan pelecehan Islamofobik melalui kacamata gender.

Dengan perspektif ini, gender mengawali manifestasi Islamofobia atas dasar bahwa visibilitas cadar, ditambah dengan persepsi populer tentang wanita Muslim bercadar seperti tertindas, berbahaya dan terpisah, menandainya sebagai ‘unik’ yang rentan terhadap manifestasi publik Islamofobia. Dimensi gender Islamofobia menawarkan wawasan berharga tentang proses dimana wanita Muslim bercadar diidentifikasi dan kemudian mengalami pelecehan Islamofobia di ranah publik.

Bab 3: Penelitian Islamofobia dan Cadar (Researching Islamophobia and the Veil) menyajikan metodologi yang digunakan sebagai basis kerja empiris dan menguraikan alasan di balik pendekatan kualitatif yang diambil oleh kedua penulis. Bab ini membahas aspek praktis dari metodologi penelitian itu, termasuk proses pengembangan kerangka kerja wawancara, pelibatan peserta dan menganalisis materi penelitian.

Bab ini juga membahas persamaan dan perbedaan antara peneliti dan obyek penelitian yang dibingkai oleh pengertian tentang status ‘orang dalam’ dan ‘orang luar’. Seperti yang akan dilihat, menjadi ‘orang luar’ dalam konteks penelitian tentang sifat ini dapat bermanfaat bagi proses penelitian dengan memungkinkan peneliti memperoleh tanggapan yang mendalam sementara pada saat yang sama mempertahankan jarak kritis dari data wawancara.

Bab 4: Menyingkap Pelecehan Islamofobik (Uncovering Islamophobic Victimisation) mengungkapkan sifat pelecehan Islamofobik yang ditujukan pada wanita Muslim yang bercadar. Bab ini menunjukkan bahwa pengalaman penganiayaan Islamofobik -terutama jenis pelecehan ‘tingkat rendah’​​- jarang merupakan insiden satu kali atau berdiri sendiri namun merupakan bagian dari rangkaian Islamofobia yang lebih luas yang dialami oleh wanita Muslim bercadar di tempat umum.

Akibatnya, bentuk pelecehan ini ternormalisasi sehingga dipahami sebagai hal yang ‘biasa’ dan ‘normal’ dialami oleh wanita Muslim bercadar.

Dalam Bab 5: Dampak Pelecehan Ismlamofobik (Impact of Islamophobic Victimisation), kedua penulis menggambarkan bahwa ketakutan untuk diserang dan insiden pelecehan Islamofobik dapat memiliki konsekuensi signifikan dan berkelanjutan bagi wanita Muslim bercadar, keluarga mereka dan komunitas Muslim yang lebih luas. Pengalaman sehari-hari dari manifesto eksplisit dan implisit dari Islamofobia ini menghasilkan, antara lain, perasaan rendah diri, kehilangan kepercayaan diri dan harga diri, depresi, kilas balik, rasa bersalah dan menyalahkan diri sendiri.

Selain itu, insiden pelecehan Islamofobia cenderung meningkatkan perasaan tidak aman, rentan dan takut diantar para wanita Muslim yang bercadar. Akibatnya, ancaman pelecehan Islamofobia membatasi pergerakan dan interaksi sosial para korban aktual dan potensial, sehingga mengakibatkan isolasi sosial.

Akhirnya, di Bab 6: Kesimpulan dan Refleksi (Conclusions and Reflections) kedua penulis mencatat tema utama yang muncul dari temuan penelitian dan menawarkan kerangka kerja yang lebih bernuansa untuk memahami kerentanan wanita Muslim bercadar sebagai korban potensial kebencian dan prasangka anti-Muslim. Kerangka ini mengakui adanya interaksi antara berbagai aspek identitas ‘terlihat’ dan faktor situasional lainnya.

Kedua penulis berpendapat bahwa kerentanan wanita Muslim bercadar terhadap serangan Islamofobia di tempat-tempat umum bergantung pada visibilitas identitas Muslim mereka ditambah dengan visibilitas aspek ‘lain’ dari identitas mereka. Di samping itu juga dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti ruang, laporan media lokal, peristiwa nasional dan internasional yang terkait dengan Islam, Muslim dan cadar.

Dalam kerangka ini, kedua penulis mempertimbangkan apa yang dapat dilakukan untuk mendukung mereka secara lebih efektif, dan dengan berbuat demikian, kita membuat pendekatan yang lebih bernuansa dengan melibatkan wanita Muslim bercadar sebagai korban Islamofobia; suatu pendekatan yang mengakui beberapa kerentanan mereka dan yang mempertimbangkan kebutuhan budaya dan keagamaan mereka yang berbeda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *