Strategi Snouck Lemahkan Hukum Islam: Posisikan Hukum Islam di Bawah Hukum Adat (Bag. 2)

 

Bagi Snouck, pengembangan Adat dan budaya akan bisa membatasi meluasnya pengaruh ajaran Islam, terutama yang berkaitan dengan hukum dan peraturan. Konsep untuk membendung dan mematikan pertumbuhan pengaruh hukum Islam adalah dengan “Theorie Receptie”. Snouck berupaya agar hukum Islam menyesuaikan dengan Adat istiadat dan kenyataan politik yang menguasai kehidupan pemeluknya.

Menurut Snouck, Islam jangan sampai mengalahkan Adat istiadat. Hukum Islam akan dilegitimasi serta diakui eksistensi dan kekuatan hukumnya hanya jika sudah diadopsi (Receptie) menjadi hukum Adat. Proses ini berusaha membenturkan hukum Islam dan Adat yang pada tingkat tertentu menjadikan hukum Islam sebagai hukum yang inferior.

Theorie Reseptie berkaitan dengan kerangka awal pemikiran Christiaan Snouck Hurgronje untuk mepertentangkan hukum Adat dan hukum Islam. Pada teori ini dia mendukung hukum Adat dan kaum Adat untuk melenyapkan pengaruh Islam dan hukum Islam di Hindia Belanda. Teori resepsi sengaja dibangun dan dibela sekuat tenaga sehingga menjadi kerangka “ideal” yang “paling tepat” (bagi Belanda) dalam pelaksanaan hukum di Hindia Belanda. Teori ini sebenarnya untuk menggulingkan pengaruh hukum Islam. Ketika hukum Islam berhasil dikalahkan oleh hukum Adat, maka menurut kepentingan teori resepsi, hukum Adat akan dimatikan dan semua diganti hukum Eropa.

(Baca artikel terkait:   Strategi Snouck Melemahkan Hukum Islam: Benturkan dengan Adat!)

Gagasan Snouck tentang keungguluan Adat yang kemudian diterjemahkan oleh para ahli hukum sebagai keunggulan hukum Adat atas hukum Islam (Adat recht politic). Dalam konsep ini hukum Islam baru bisa diakui sebagai hukum yang sah bila masalah yang sama diakui dalam hukum Adat. Snouck berdalih, dalam penelitiannya di beberapa daerah, ia mengaku menemukan fakta bahwa sebagian besar masyarakat memang telah memeluk Agama Islam dan mengetahui ajaran-ajarannya. Namun dalam pelaksanaannya masyarakat banyak melanggar ketentuan tersebut. Dalam istilah Snouck, telah terjadi ketidaksesuaian antara teori dan praktek. Sehingga dalam karangan monumentalnya tentang Aceh (The Aceh), Snouck menulis;

“Kontras antara doktrin dan kehidupan nyata umat Islam nampak dalam politik paling  bersahaja sekalipun. Ajaran, doktrin dan buku-buku hukum Agama mengenai “Lima Rukun Islam” berfungsi sebagai kewajiban bagi siapa saja yang ingin mematuhi kewajiban dasar Agamanya. Tetapi dalam pada itu, mayoritas terbesar pemeluk Agama Islam sangat jauh dari ketentuan ini, baik dalam hal ketentuan teoritisnya apalagi dalam praktek pematuhannya……”

Snouck juga menunjuk beberapa praktek keagamaan di Aceh dan Jawa, seperti tahayul dan pemujaan orang-orang suci sebagai bukti kesenjangan antara teori dan praktek dalam pengamalan Agama Islam. Orientasi ini menyebabkan Snouck dan yang lainnya memahami Islam di Indonesia sebagai versi Islam yang menyempal dan rusak hingga titik dimana praktek-praktek yang populer berbeda dari apa yang dituntut dalam teks-teks fiqh.

(Baca juga:  Sekularisasi Snouck: Jadikan Islam Hanya Sebagai “Agama Masjid”)

Oleh karena itu Snouck menyoroti pola pembagian waris di Jawa dan Madura. Menurutnya orang-orang Islam di Jawa dan Madura hanya cenderung membagi warisan di bawah tangan di desanya menurut Adat yang berlaku. Data yang dikumpulkan oleh Snouck inilah yang dikemudian hari dijadikan bukti oleh pemerintah kolonial untuk menyatakan bahwa hukum kewarisan Islam belum diterima dan diakui oleh hukum Adat.

 

Lanjut ke halaman berikutnya……