Lebih dari 1.400 Sipil Tewas Akibat Bombardier Pasukan Assad di Ghouta Timur

Dilaporkan bahwa lebih dari 1.400 orang telah meninggal ketika pasukan pemerintah berusaha menyerbu Ghouta Timur. Pasukan Assad terus membombardir daerah yang diklaim sebagai kantong perlawanan di tengah laporan kematian 16 anak-anak dan 4 wanita yang berlindung di sekolah.

Sedikitnya 56 orang tewas dalam serangan udara oleh pesawat perang Suriah dan Rusia di Ghouta Timur, menurut White Helmet, sebuah organisasi kemanuasiaan yang beroperasi di wilayah Suriah yang dikuasai pejuang perlawanan.

Pada Senin (19/3) malam, sedikitnya 16 anak dan empat wanita dilaporkan tewas setelah berlindung di sekolah di kota Irbin, yang terkena serangan udara.

(Baca juga:  Pembantaian Ghouta: 674 Warga Terbunuh dalam 14 Hari Serangan)

Aktivis mengatakan kepada Al Jazeera bahwa kematian itu terjadi ketika pemboman pemerintah terhadap daerah itu kembali dilancarkan setelah jeda sebentar.

TV pemerintah Suriah jug melaporkan pada hari Selasa (20/3) bahwa setidaknya 35 orang tewas setelah roket ditembakkan ke daerah yang dikendalikan pemerintah di Damaskus.

Kantor berita SANA menyalahkan “teroris di Ghouta Timur” karena menembakkan roket, yang telah menargetkan pasar di lingkungan Kashkoul di Jaramana, pinggiran tenggara Damaskus.

Ghouta Timur, yang telah berada di bawah kontrol pejuang sejak pertengahan 2013, saat ini berada di bawah kampanye pemboman tanpa henti, yang dilancarkan oleh pasukan Suriah yang didukung Rusia sebulan yang lalu.

Menurut PBB, ratusan orang telah tewas ketika pasukan pemerintah dan Rusia berusaha mengusir kelompok-kelompok oposisi bersenjata dari Ghouta Timur. Para aktivis kemanusiaan mengatakan, jumlah korban tewas jauh lebih tinggi, dilaporkan setidaknya 1.400 tewas.

Jaish al-Islam, salah satu kelompok perlawanan di daerah itu, melancarkan serangan balasan pada hari Senin, kata aktivis. Pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad dilaporkan telah menguasai 80 persen daerah kantong perlawanan.

(Baca juga:   Menyayat Hati, Kisah Nyata Seorang Ibu Tepat di Bawah Hujan Bom Ghouta)

Alina Jazeera Zeina Khodr, yang melaporkan dari Beirut di negara tetangga Lebanon, mengatakan bahwa pembicaraan antara Rusia dan pejuang pemberontak “terjadi”, namun pemboman baru tersebut merupakan indikasi bahwa perundingan tidak “berjalan dengan baik”.

Sementara aliansi pro-pemerintah menuntut penyerahan penuh, pemberontak menginginkan kesepakatan gencatan senjata, kata wartawan kami.

“Mereka sekarang dalam posisi lemah, dan wilayah yang dikuasai pemberontak semakin menyusut, terutama di kota Douma … dan Irbin,” katanya.

‘Kejahatan perang’

Meskipun ribuan orang telah mengungsi ke berbagai tempat penampungan di wilayah yang dikuasai pemerintah, sekitar 340.000 lainnya masih terjebak dalam, menderita kekurangan makanan akut dan kekurangan pasokan medis, kata para aktivis kepada Al Jazeera.

Orang-orang di Ghouta Timur telah meminta dukungan internasional dan para pengawas untuk ditempatkan di lapangan guna memastikan keselamatan dan perlindungan mereka jika pasukan pemerintah merebut lebih banyak wilayah di daerah itu.

Pada hari Senin, Assad mengunjungi pos-pos tentara di daerah tersebut. Aliansi pro-pemerintah menganggap operasi terbaru sebagai kemenangan, sementara organisasi hak asasi manusia menyatakan keprihatinan atas warga sipil yang musnah.

Lama Fakih, wakil direktur Human Rights Watch Timur Tengah, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa untuk menjamin keamanan orang-orang yang melarikan diri dari Ghouta Timur, “kita perlu memiliki pemantau di lapangan”.

“Tidak ada yang perlu diingatkan tentang pelanggaran yang kami lihat di tempat-tempat penahanan oleh pasukan pemerintah,” katanya. “Dari penyiksaan, penganiayaan, kekerasan seksual dan bahkan eksekusi mati.”

Pernyataan Fakih muncul saat para aktivis di dalam wilayah yang diblokade tersebut melaporkan penangkapan banyak orang yang berusaha mengungsi ke wilayah yang dikuasai pemerintah.

(Baca juga:  Ghouta Timur, Bukti PBB Kalah Dengan Negara Bahkan Organisasi)

Kepala hak asasi manusia PBB, Zeid Ra’ad al-Hussein mengatakan bahwa pengepungan dan blokade atas Ghouta Timur “telah mengakibatkan peningkatan kejahatan perang,” contohnya “penggunaan persenjataan kimia, sengaja membuat kelaparan sebagai senjata perang, dan pelarangan bantuan penting dan menyelamatkan nyawa, yang puncaknya adalah pemboman tanpa henti selama sebulan”.

Zeid Ra’ad al-Hussein membuat pernyataan itu saat pertemuan informal Dewan Keamanan PBB pada hari Senin setelah manuver Rusia menghalanginya berbicara pada sesi pertemuan resmi.

 

 

Dari:  aljazeera

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *