Amerika Rogoh Kocek 5,6 Triliun Dolar Setelah 15 Tahun Perang Irak

Maret ini menandai 15 tahun invasi pimpinan AS ke Irak. Maret tahun 2003, Presiden George W. Bush dan penasihatnya mendasarkan alasan mereka untuk perang karena asumsi bahwa Saddam Hussein, diktator Irak kala itu, memiliki senjata pemusnah massal – senjata yang tidak pernah ditemukan. Namun demikian, bertahun-tahun kemudian, “Perang Global terhadap Teror” Bush berlanjut – di Irak dan di banyak negara lain.

Perang melawan teror adalah perang yang terlama dalam sejarah AS dan telah merugikan orang Amerika dan jutaan orang lainnya di seluruh dunia.

(Baca juga:  Taliban Rilis Data Kekalahan Amerika Selama 2017 di Afghanistan)

Pertama, biaya ekonomi: Menurut perkiraan proyek Costs of War di Brown University’s Watson Institute for International and Public Affairs,  perang melawan teror telah merugikan orang Amerika sebesar 5,6 triliun dolar AS sejak 2001, ketika AS menginvasi Afganistan.

Ya, 5,6 triliun dolar AS. Angka ini tidak hanya mencakup dana perang Pentagon, tetapi juga kewajiban masa depan seperti layanan sosial untuk banyak veteran pasca 11/11 yang jumlahnya terus bertambah. Sulit bagi sebagian besar dari rakyat AS untuk memahami angka yang sangat besar.

Itu berarti Amerika menghabiskan 32 juta dolar AS per jam untuk perang War on Terror, menurut sebuah perhitungan yang dilakukan Proyek Prioritas Nasional di Institute for Policy Studies.

Dengan kata lain: Sejak tahun 2001, setiap pembayar pajak di Amerika telah menghabiskan hampir 24.000 dolar AS, untuk perang – sama dengan pembayaran uang muka rata-rata di rumah, Honda Accord baru, atau biaya pendidikan setahun di universitas negeri.

(Baca juga:   Perang Amerika Tanpa Korban, Itu Omong Kosong)

Pada 2015, ketika Cost of War membuat perhitungan terbaru, 165.000 warga sipil Irak telah tewas menjadi korban langsung perang AS, ditambah sekitar 8.000 tentara AS dan kontraktor militer di Irak. Angka-angka itu terus meningkat. Pada tahun 2017, 6.000 warga sipil tewas oleh serangan AS dan sekutu di Irak dan Suriah – korban sipil meningkat daripada di tahun sebelumnya, menurut kelompok pengawas AirWars .

Selain kematian langsung itu, setidaknya empat kali lipat orang di Irak yang meninggal akibat tidak langsung (efek samping) perang, seperti kekurangan gizi, kerusakan lingkungan, dan infrastruktur yang memburuk.

Sejak invasi 2003, kualitas perawatan kesehatan Irak menurun drastis – rumah sakit dan klinik dibom, persediaan obat-obatan kritis di berbagai daerah, dan ribuan dokter dan tenaga kesehatan mengungsi dari negara itu.

Sementara itu, perang terus menyebar ke seluruh dunia, tidak lagi terbatas pada Afghanistan, Irak, atau Suriah, seperti yang dipikirkan banyak orang Amerika. Militer AS telah meningkatkan jaringan operasi anti-teror di seluruh dunia – setidaknya di 76 negara , atau 40 persen dari seluruh jumlah negara di planet ini.

Oktober tahun lalu, berita tentang empat Baret Hijau yang dibunuh oleh afiliasi IS di negara Afrika Barat Niger memberi sinyal tentang seberapa luas jaringan ini. Dan bersamaan dengan itu datang semua konsekuensi militerisme yang menghancurkan bagi rakyat negara-negara ini.

Apakah biaya yang luar biasa ini sepadan? Apakah AS mencapai tujuannya untuk mengurangi ancaman teroris global? Jawabannya tegas, tidak.

Aktivitas AS di Irak dan Timur Tengah hanya memicu pergolakan politik dan kerusuhan yang lebih besar. Koalisi pimpinan AS dilihat bukan sebagai kekuatan yang membebaskan, tetapi sebagai agresor dan penjajah. Ini telah menggerakkan perekrutan untuk pemberontakan terhadap AS dan sekutunya, dan sekarang ada lebih banyak kelompok teroris di Timur Tengah daripada sebelumnya.

 

Dari: original.antiwar

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *