Hadapi Aksi Damai Palestina, Israel Bolehkan Bunuh Demonstran

Tentara Israel telah mengirim lebih dari 100 penembak jitu ke perbatasan Jalur Gaza. Selain sniper, Israel juga mengirim pasukan militer dalam jumlah besar menjelang demonstrasi besar-besaran “Hari Tanah” di antara warga Gaza pada hari Jumat (30/3). Demonstrasi ini diperkirakan akan dihadiri 100.000 demonstran.

Tentara Israel diperintahkan untuk membunuh demonstran jika melewati perbatasan. Itu berarti, pihak militer diperbolehkan menembak sipil tak bersenjata. 

(Baca juga: Israel Rampas 2.500 Hektar Tanah Palestina di 2017)

Diplomat Israel membuat opini di dunia bahwa demonstrasi Palestina tersebut adalah bentuk “provokasi berbahaya”. Dengan hal itu Israel ingin mengambil keuntungan dari aksi yang sejatinya adalah aksi damai tersebut. Penembakan kepada warga sipil yang tak bersenjata jelas merupakan pelanggaran.

Israel ingin menggiring opini dunia bahwa siapapun yang tewas dalam aksi tersebut adalah tanggung jawab dan kesalahan Hamas. 

Titik-titik berbicara bahasa Inggris dari Kementerian Luar Negeri Israel menamai demonstrasi itu sebagai “Kampanye Konfrontasi yang dipimpin Hamas,” yang mengatakan Hamas membayar orang untuk berpartisipasi dengan tujuan akhir menghancurkan Israel.

(Baca juga:   Kekejaman Israel ke Orang Palestina Sudah Mendarah Daging)

Israel terus melakukan penyerobotan taah Palestina. Israel telah merampas sekitar 2.500 hektar tanah Palestina, menghancurkan 500 bangunan dan membangun delapan komplek pemukiman Yahudi baru pada tahun 2017, menurut laporan Palestine’s Land Research Centre (LRC).

Menurut laporan tersebut, Israel telah merampas tanah Palestina dengan “tujuan militer” dan “untuk membangun komplek pemukiman Yahudi” di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.

Laporan tersebut juga mencatat 900 insiden kekerasan dan serangan pasukan Israel di Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur.

Menurut lembaga hukum Israel dan Palestina, kegiatan pembangunan pemukiman Yahudi di Tepi Barat dan Yerusalem Timur meningkat tiga kali pada tahun 2017 dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

 

Sumber:  antiwar