Mengapa Kejahatan Bush Terlupakan? Karena Trump Lebih Mengerikan

Ketika Gina Haspel, wakil direktur CIA saat ini, yang pernah menjalankan sebuah penjara rahasia “situs hitam” di Thailand, di mana seorang tersangka terorisme disiksa dengan waterboarding, dan kemudian terlibat dalam menghancurkan bukti penyiksaan, akan dipilih bulan ini oleh Presiden Trump untuk menjadi kepala agen mata-mata, sekutu-sekutunya mengatakan bahwa dia telah mempelajari semuanya. Seorang teman Haspel yang bekerja di pemerintahan Obama mengatakan kepada New York Times, “Pengalaman saya bekerja dengannya adalah bahwa dia telah belajar dari kesalahan itu dan akan menjadi pemimpin CIA yang bijaksana dan teliti.”

Baiklah, kalau begitu. Sama halnnya, untuk John Bolton, yang menghabiskan tahun-tahun gelap yang sama dari pertengahan hingga akhir 2000-an sebagai “diplomat” dalam pemerintahan George W. Bush, sebutan aneh untuk seorang pakar kebijakan luar negeri yang tampaknya tidak pernah menjalani perang, kecuali yang dia mungkin harus benar-benar bertarung, saat di Vietnam.

(Baca juga:  Agenda Rahasia di Balik Kunjungan Para Jenderal Amerika ke Afghanistan)

Hanya beberapa minggu setelah dia menyerukan serangan militer pertama terhadap Korea Utara, sebuah langkah yang menurut beberapa ahli dapat menyebabkan 1 juta atau lebih banyak korban dalam pertempuran berikutnya, Bolton sekarang bersikeras bahwa dia sudah berubah, dan bukan orang seperti itu lagi.

CNN melaporkan pada hari-hari setelah Trump memilih John Bolton, pencetus ide perang Irak tahun 2003, untuk menjadi penasihat keamanan nasional, Bolton meyakinkan presiden ke-45 itu  agar “dia tidak memulai perang lagi.” Tetapi akhirnya ada kabar yang berhembus bahwa Bolton tidak memberikan janji apapun kepada Trump mengenai kebijakan perang. Bagaimanapun, banyak dari para pelobi di pemerintahan AS tampaknya berusaha meyakinkan publik bahwa orang semacam Bolton, adalah orang baik yang membuat beberapa kesalahan kecil di masa lalu, dan telah “insyaf” dan memulai lembaran baru.

Dan mengapa tidak mempercayai mereka? Maksud saya, apakah mereka dan teman-teman mereka dalam masa pertama pemerintahan Bush berbohong ketika mereka memberi tahu Amerika dan dunia bahwa Saddam Hussein menyembunyikan “senjata pemusnah massal,” atau bahwa program nuklir Irak terus berjalan, atau Pemerintahan Saddam memiliki hubungan dengan para teroris al-Qaeda yang menyerang AS pada tahun 2001 (meskipun 15 dari 19 penyerang berasal dari Arab Saudi yang bersahabat dengan AS)?

Tak perlu dijawab.

Tapi kemudian, orang Amerika pada umumnya  adalah tipe orang yang mudah memaafkan dan melupakan. Bagaimana lagi kita dapat menjelaskan rehabilitasi hampir total George W. Bush sendiri, yang meninggalkan Gedung Putih pada Januari 2009, kurang dari satu dekade lalu, dengan tingkat kepuasan publik di bawah 22 persen, berkat rakyat AS yang masih geram atas kesia-siaan tindakan AS di Irak dan kebijakan keuangan yang telah merusak ekonomi global hanya beberapa minggu sebelumnya.

(Baca juga:  Mengapa Taliban Mengajak Dialog Dengan Amerika, Bukan Rezim Kabul?)

Saat ini, tingkat penerimaan publik terhadap Bush telah meroket menjadi 59 persen. Sebagian besar disebabkan oleh perbandingan yang dilakukan publik terhadap sosok Bush dan Trump. George W. Bush mungkin telah menggunakan alasan palsu untuk meluncurkan perang yang menewaskan ratusan ribu orang di Irak, termasuk lebih dari 4.000 pasukan Amerika, dan menyerahkan perekonomian AS kepada para penipu di Wall Street, tapi setidaknya dia tidak bersikap kasar tentang hal itu, dan dia tidak melanggar norma demokrasi dalam melakukannya.

Awal bulan ini adalah peringatan tahunan ke-15 dimulainya Perang Irak, yang dianggap biasa-biasa saja. Hal ini adalah hal yang tidak biasa di negara di mana perayaan hari jurnalisme adalah sesuatu yang disambut bak ulang tahun raja. Tapi kemudian, sulit untuk mewujudkan Make America Great Again jika Anda terlalu lama berada pada lembah kegagalan yang sarat kebohongan yang terjadi di Teluk Persia. Orang-orang dari Irak benar-benar mengingat sesuatu secara berbeda.

Inilah yang dikatakan oleh penulis Irak Sinan Antoon awal bulan ini di majalah Times, setelah meratapi tidak hanya sebanyak 1 juta dari sesama warga negara yang meninggal tetapi juga kerusakan yang lebih luas di tanah airnya sejak 2003 (bahkan dengan penggulingan Saddam):

Invasi Irak sering dibicarakan di Amerika Serikat sebagai “kesalahan besar”, atau bahkan “kesalahan kolosal”. Hal itu adalah kejahatan. Mereka yang melakukannya masih buron. Beberapa dari mereka bahkan telah “direhabilitasi” (dilupakan kejahatannya) berkat kengerian Trump dan sebagian besar warga negara Amerika yang mengalami amnesia. (Setahun yang lalu, saya menonton Tuan Bush di ‘The Ellen DeGeneres Show,’ menari dan berbicara tentang lukisannya.) Para pakar dan “ahli” yang memacu kita untuk terus berperang masih terus melakukan apa yang mereka lakukan. Saya tidak pernah berpikir bahwa Irak bisa menjadi lebih buruk daripada selama masa pemerintahan Saddam, tetapi itulah perang yang dicapai Amerika dan diwariskan kepada rakyat Irak.

(Baca juga:  Amerika Rogoh Kocek 5,6 Triliun Dolar Setelah 15 Tahun Perang Irak)

Bagaimana Amerika bisa sampai pada keadaan amnesia ini? Sebagian kesalahan disalahkan pada kepemimpinan yang lemah; Barack Obama secara singkat memberikan tipuan kata kepada gagasan bahwa beberapa kejahatan terburuk di masa pemerintahan Bush dapat dihukum, tetapi Obama dan para stafnya tidak pernah melakukan apapun mengenai hal tersebut selama delapan tahun di Gedung Putih.

Penjelasan yang logis tampaknya adalah bahwa sebuah pertanggungjawaban tidak mungkin dilakukan oleh Amerika yang terbagi-bagi, bahwa penuntutan keadilan atas kejahatan perang tidak akan dilihat sebagai keadilan tetapi sebagai balas dendam partisan (antara Partai Republik dan Demokrat).

Tetapi itu juga lebih dari itu. Ada kolegialitas di antara para elit yang semuanya kuliah di universitas yang sama-sama mahal, orang-orang yang tidak mau mengakui bahwa elit-elit seperti mereka mungkin telah melakukan kejahatan perang. Bagaimana lagi menjelaskan popularitas  seorang cendekiawan seperti David Frum, mantan pembuat pidato Bush yang melontarkan frase “poros kejahatan” adalah hal yang mendorong Korea Utara untuk memulai kembali program nuklirnya yang sempat tidak aktif?

Tetapi bagi kita semua, ada keyakinan tak terbatas kita dalam “pengecualian Amerika”, bahwa ketika Amerika melakukan hal itu, maka, bagi mereka, hal tersebut tidak mungkin mencakup penyiksaan, atau penggunaan kekuatan militer secara kriminal karena… Maksud saya, kita adalah Amerika.

Bahkan setelah dua kejadian besar pasca-Perang Dunia II, Vietnam dan Watergate, era keterbukaan adalah hal yang sangat terbatas dan singkat sebelum Ronald Reagan menutupnya dengan visi tentang kota yang bersinar di atas bukit. Hal ini membebaskan kita untuk membuat kesalahan yang sama dalam waktu kurang dari satu generasi. Alasan utama bahwa orang-orang tersebut seharusnya dituntut atas penyiksaan yang melanggar hukum dan menutup-nutupi skandal pemerintahan pada tahun 2000-an yaitu bahwa penyiksaan adalah tidak bermoral dan salah.

Tetapi karena moralitas tampaknya tidak banyak menggerakkan orang pada masa sekarang, mari kita pertimbangkan konsekuensi praktisnya. Penolakan presiden kita saat ini untuk mengesampingkan kembalinya penyiksaan, atau untuk menutup penjara Amerika di Teluk Guantanamo, memainkan peran utama dalam melukai citra global Amerika Serikat, menghalangi segalanya mulai dari aliansi kita hingga branding perusahaan AS yang melakukan bisnis di luar negeri.

Tapi itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mimpi buruk Trump, yang masih bodoh dan belum teruji di panggung dunia, untuk meminta nasihat kepada orang-orang seperti Bolton, yang kegagalannya telah membuatnya direndahkan dan dipinggirkan akibat dari konsekuensi kesalahannya dalam kebijakan di Irak. Jabatan Bolton hari ini menempatkannya di jalan untuk membuat kesalahan yang sama persis, bahkan mungkin lebih mematikan daripada kejahatan yang dilakukan terhadap Irak.

Filsuf abad ke-20, George Santayana mengatakan bahwa “Orang-orang yang tidak dapat mengingat masa lalu akan dikutuk untuk mengulanginya,”. Tetapi mungkin Santayana akan tercengang pada kecepatan dan kesenangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat pada abad ke-21, yang persis seperti itu. Setidaknya ini adalah salah satu cara di mana Amerika benar-benar luar biasa.

 

*Artikel ini ditulis oleh Will Bunch, pertama kali muncul di situs philly.com

Sumber: philly