Ketika Terminologi “Bentrokan” Disalahgunakan

Ketidaksimetrisan kekuatan adalah salah satu bentuk konflik terbesar di dunia, namun media Barat masih berpegang pada framing “siklus kekerasan” antara dua belah pihak, dengan kedua sisi yang berkonflik digambarkan sebagai dua pihak yang setara.

Istilah clash, atau dalam bahasa Indonesia sering diartikan sebagai “bentrokan”, adalah istilah yang hampir selalu digunakan untuk meminggirkan ketimpangan kekuatan dan memberi kesan pada pembaca tentang dua pihak yang setara. Hal ini mengaburkan dinamika kekuatan dan sifat dari konflik itu sendiri, misalnya, siapa yang menyalahi terlebih dahulu dan senjata apa, jika ada, yang digunakan.

(Baca juga:  Ratusan Orang Hadiri Pemakaman Wartawan Palestina yang Tewas Ditembak Israel)

“Clash” adalah kata-kata terbaik bagi seorang reporter ketika mereka ingin menggambarkan kekerasan tanpa menyinggung siapa pun yang berkuasa, yang dalam kata-kata George Orwell, “untuk menyebutkan sesuatu tanpa menyebut kondisi mental mereka.”

Oleh karena itu, dapat diprediksi bahwa dalam liputan penembakan massal Israel baru-baru ini di Gaza, yang telah menewaskan lebih dari 30 warga Palestina dan melukai lebih dari 1.100, kata “bentrokan” digunakan untuk menyuarakan para penembak jitu dalam posisi berbenteng yang menembaki para pengunjukrasa tak bersenjata yang berjarak 100 meter, seperti berita utama di media mainstream berikut ini:

Jurnalis Di Antara 9 Orang Tewas dalam Bentrokan Terakhir di Gaza, Kata Pejabat Kesehatan Palestina (CNN, 4/7/18)
Pembakaran Ban, Gas Air Mata, dan Api Menyala: Bentrokan Gaza Mematikan (Washington Post, 4/6/18)
Demonstran Terluka karena Bentrokan Gaza Berlanjut (Reuters, 4/7/18)
Bentrokan Israel: Tujuh Warga Palestina Dibunuh di Demonstrasi di Perbatasan Gaza (Independent, 4/6/18)
Setelah Bentrokan Gaza, Orang Israel dan Palestina Berkelahi Dengan Video dan Kata-Kata (New York Times, 4/1/18)

Ini hampir sama anehnya dengan ketika beberapa media merujuk pada seorang nasionalis kulit putih yang mengendarai mobil ke kerumunan demonstran tak bersenjata di Charlottesville sebagai “bentrokan” (dikutip dari situs FAIR.org, 8/17/17):

Tentang Judul “Bentrokan” Charlottesville

Istilah “bentrokan” menyiratkan beberapa derajat simetri. Ketika di satu pihak banyak yang sedang sekarat dan di pihak yang lain sedang duduk di belakang tembok yang dijaga ketat, sambil menembaki orang yang tidak bersenjata dari jarak ratusan kaki (beberapa di antaranya mengenakan rompi bertanda “PERS”), maka hal ini bukan “bentrokan. Hal ini lebih akurat digambarkan sebagai “pembantaian”,atau paling tidak,”menembaki para pengunjuk rasa”. (Tidak ada orang Israel yang terluka, yang akan menjadi hal yang mengejutkan apabila kedua belah pihak memang benar-benar “bentrok”).

Istilah “bentrokan” tidak digunakan dalam melaporkan peristiwa yang melibatkan musuh-musuh AS. Pada tahun 2011, berita utama media di Barat secara rutin mendeskripsikan Moammar Gaddafi dari Libya dan Bashar al-Assad dari Suriah dengan kalimat “menembaki demonstran” (misalnya pada The Guardian, 2/20/11; New York Times, 3/25/11).

Bahasa Inggris benar-benar digunakan dengan baik ketika memberitakan orang-orang yang menjadi musuh bagi keamanan nasional AS, tetapi bagi sekutu Amerika Serikat, dorongan untuk menutupi fakta membutuhkan eufemisme yang semakin tidak masuk akal untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi, dalam hal ini, pembantaian manusia tak bersenjata.

Israel memiliki instrumen militer mutakhir: pesawat F35, Kapal  korvet Sa’ar, tank Merkava, dan rudal Hellfire, belum lagi aparat pengawasan paling intrusif di dunia; kontrol penuh atas udara, laut dan darat. Dalam aksi protes Great March of Return, orang-orang Palestina telah menggunakan batu, ban, dan, menurut IDF, sesekali bom Molotov, meskipun tidak ada bukti independen.

Ketidaksimetrisan kekuatan adalah salah satu konflik terbesar di dunia, namun media Barat masih berpegang pada penggunaan framing bentrokan sebagai sebuah”siklus kekerasan”, dengan “kedua pihak yang bertikai” digambarkan sebagai dua pihak yang setara. Istilah “bentrokan” memungkinkan mereka untuk melakukan hal ini selama-lamanya, tidak peduli seberapa berat kekerasan itu terjadi.

 

Sumber:  commondreams