Serangan Rudal AS ke Suriah, Serangan Basa-Basi Trump

Presiden AS Donald Trump mengumumkan pada hari Sabtu bahwa serangan rudal yang dipimpin AS di Suriah telah memenuhi target serangan, misi telah selesai. Trump juga menambahkan bahwa dirinya tidak memiliki niat meluncurkan serangan lebih lanjut terhadap Bashar al-Assad .

Pengumuman Trump keluar beberapa jam setelah pasukan AS, Prancis dan Inggris melancarkan serangan terhadap tiga wilayah, yang menurut presiden AS terkait dengan kemampuan senjata kimia Assad. (Baca juga: Dengan Alasan Senjata Kimia, Trump Resmi Serang Suriah)

Trump mengklaim bahwa serangan terkoordinasi itu dilakukan sebagai tanggapan terhadap dugaan penggunaan senjata kimia rezim Suriah di Douma pekan lalu, yang menewaskan sejumlah warga sipil. (Baca artikel terkait: Lagi, Serangan Kimia Rezim Hantam Sipil di Douma Suriah).

Klaim Trump di Twitter mengenai serangan jauh berbeda dari kenyataan di lapangan Suriah. Banyak indikator menunjukkan fakta bahwa serangan itu tidak melumpuhkan kemampuan pemerintah Suriah, juga tidak mempengaruhi moral Assad.

Perang di Suriah , yang memasuki tahun kedelapan pada 15 Maret, telah menyebabkan kehancuran sebagian besar kota-kota Suriah, menewaskan hampir setengah juta orang dan memaksa enam juta lebih untuk meninggalkan rumah mereka.

Serangan yang dilakukan AS itu, tidak dapat diharapkan untuk mengakhiri krisis berskala besar seperti Suriah.

Menurut beberapa analis, serangan hanya mencapai satu sasaran: tidak untuk memprovokasi pasukan Rusia di Suriah, sehingga meminimalkan kemungkinan peningkatan eskalasi antara Moskow dan Washington.

Bertentangan dengan bahasa dan ancaman Trump yang kuat sebelum serangan, misi itu tidak memiliki dampak apa pun dan hanya membantu rezim Assad untuk mendapatkan momentum moral baru.

Kegagalan ini, yang dikemukakan Trump sebagai pencapaian luar biasa, digemakan dalam pernyataan Perdana Menteri Inggris Theresa May , mengatakan serangan itu bukan tentang “perubahan rezim” atau “campur tangan dalam perang saudara”, tetapi “menghalangi penggunaan senjata kimia “oleh pemerintah Suriah.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian juga mengatakan bahwa serangan itu tidak menargetkan sekutu Suriah, mengacu pada Rusia atau Iran dan Hezbollah.

Bahkan Pentagon, Departemen Pertahanan AS, menyatakan bahwa serangan itu tidak ditujukan untuk mengubah rezim Assad, melainkan dimaksudkan untuk menghalangi Assad menggunakan senjata kimia.

Serangan Udara ‘simbolis’

Berbagai analis politik mengungkapkan bahwa tujuan Trump di balik serangan hanyalah untuk meringankan beban skandal yang telah menimpanya di Washington, seperti pertanyaan FBI tentang pengacara pribadinya, Michael Cohen. Yang pasti serangan tersebut tidak memberikan efek apapun dalam konflik Suriah. 

Di medan perang, pasukan Assad membuat lebih banyak keuntungan dan pejuang terus menghitung kerugian mereka di berbagai front.

Mayoritas warga Suriah merasa sekali lagi mereka kecewa dengan orang-orang yang menyebut diri mereka sahabat rakyat Suriah, sementara kenyataan mereka mandek atau bahkan menjadi lebih buruk.

Ibrahim al-Marashi, seorang profesor sejarah di California State Univesity, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa serangan AS merupakan “sandiwara” kelas tinggi dengan sedikit hasil di lapangan.

“Disonansi dalam kebijakan AS ini ke Suriah menunjukkan kurangnya strategi yang koheren, berbeda dengan Rusia dan Iran yang telah menunjukkan tekad yang teguh dalam menopang Presiden Suriah Bashar al-Assad,” kata Marashi.

“Serangan-serangan ini tidak akan mempengaruhi tujuan jangka panjang mereka.”

Menurut Jonathan Cristol, seorang rekan di World Policy Institute di New York City, “Agar serangan itu berhasil, perlu didukung dengan diplomasi yang cerdik dan saya takut bahwa itu tidak benar-benar dilakukan oleh administrasi [AS] yang besar ini.”

Sumber:  aljazeera
No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *