Era Baru Perang Dingin Dimulai di Suriah

António Guterres, sekretaris jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, baru-baru ini mengatakan Perang Dingin kembali terjadi antara kubu AS dan Rusia. Konfrontasi baru antara Rusia dan Amerika Serikat sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2014 dan terus meningkat sejak itu, mencapai puncaknya pada serangan AS pada Jumat (13/4) malam lalu di Suriah.

Pemerintahan Trump menyalahkan pemerintah Suriah dan Rusia sekutunya dan bersumpah akan meneruskan serangan tanpa batas waktu tertentu, jika dianggap perlu. Presiden Rusia Vladimir Putin menanggapi, bahwa serangan AS adalah “tindakan agresi” yang akan “merusak seluruh sistem hubungan internasional.”

Konfrontasi terbaru antara Rusia dan Amerika baru memasuki tahap perang “rudal”. Bisa jadi perang akan meningkat ke tahap selanjutnya yang  mengakibatkan benturan militer langsung antara angkatan bersenjata Amerika Serikat dan Rusia. Bila ini terjadi, akan menjadi masalah serius bagi seluruh dunia.

Perang Dingin awalnya sangat berbeda dari konfrontasi antara Washington dan Moskow hari ini. Saat ini tidak ada lagi simetri, keseimbangan, atau penghormatan di antara kedua pihak. Juga tidak ada kekhawatiran terhadap sebuah perang nuklir Armageddon, yang memiliki efek luas dan membingungkan sehingga mungkin akan bergeser ke arah perang tak berkesudahan yang sulit dihentikan.

Banyak orang di Barat menganggap, bahwa serangan ini merupakan kelanjutan dari perang melawan teror, dan Putin menggantikan peran Saddam Hussein. Dengan demikian, tidak seperti Uni Soviet, Rusia ditangani sebagai negara nakal. Dalam kontes yang sangat tidak setara ini, Amerika Serikat pada dasarnya telah mengesampingkan kemungkinan kompromi strategis dengan lawannya yang dinggap tidak layak diajak berkompromi: Bagi para pemimpin AS, berkompromi dengan Rusia akan beresiko meningkatkan pengaruh Kremlin.

Pejabat militer dan keamanan nasional di Amerika Serikat mungkin menyadari bahaya jika situasi menjadi lebih buruk lagi. Di Suriah, konflik antara pasukan AS dan Rusia telah berhasil diredam. Kepala Staf Umum Rusia telah melakukan kontak secara teratur, termasuk pertemuan langsung, dengan Kepala Staf Gabungan AS, mentri pertahanan, dan akan bertemu dengan komandan tertinggi NATO di Eropa. Pada awal tahun, kepala badan intelijen utama Rusia – Dinas Keamanan Federal, Dinas Intelijen Asing, dan Direktorat Intelijen Utama – melakukan kunjungan gabungan yang belum pernah terjadi sebelumnya ke Amerika Serikat.

Tidak seperti dalam Perang Dingin di masa lalu, yang sebagian besar merupakan perang proxy, konfrontasi terbaru memperlihatkan keterlibatan yang lebih langsung. Di bidang informasi, ekonomi dan keuangan, politik, dan cyberdomain, pertarungan AS-Rusia sudah bersifat langsung.

Di bidang militer, sekarang adalah untuk pertama kalinya Rusia dan Amerika Serikat terlibat perang langsung sejak Perang Dunia II, tetapi sekarang tujuan dan strategi mereka sangat berbeda, dan saling bertentangan. Para pemimpin militer di kedua belah pihak dapat berbuat banyak untuk menghindari insiden, tetapi membuat kebijakan bukan menjadi wewenang mereka.

Apa yang baru saja dimainkan adalah sebuah skenario: serangkaian serangan AS dan sekutunya sebagian besar bersifat simbolis, menargetkan beberapa fasilitas militer Suriah tetapi tidak menargetkan pusat komando dan kontrol utama dan menghindari target yang berhubungan dengan Rusia – bukan hanya pangkalan militer atau pasukan Rusia, tetapi personil Rusia dan warga sipil rusia yang tersebar luas di seluruh infrastruktur militer dan pemerintah Suriah juga tidak diserang. Serangan seperti itu akan mengakibatkan hubungan Rusia-Barat anjlok ke titik terrendah dan mengarah ke lebih banyak tuduhan, sanksi, dan aksi balasan, tetapi mungkin tidak akan membahayakan perdamaian.

Banyak orang mungkin telah mengabaikan peringatan Jenderal Valery Gerasimov, kepala Staf Umum Rusia, yang, beberapa minggu sebelum dugaan serangan kimia di Douma, ia melukiskan skenario serangan kimia yang dimainkan di masa lalu. Dan skenario tersebut akan menjadi dalih bagi serangan besar-besaran AS terhadap Suriah. Jika Rusia menjadi sasaran serangan seperti itu, Gerasimov mengatakan, militer Rusia di wilayah itu akan menanggapi dengan mencegat rudal-rudal yang masuk dan menembaki platform asal rudal diluncurkan.

Beberapa komentator sejak saat itu tidak mengartikan peringatan ini sebagai gertakan. Mereka menunjukkan inferioritas Rusia dalam senjata konvensional dibandingkan dengan Amerika Serikat. Seandainya orang-orang Rusia melaksanakan rencana Gerasimov (menembak patform asal rudal AS), mungkin seluruh kesatuan militer Rusia di Suriah akan terhapus dalam hitungan menit, dan Moskow harus menerima kekalahan memalukan, yang mungkin juga merupakan akhir dari aksi menantang kekuatan dominan Amerika. Tetapi ada kemungkinan bahwa konflik regional tidak berhenti di situ dan malah meningkat ke tingkat yang sepenuhnya berbeda.

Bahkan jika kebuntuan di Suriah saat ini tidak mengarah pada situasi terburuk, situasi konflik AS-Rusia akan tetap tidak hanya mengerikan tetapi pada dasarnya masih tidak ada harapan untuk masa depan yang cerah. Pendekatan Amerika terhadap Rusia kemungkinan akan terdiri dari peningkatan tekanan secara metodis di dalam banyak bidang – sebagai antisipasi bahwa, pada suatu titik, tekanan akan menjadi tak tertahankan bagi Moskow. Kremlin tetap bersikeras bahwa mereka tidak akan menyerah, walaupun musuh akan menyerang tanpa ampun dan mengalahkannya.

Hasilnya, untuk saat ini yang jelas adalah bahwa tes kemauan dan penyelesaian secara berkala akan terus mengarah pada krisis internasional, baik di Suriah, Ukraina, atau di tempat lain. Para pembuat kebijakan perlu belajar dari bawahan mereka di militer: Mereka harus tetap tenang dan memikirkan konsekuensi dari tindakan mereka, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Membiarkan konfrontasi global baru antara AS-Rusia jauh lebih baik daripada benturan langsung yang tiba-tiba.

 

Sumber:  foreignpolicy