Sudah Saatnya Drone Pensiun

 

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyerah terhadap teknologi, sebuah hal yang disebut oleh generasi yang lebih tua sebagai “kemajuan.” Tetapi itu tidak benar.

Perang terus berlangsung, namun sebagian besar negara di dunia telah bersepakat untuk melarang penggunaan ranjau darat. Ranjau adalah sebuah hal horor yang tidak bisa kita gunakan lagi karena potensi pembunuhan yang tetap panjang setelah garis depan musuh pindah ke tempat lain, bahkan setelah permusuhan berhenti, dan sebagian besar melukai warga sipil. Demikian pula, senjata kimia dilarang setelah gas mustar menakutkan orang-orang pada generasi Perang Dunia I.

Di  Amerika Serikat, konsensus masyarakat telah mendukung larangan peluru berongga yang meledak di dalam tubuh (peluru yang saat ini dilarang oleh militer), magazine berkapasitas tinggi untuk senjata, yang menjadi perhatian kita setelah penembakan massal di festival musik country di Las Vegas, dan senapan serbu semi-otomatis.

(Baca juga:  Serangan Rudal AS ke Suriah, Serangan Basa-Basi Trump)

Senjata bukanlah satu-satunya teknologi yang ditanggapi negatif oleh masyarakat. Kloning manusia juga telah menyebabkan datangnya seruan agar dilarang, oleh orang-orang yang percaya kita tidak harus menjelajah ke depan tanpa lebih memahami potensi kerugian. Alkohol dan rokok dilarang untuk anak-anak. Banyak obat-obatan yang dilarang. Pelarangan produk adalah hak prerogatif masyarakat dan politik yang mapan.

Drone harus dilarang juga: drone militer maupun drone hiburan. Kami sudah memiliki bukti nyata bahwa mereka berbahaya. Potensi keuntungan, di sisi lain, tampak relatif sederhana. Mereka keren. Saya juga telah bermain dengan mereka.

Tidak ada yang duduk untuk mempertimbangkan, dengan cara yang terukur dengan cermat, pro dan kontra dari kendaraan udara tak berawak. Di mana, ketika langit kita akan berubah menjadi Wild West, pendapat Kongres dan para ahli?

Menjual drone ke pihak mana pun dengan harga $ 400 adalah awal mula kekacauan. Diluncurkan dari atap gedung apartemen Manhattan, drone bisa mengintip melalui jendela. Seorang teroris, atau hanya orang iseng, dapat menerbangkan drone ke baling-baling helikopter yang terbang rendah atau ke mesin atau kaca depan pesawat yang mendekati bandara. Dan mereka akan melakukannya. Itu hanya masalah waktu saja.

Potensi serangan menjadi jelas pada tahun 2015 ketika seorang pria secara tidak sengaja menerbangkan drone Phantom ke halaman Gedung Putih. Membawa muatan bahan peledak adalah hal mudah. Atau pistol, seperti kejadian seorang ayah dan anak menempelkan pistol ke sebuah drone dan menembakkannya dari jarak jauh, di hutan Connecticut.

(Baca juga:  Serangan Rudal AS ke Suriah, Serangan Basa-Basi Trump)

Saya bahkan kurang optimis tentang penggunaan drone dalam lingkungan korporat dan institusional. Apakah itu pengumuman Uber dan NASA bahwa mereka berencana untuk meluncurkan taksi terbang di Los Angeles atau armada drone pengiriman Amazon, saya tidak yakin saya ingin hidup cukup lama untuk mendengar dengungan-dengungan di mana burung-burung seharusnya bernyanyi, atau melihat beberapa orang sedang makan malam di atas drone, lewat di atas kepala. Mungkin saja ada kompromi, seperti melarang drone di jalur penerbangan di atas jalan raya utama. Mengapa kita tidak bisa mengaturnya sekarang, sebelum muncul rasa sakit yang tak terelakkan dari teknologi (seperti kematian, cedera, dan keseluruhan keserakahan)?

Meskipun mudah untuk membayangkan bagaimana drone dapat meningkatkan kehidupan kita, mereka telah menemukan pejalan kaki yang hilang di padang gurun misalnya, tidak mungkin melebih-lebihkan betapa menyeramkannya untuk menempatkan mereka ke tangan penegak hukum. Jaksa Agung pada masa Obama, Eric Holder, mengatakan pada tahun 2013, dan tidak ada ahli hukum yang menantangnya, bahwa FBI memiliki hak untuk meluncurkan serangan pesawat tak berawak militer terhadap warga Amerika di tanah AS.

Polisi California menggunakan sebuah drone untuk melacak petugas LAPD yang nakal beberapa tahun yang lalu. Drone penegak hukum lokal dapat menangkap para pelanggar batas kecepatan berkendara, memindai registrasi kendaraan yang sudah kedaluwarsa dan stiker inspeksi (perangkat stasioner sudah melakukannya) dan menggunakan perangkat sensor suhu untuk melakukan pencarian.

Ini adalah hal yang serius, pertunjukan horor di negeri yang kacau. Bisakah kita menghentikannya sebelum dimulai?

Di luar negeri, dan jauh dari mata para jurnalis kita yang semakin waspada, pemerintahan Trump telah memperluas program pembunuhan melalui drone militer yang diperluas oleh Obama setelah mewarisinya dari Bush. Sebelumnya difokuskan pada pembunuhan pemuda dan siapa pun yang kebetulan berada di dekatnya di  Asia Selatan seperti Pakistan, di mana penelitian menunjukkan bahwa 98% dari ribuan korban ternyata tidak bersalah, kini drone pembunuh sedang mengintai di tempat-tempat baru seperti Afrika.

“Jumlah serangan Amerika terhadap militan Islamis tahun lalu naik tiga kali lipat di Yaman dan dua kali lipat di Somalia dari angka setahun sebelumnya,” lapor The New York Times. “Bulan lalu, sebuah pesawat tak berawak yang diterbangkan dari pangkalan kedua di Niger menewaskan seorang pemimpin Al Qaeda di Libya selatan untuk pertama kalinya, menandakan kemungkinan perluasan serangan di sana.”

Seperti gagasan yang membingungkan untuk membiarkan polisi lokal menjalankan drone dengan pengawasan otomatis, mustahil untuk melebih-lebihkan bagaimana program drone Amerika telah merugikan kepentingan AS. Tidak seperti di sini, di mana serangan hampir setiap hari nyaris tidak disebutkan di berita, orang-orang di negara lain dan terutama di dunia Muslim sangat sadar akan fakta bahwa sebagian besar korban adalah warga sipil yang tidak bersalah, termasuk banyak wanita dan anak-anak. (Bahkan orang-orang “bersalah” yang mati bukanlah ancaman bagi AS, tetapi lebih kepada pemerintah-pemerintah lokal yang korup yang dipesenjatai oleh AS.) Penduduk setempat, di kota-kota tempat drone yang berpatroli di langit, merasa gelisah dan kesal. Banyak dari mereka yang memiliki PTSD (Post Traumatic Syndrome Disorder).

(Baca juga:  Sebutan Teroris Bukan Untuk Kulit Putih di Luar Islam Meski Sangat Kejam)

Benar, drone menghilangkan bahaya bagi tentara Amerika. Tetapi AS mengoperasikannya dalam tatanan dunia yang macho yang menghargai kehormatan dan keberanian. Keengganan AS untuk mempertaruhkan putra dan putri AS dalam pertempuran darat membuat kita tidak hanya terlihat seperti agresor, tetapi juga para pengecut yang hanya pantas dihina. Dalam perang untuk memenangkan hati dan pikiran, drone adalah propaganda yang membunuh AS sendiri.

AS telah memulai perlombaan senjata baru. Ketika seorang aktor negara asing atau non-negara menyerang kita dengan drone, siapa yang akan mendengarkan ketika kita mengeluh?

Bahkan dalam jangka pendek, pembunuhan dengan drone tidak akan berhasil. “Menghilangkan para pemimpin militer jihad melalui operasi pesawat tak berawak bisa secara sementara mengacaukan kelompok-kelompok pemberontak,” Jean-Hervé Jezequel, wakil direktur International Crisis Group mengatakan kepada Times. “Tetapi pada akhirnya kekosongan itu juga dapat menyebabkan munculnya pemimpin baru dan lebih muda yang cenderung terlibat dalam operasi yang lebih berbobot dan spektakuler untuk menegaskan kepemimpinan mereka.”

Larangan drone tidak harus selamanya. Tapi sepanjang waktu yang diperlukan bagi AS untuk mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.

 

Sumber:   counterpunch