Kakacauan dan Penderitaan Jawa Selama 5 Tahun Penjajahan Inggris

 

Raffles and British Invation of Java (Raffles dan Invasi Inggris di Jawa), oleh Tim Hannigan, adalah buku hasil penelitian yang baik dan ditulis dengan baik. Buku ini mendapatkan penghargaan John Brooks Award tahun 2013 di Inggris, untuk kategori nonfiksi sejarah. Tim Hannigan menggambarkan Sir Thomas Stamford Raffles (6 Juli 1781 – 5 Juli 1826) dengan cara yang jarang dikupas; bukan sebagai teladan liberal, tetapi sebagai orang yang punya banyak kekurangan dan terlalu ambisius. Ia digambarkan sebagai orang yang cerdas dan kreatif, tetapi juga sebagai orang yang keras kepala, picik dan munafik.

Pada intinya, catatan Hannigan, seluruh pekerjaan yang dikenal sebagai British Interregnum (pemerintahan peralihan Inggris), adalah “operasi jahat” yang penuh dengan “tragedi dan kematian, kebencian dan kemunafikan, drama dan alkhohol, dan beberapa perbuatan yang sangat gelap memang”.

Bagi yang ingin tahu secara detail tentang invasi Inggris yang hanya 5 tahun di Indonesia, wajib baca buku ini nih. Detail, runut dan sumbernya juga terpercaya. Selain itu, buku ini juga mengulas beberapa informasi keadaan Indonesia/Jawa saat itu seperti: Sejarah pulau Jawa, sejarah Kerajaan Mataram sampai akhirnya terbelah menjadi Jogja dan Solo, awal mula penemuan Candi Prambanan dan Borobudur, budaya adu kerbau dan harimau, praktek hukuman sula oleh Belanda sampai terjadinya letusan Gunung Tambora yang dahsyat itu dan masih banyak lagi.

Sir Thomas Stamford Raffles begitu dipuja karena “keberhasilannya” di Singapura, hotel terbaik, sekolah bergengsi dan apapun yang memakai namanya adalah yang terbaik di negri singa itu, tapi ada yang tidak diketahui banyak orang bahwa Raffless pernah menjadi gubernur jendral di Hindia Belanda walaupun tidak lama, banyak kejahatan dan perubahan yang ia lakukan di Hindia Belanda khususnya Jawa.

(baca juga:  Ustadz Harus Bersertifikat: Strategi Snouck Lemahkan Perjuangan Umat Islam Indonesia (bag. 7))

Ada sebagian orang Indonesia yang iri dengan kemajuan Singapura, mengatakan: “coba dulu Indonesia dijajah oleh Inggris bukan Belanda”. Biasanya alasan utamanya betapa majunya negara-negara yg di jajah Inggris, contohnya negara Singapura yang sering dikaitkan dengan peran Raffles ini.

Tapi menurut sejarahnya ia hanya hitungan bulan berkuasa di Singapura, itupun dalam kondisi sakit sebelum akhirnya kembali ke Inggris, Singapura masih “berantakan” ketika ditinggalkan olehnya. Indonesia 5 tahun dijajah oleh Inggris, yang dipimpin Sir Thomas Stamford Raffles. Jadi kalau majunya karena Raffles tentu Indonesia akan lebih maju daripada Singapura yang hanya beberapa bulan saja Raffles di sana. Buku ini semacam sisi lain seorang Raffles yang karirnya dikenal begitu cemerlang.

Buku ini cukup lengkap memberikan informasi ketika Raffles di Jawa yang tidak banyak diketahui, peristiwa-peristiwa penting dan perubahan-perubahan yang dibuatnya hingga akibat yang terjadi, semuanya ditulis secara runtut, dengan analisa yang baik, sumber-sumber yang lengkap. Buku ini melihat apa yang terjadi ketika Inggris menginvasi Jawa. Inggris menyerbu dan menduduki Jawa selama hampir lima tahun (Agustus 1811-Maret 1816).

Isi buku ini bukan sejarah akademis yang kering, Hannigan menjaring melalui berbagai sumber utama, baik Inggris dan Jawa, untuk melukis potret yang berwarna-warni dan menarik dari tanah, orang-orang dan peristiwa selama lima tahun, dengan perhatian khusus pada Raffles.

Diantara bagian biografi Raffles yang paling menarik: kebodohan, ambisi, dan arogansinya benar-benar tidak merefleksikan warisannya. Dalam sejarah Singapura, Raffles dianggap sebagai pahlawan, sementara di sisi lain, ia mendatangkan malapetaka yang mengerikan di Jawa, dan pada orang Jawa.

Setelah dari Melaka dan Penang, Raffles tiba di Jawa saat ia berusia 30 tahun. Ia mendapat mandat “dengan muatan absolut untuk memimpin pulau seukuran Inggris dengan populasi sekitar 5 juta jiwa. Pendeknya Raffles telah ditunjuk sebagai penguasa Eropa di Jawa. Tidak mengherankan seseorang yang begitu muda, tidak berpengalaman dan asing diberi kekuasaan yang begitu besar dan membuat kekacauan yang begitu hebat.

Raffles berkantor di Bogor, yang kemudian dikenal sebagai Buitenzorg; patung istrinya Olivia berdiri di kebun raya Bogor. Masa penjajahan Inggris adalah periode sejarah yang brutal dan masa sulit bagi orang Jawa dengan dampak politik dan sosial yang berkelanjutan. Ini adalah periode penting bagi para sejarawan untuk dikaji.

(Baca juga:  Jauhkan Umat Islam Indonesia dari Urusan Politik (Strategi Snouck Bag. 8))

Perubahan, reformasi, dan akibat penjajahan setengah dekade itu berpengaruh lama bahkan setelah Inggris pergi. Dari struktur pemerintahan, pembagian tanah dan administrasi pajak, kebijakan dan keputusan Raffles akan memiliki konsekuensi untuk dirinya, keluarganya, Indonesia dan untuk Inggris Raya.

Buku ini sendiri berawal di Utara Jakarta (Batavia saat itu) ketika pasukan Inggris berlabuh. Saat itu Pulau Jawa masih dikuasai oleh Belanda. Belanda ketika itu meninggalkan Jawa karena negaranya ditaklukkan oleh Napoloen dan raja Belanda mengungsi ke Inggris. Kasarnya Indonesia/Jawa diserahkan ke Inggris karena hal itu.

Saat Belanda berkuasa, mereka menunjuk Gubernur Jendral, Inggris saat itu sebenarnya berfikir tidak ada gunanya menjajah Jawa, sehingga berencana mnyerahkan pemerintahan kepada rakyat Indonesia/Jawa. Gubernur Jendral untuk wilayah Asia yang bertempat di India bernama Minto, menyerahkan tugas itu kepada Raffles, pangkatnya naik menjadi Letnan Gubernur.

 

Sesampainya di Jawa Raffles justru berencana untuk tetap berkuasa di Jawa sehingga mengirim surat kepada Minto bahwa Jawa merupakan daerah yang potensial sehingga sayang untuk dilepaskan, hal itu disetujui dan Indonesia resmi menjajah Inggris. Pemerintahan Raffles tak mulus dan cenderung tak sehat. Mulai dari korupsi, perencanaan yg tak jelas, sistem yg diterapkan pun tidak berjalan baik. Bahkan Raffles berselisih pendapat dengan beberapa orang Inggris lainnya.

Beberapa puncak dari kegagalan Raffles adalah: pembantaian di Palembang, penyerbuan ke Kraton Yogyakarta, tuntutan pelanggaran hukum dari teman-teman sejawatnya di India, pengiriman budak ke Banjarmasin yg jelas-jelas melanggar peraturan Inggris mengenai perbudakan dan masalah ekonomi Indonesia yang menyebabkan kerugian Inggris hingga puluhan ribu poundsterling setiap tahunnya. Keadaan buruk tersebut berlanjut hingga saat Inggris harus mengembalikan Indonesia dan Jawa ke tangan Belanda karena Napoleon kalah di Eropa.

(Baca juga:  Sekularisasi Snouck: Jadikan Islam Hanya Sebagai “Agama Masjid”)

Raffles kembali ke India dalam keadaan terpuruk, sempat kembali ke Inggris dan menulis buku. Dirinya seperti mendapat kesempatan kedua berkat bukunya mengenai Sejarah Jawa. Walau banyak yang mencibir tapi gelar Sir pun ia dapatkan. Kemudian Raffles ditunjuk ke Bengkulu lalu menikah untuk kedua kalinya. Di Bengkulu pun Raffles sepertinya tidak berjodoh dengan Indonesia.

Satu persatu anaknya meninggal di sana, ia pun mulai sakit-sakitan (konon penyakit yang dideritanya diduga tumor otak). Gagal di Bengkulu, kembali ke Inggris dan ia mendapat kesempatan selanjutnya di tempat yang saat ini kita sebut Singapura. Tugas Raffles saat itu hanyalah untuk membangun sebuah pos di Semenanjung Malaya tersebut. Dengan peran tersebut ia dianggap sebagai pendiri Singapura.

Bisa dibilang sebenarnya “gagal” karena dia hanya beberapa bulan bertugas di sana. Jadi agak susah kalo dibilang Raffles yang membuat Singapura maju walau ia pendirinya. Penerusnya malah beberapa tahun bertugas di sana. Raffles kembali ke Inggris dalam keadaan sakit. Di Inggris juga ternyata dihukum karena berhutang kepada pemerintah. Sungguh tragis memang hingga akhirnya dia meninggal di tangga rumahnya pada pagi hari.

Isi Buku ini adalah salah satu yang menghancurkan prakonsepsi arus utama dan menyingkap perspektif baru pada sosok terkenal yang sebelumnya dilihat dalam cahaya positif yang eksklusif. Buku ini seperti membuka mata kita bahwa perjalanan seorang Sir Thomas Stamford Raffles tidak segemilang cerita-cerita yang kita dengar selama ini.

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *