Taliban: Tentara AS Menjadi Korban Ketamakan Trump di Afghanistan

Pasukan Amerika begitu sering tewas di tangan para prajurit Imarah Islam sehingga tampaknya membuat pasukan AS takut keluar dari benteng pertahanan mereka, seperti yang diungkapkan Komandan AS di Afghanistan John Nicholson. Dia mengatakan bahwa pasukannya di seluruh Afghanistan terkepung dan sulit bergerak di darat karena operasi dan serangan yang dilancarkan oleh pejuang Taliban Afghanistan dan gerakan AS saat ini terbatas pada operasi dengan helikopter.

Hal ini mengingatkan pola yang diadopsi oleh pasukan AS pada akhir perang Vietnam, dimana mereka sampai harus mengungsi di atap gedung-gedung yang biasa mereka tinggali. Presiden Afghanistan juga mengakui bahwa pasukannya tidak akan bertahan lebih dari 6 bulan jika pasukan AS ditarik dari Afghanistan.

(Baca juga:  SIGAR: Militer Afghan Menyusut dan Kemampuannya Menurun)

Apa dibalik cerita ini? Mengapa pasukan AS harus menanggung pengepungan yang menyesakkan ini dan menderita konsekuensi yang keras, di mana setiap kali Taliban menemukan peluang, mereka mengabilnya untuk menyerang dan menghancurkan mereka dengan operasi pengorbanan dan serangan martir.

Mengapa mereka bersikeras untuk tetap tinggal di Afghanistan meskipun berkali-kali menerima peti mati orang-orang yang paling mereka cintai?

Para pemimpin AS telah menipu rakyat AS sendiri, bahwa mereka bekerja keras untuk mencapai tujuan mereka yang dinyatakan dalam perang AS di Afghanistan, yaitu; memerangi kelompok-kelompok teroris dan melindungi keamanan nasional AS. Tetapi alasan sebenarnya dan penyebab utamanya adalah bahwa mereka materialistis dan telah mejadi budak perut dan keserakahan mereka.

Mereka tidak datang ke Afghanistan karena belas kasihan atau kebaikan kepada orang-orang yang tertimpa dukacita dan tertindas, atau menanggung penderitaan dan bencana mereka. Tidak, mereka datang untuk kekayaan mineral yang terkubur di bawah tanah Afghanistan. Ini adalah salah satu alasan mengapa Trump menolak untuk mundur, karena ia ingin mencuri sumber dayanya dan mencari kompensasi atas semua kerugian yang terjadi di negaranya. Dalam sebuah laporan American New York Times, menekankan fakta bahwa kekayaan mineral adalah alasan di balik ngototnya Presiden AS enggan menarik pasukannya dari Afghanistan.

(Baca juga:  The Wrong War: Mengungkap Kesalahan Mendasar Amerika di Perang Afghanistan)

Trump membahas upaya mengambil keuntungan dari kekayaan ini dengan bawahannya Afghanistannya, Muhammad Ashraf Abdul Ghani, yang bekerja untuk memperkuat ekstraksi mineral-mineral ini, mempertimbangkannya sebagai peluang ekonomi dan berpartisipasi dengan perusahaan besar dalam konteks itu.

Tiga rekan Trump sebenarnya bertemu dengan Michael N. Silver, salah satu pejabat eksekutif dari American Elements Chemical Company, untuk membahas proses ekstraksi logam langka dari sana. Dia juga memiliki DynCorp International, sebuah perusahaan kontraktor militer di mana personel militer yang bekerja di sana akan membantu mengamankan lokasi penggalian.

Para pejabat Amerika pada tahun 2010 memperkirakan nilai dari mineral yang belum dimanfaatkan di Afghanistan bernilai sekitar satu triliun dolar, dan angka ini saja sudah cukup untuk menggoda Trump agar tetap berada di Afghanistan.

https://alemarah-english.com/?p=28159

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *