Kisah Nyata Kelompok Pejuang Paling Ditakuti di Dunia

Sebuah buku menarik tentang kisah luar biasa Taliban di Afghanistan. Layak baca bagi siapa saja yang ingin memahami konflik yang tampaknya sulit disudahi di Afghanistan dan konsekuensinya bagi kita semua.

 

Judul Buku: Taliban: The True Story of the World’s Most Feared Fighting Force

Penulis: James Fergusson

Penerbit: Bantam Press, London

Tahun: 2012

ISBN: 9780593066348

 

 

Sejak serangan 11 September 2001, pihak Barat telah mengutuk Taliban. Sekarang, ketika pihak Barat semakin putus asa dengan salah satu perang terlama dan termahal di Afghanistan, mereka akhirnya mulai bertanya serius: Siapakah Taliban, tepatnya?

(Baca artikel terkait:  Taliban, Si Pengubur Jurus Militer 3 Presiden Amerika)

Sebuah industri mini yang terdiri dari para analis dan akademisi telah bermunculan untuk mencoba dan mencari tahu siapa yang sedang diperangi Barat, apa yang mereka inginkan, apakah mereka benar-benar terkait dengan Al-Qaeda karena kebanyakan jenderal Barat tampaknya berpikir—betapa Taliban sangat membenci mereka.

Para tentara Amerika memanggil mereka “orang-orang jahat” (the bad guys); dan mudah untuk membayangkan Taliban sebagai orang-orang yang bersorban hitam dan berjenggit lebat. Sebagian orang Barat juga berpikir bahwa Taliban di selatan takut layaknya mafia, sedangkan di utara sebagai “ekstremis” yang religius. Namun, tidak ada yang meragukan bahwa Taliban yang bangkit kembali adalah kekuatan gerilya yang tangguh, di atas sandal karet mereka dengan senapan Kalashnikov (Ak-47) tua yang berkarat.

Salah satu yang dinilai sebagai karya tulis terbaik tentang Taliban, sekaligus kontribusi bagi evaluasi ulang atas Taliban, adalah sebuah buku yang ditulis dengan berani oleh wartawan James Fergusson yang berjudul ringkas Taliban. Berani karena Fergusson telah mempersiapkan diri untuk menyelidiki lebih dari sekadar aspek yang dinilai klise.

(Baca juga:  Taliban: Sejak Awal Kami Menginginkan Perdamaian Bukan Perang)

Taliban tidak seburuk itu, pikir Fergusson; penilaian yang agak ekstrem menurut selera Barat, mungkin. Namun, Taliban menjadi bagian alami dari budaya politik yang konservatif di Afghanistan dan—diakui olehnya—pada dasarnya diterima oleh sebagian besar bangsa Afghan.

Fergusson adalah seorang wartawan di Pakistan dan Afghanistan pada era 1990-an ketika Taliban adalah sebuah kelompok milisi kaum muda idealis yang bertekad untuk menyingkirkan para panglima perang yang telah menghancurkan negeri mereka. Seperti yang dia jelaskan di bagian pertama bukunya, orang-orang Afghanistan menyambut para pejuang muda, bahkan di kota-kota modern seperti Kabul, karena mereka membawa keamanan dan kepastian hukum (baca: Syariat). Baru kemudian Al-Qaeda—dinilai—“membajak” Taliban.

Di paruh kedua bukunya, Fergusson kembali ke Kabul pada 2010 untuk bertemu dengan Taliban yang menempuh “rekonsiliasi”; kalangan yang dinilai Barat moderat karena telah meninggalkan rekan-rekan lama mereka dan berjanji setia kepada pemerintah Kabul. Selain itu, dengan cara yang ‘khas’, bagaimana mereka tetap berhubungan dengan rekan-rekan lama mereka dan tampaknya tetap setia kepada mereka.

Fergusson menjelaskan kompleksitas Afghanistan dengan baik. Dia memiliki pengetahuan yang mengesankan tentang budaya Pashtun yang dari sana pula lahir karakter Taliban. Bahkan, ia cukup jauh dalam mengangkat persoalan bahwa Taliban telah dicitrakan negatif dan digambarkan secara tidak adil.

Orang-orang yang ia ingat pada tahun sembilan puluhan mungkin adalah sosok-sosok idealis yang tangguh, dan orang-orang moderat di Kabul adalah orang-orang cerdas yang cerdas yang telah memimpin kehidupan di pusat sejarah Afghanistan yang dipenuhi kekacauan. Abdussalam Zaeef, yang pernah menjadi duta besar Taliban untuk Pakistan sekaligus veteran jihad melawan Rusia, telah dimasukkan ke dalam kandang di Guantánamo oleh Amerika, dibayangkan kelak menjadi sosok penting yang menegosiasikan perdamaian Taliban dengan Barat.

(Baca juga:  Inilah Bukti Taliban Menginginkan Perdamaian di Afghanistan)

Masalahnya adalah bahwa di luar markas mata-mata di Islamabad dan beberapa distrik pegunungan di Pakistan, tidak seorang pun pihak di luar lingkaran Taliban, termasuk Fergusson, yang benar-benar tahu apa yang telah terjadi dengan Taliban dalam 10 tahun terakhir (hingga buku ini terbit) yang dilalui dengan jihad.

Pemerintahan Barat mendorong mereka keluar dari kekuasaan pada tahun 2001 karena aksi yang dilakukan oleh tamu Arab mereka, dan sejak itu pihak Barat telah membunuhi Taliban mereka dan mengebomi mereka. Taliban macam apa yang sebenarnya dihadapi jika Barat perlu bernegosiasi dengan mereka untuk mengakhiri perang?

Taliban disambut ketika mereka muncul di Kabul, tetapi pada akhir pemerintahannya (2001) Taliban dibenci oleh sebagian pihak seperti kelompok Aliansi Utara. Sebagian kecil orang Afghanistan menganggap Taliban sebagai tentara bayaran mata-mata Pakistan sehingga gagasan negosiasi dengan mereka ada dalam benak. Tudingan keterlibatan Taliban dengan perdagangan tanaman obat-obatan juga mempengaruhi penilaian atas mereka. Fergusson pun meluncur lebih jelas terkait tudingan kejahatan oleh Taliban.

 

Baca halaman selanjutnya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *