Sejarah Singkat Kejamnya Penyiksaan Amerika

Isu tentang skandal torture (penyiksaan tahanan) Amerika kembali muncul dalam pemberitaan ketika Gina Haspel, orang yang dipilih Presiden Donald Trump untuk mengepalai Central Intelligence Agency, mempersiapkan apa yang bisa menjadi sidang konfirmasi Senat dengan beberapa pertanyaan sulit tentang perannya di masa lalu dalam mengawasi penjara penyiksaan rahasia di Thailand dan menghancurkan kaset-kaset yang berisi rekaman sesi interogasi tahanan dengan brutal.

Pencalonan Haspel sebagai direktur CIA, dan kejadian sebelumnya, yaitu penunjukannya sebagai wakil direktur CIA, membuka kembali apa yang disebut oleh banyak pengamat, termasuk Senator John McCain, sebagai “salah satu bab tergelap” dalam sejarah AS, yaitu apa yang disebut proses “interogasi yang ditingkatkan” dalam bentuk penyiksaan terhadap pria, wanita dan anak-anak yang terperangkap dalam “perang Amerika melawan teror” yang tanpa ujung.

(Baca juga:  AS Bersihkan Dosa-Dosa Tindakan Penyiksaan Gina Haspel)

Namun, pelecehan tahanan pasca-9/11 hanya bisa disebut satu bab saja jika kita mengakui bahwa hal itu adalah hanya satu bagian dari cerita yang jauh lebih besar, yang dimulai dengan beberapa perampok Eropa pertama yang menginjakkan kaki di tanah Amerika Utara, yang pada dasarnya terus bercokol tanpa gangguan hingga hari ini.

Genosida dan Perbudakan

Penyiksaan hampir selalu merupakan kejahatan yang dikaitkan dengan orang lain, yang kurang beradab. Ketika kebanyakan orang Amerika berpikir tentang penyiksaan negara mereka sendiri, jika mereka mau memikirkannya, mereka biasanya membayangkan itu adalah suatu permulaan, yang disesalkan, tentang norma beradab yang dilakukan secara salah di tengah teror dan kemarahan yang dinyalakan oleh serangan paling mematikan di tanah AS secara turun-temurun.

Namun, penyiksaan telah menjadi senjata tak terucapkan dalam daftar senjata milik Amerika sejak masa kolonial paling awal. Di negara yang dibangun di atas dasar genosida dan perbudakan, kekerasan yang mengerikan, termasuk penyiksaan, adalah alat penting untuk mengamankan dan mempertahankan dominasi kulit putih dengan cara yang sama seperti fenomena kekerasan yang telah mereka lakukan secara global, yang sangat penting untuk memperpanjang status adidaya Amerika di zaman modern.

Para pendiri negara tersebut, yang secara konstitusional melarang “hukuman kejam dan tidak biasa”, telah mendukung dan melakukan kejahatan paling keji terhadap penduduk asli Amerika dan budak-budak berkulit hitam, sebagaimana Thomas Jefferson menyerukan “pemusnahan atau pengusiran” orang-orang Indian di Virginia. Karena takut terhadap pemberontakan dan balas dendam dari mereka, orang-orang Selatan yang berkulit putih menyiksa budak-budak kulit hitam dengan beberapa hukuman paling keji yang bisa dibayangkan dalam rangka mematahkan kemampuan fisik dan psikologis mereka untuk melawan.

(Baca juga:   Menelusur Rekam Jejak Gina Haspel, Calon Direktur CIA)

Dunia yang Penuh Luka

Menjelang munculnya abad ke-20, penyiksaan Amerika menjadi global setelah penaklukan yang dilakukan imperium mereka terhadap bekas koloni Spanyol, termasuk Filipina, di mana pasukan pendudukan AS menghadapi pengadilan-militer karena, salah satunya, melakukan waterboarding kepada para musuh yang ditangkap. Sementara itu di dalam negeri, orang kulit hitam Amerika diberangus, dikuliti, dicabut dan dikebiri hidup-hidup oleh warga negara Amerika, termasuk wanita dan anak-anak, selama ribuan penggantungan yang melanda Jim Crow South dan jauh di luar.

Selama Perang Dunia II, sebagian besar siksaan paling biadab dilakukan oleh musuh Amerika Jerman dan Jepang. Namun alih-alih menghukum beberapa pelanggar tersebut, Amerika Serikat justru mencontoh dengan baik para penjahat perang Nazi maupun Jepang saat mencari keunggulan atas Uni Soviet dalam biowarfare, senjata, pengendalian pikiran, spionase dan teknologi dan teknik lainnya. Tidak lama sebelum AS melaksanakan program penyiksaannya sendiri, seperti Proyek MK-ULTRA yang terkenal buruk, sambil membantu atau melakukan penyiksaan untuk mendukung para diktator brutal di berbagai titik panas Perang Dingin di seluruh dunia, dari Vietnam ke Iran ke Yunani, Amerika Selatan dan genosida yang lebih baru di Guatemala dan Timor Timur. Ada terlalu banyak contoh lain untuk dicantumkan dalam “sejarah singkat” ini.

 

Baca halaman selanjutnya:  Buku Petunjuk Teknis Penyiksaan