Penjara, Terorisme, dan Ekstrimisme

 

 (Photo by Peter Macdiarmid/Getty Images)

Buku ini memberikan gambaran umum tentang intervensi dan strategi manajemen untuk menangani pelaku teror dan ekstrimis di penjara.

Manajemen tahanan teroris dan ekstremis telah lama diakui sebagai masalah yang sulit di penjara. Di sebagian besar negara, pelanggar semacam itu relatif jarang, tetapi ketika jumlah mereka meningkat, tahanan ini dapat merusak keefektifan dan keamanan sistem penjara. Di tingkat global, ada pengakuan yang meningkat terhadap masalah para ekstremis militan di penjara dan kemampuan mereka untuk merekrut anggota baru di antara tahanan lain.

Jumlah tahanan semacam itu rendah tetapi bertumbuh dan, akibatnya, penjara menjadi pusat radikalisasi; memang, dalam beberapa kasus, plot-plot teroris tampaknya sepenuhnya didasarkan pada jaringan-jaringan yang teradikalisasi di penjara.

Buku ini menyajikan penilaian berdasarkan pengetahuan yang diketahui tentang teroris, ekstremis dan penjara, menjelajahi pengalaman berbagai negara dan berbagai gerakan politik. Mengambil pelajaran penting dari studi kasus historis, buku ini mengkaji isu-isu kritis seputar strategi manajemen, radikalisasi dan deradikalisasi, reformasi, penilaian risiko, serta pengalaman pasca keluar penjara.

Peran yang dimainkan tahanan dalam konflik di luar tembok penjara juga dikaji, dengan studi kasus yang mengilustrasikan bagaimana tahanan dapat memainkan peran penting dalam membawa proses perdamaian atau alternatif dalam mempertahankan atau bahkan meningkatkan kampanye kekerasan.

Ditulis oleh para ahli terkemuka di bidang ini, buku ini akan sangat menarik bagi para mahasiswa bidang kajian terorisme/kontra-terorisme, kriminologi, studi keamanan dan IR pada umumnya.

Judul lengkap buku ini, PRISONS, TERRORISM AND EXTREMISM: Critical Issues in Management, Radicalisation and Reform secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai “PENJARA, TERORISME DAN EKSTRIMISME: Masalah-masalah Kritis dalam Manajemen, Radikalisasi dan Reformasi”. Buku yang merupakan kumpulan paper ini ditulis oleh banyak akademisi dan diedit oleh Andrew Silke. Buku ini merupakan salah buku dari seri buku Political Violence dan diterbitkan oleh   Routledge, Taylor & Francis Group, London, Inggris, pada bulan Februari 2014.

Buku dengan ketebalan sebanyak 312 halaman ini mempunyai ISBN  978-0415810371 untuk versi cetak sampul tebal. Isi buku ini disusun menjadi 19 Bab yang dikelompokkan menjadi 5 Bagian. Buku ini juga dilengkapi dengan Daftar Catatan Kaki, Daftar Pustaka, dan Daftar Indeks serta beberapa ilustrasi gambar.

Andrew Silke, editor buku ini adalah seorang peneliti di studi Kriminologi di Universitas East London. Dia adalah Kepala Program Studi Kriminologi dan Direktur Program Studi Terorisme. Dia juga menjadi penulis/editor beberapa buku tentang terorisme, termasuk The Psychology of Counter-Terrorism (Routledge, 2010), Research on Terrorism (Routledge, 2004), dan Terrorists, Victims and Society (2003).

 

Ulasan terhadap Buku Ini

Berikut adalah ulasan terhadap buku ini yang diberikan oleh Dr. Jacqueline Bates-Gaston yang dimuat di Perspectives on  Terrorism.

Buku ini merupakan tanggapan yang tepat waktu dan sangat dibutuhkan oleh para pembuat kebijakan, pejabat pemerintah, akademisi dan mahasiswa yang melakukan penelitian. Buku ini penting dalam hal membangun pengetahuan dan pemahaman tentang perkembangan internasional saat ini dalam manajemen dan perlakuan terhadap mereka yang dihukum dan dipenjarakan karena pelanggaran yang terkait dengan kekerasan dalam konteks nasionalis, ideologis atau agama.

Fokus para kontributor  buku ini adalah pada mereka yang menganjurkan penggunaan kekerasan untuk mempromosikan pandangan politik/agama yang ekstrim terhadap para korban tertentu untuk mempengaruhi arah atau niat politik di masa depan. Buku ini secara kritis menguji pentingnya makna dan definisi kata-kata yang sekarang kita gunakan setiap hari -seperti terorisme, ekstremisme, radikalisasi, deradikalisasi dan pelepasan.

Andrew Silke, editor buku ini, menyatakan bahwa, meskipun sebagian besar dari mereka yang dihukum karena pelanggaran bermotif politik dipenjara, pemahaman kita saat ini tentang teroris dan ekstremis di penjara terbatas sementara penelitian umum tentang kegiatan yang terkait dengan teroris setelah 9/11 telah sangat meningkat. Buku ini membantu mengatasi kekurangan dalam pengetahuan kita tentang perkembangan yang terjadi selama penahanan mereka.

Meskipun buku ini memiliki lima bagian, namun tema-temanya saling terkait dan terbukti dapat dibandingan di seluruh spektrum internasional dan konteks budaya yang berbeda. Gambaran seperti ini diatur dengan pembahasan oleh Colin Murray tentang isu-isu kritis terkait penjara dan perspektif tentang strategi pemenjaraan yang diambil di Inggris.

Proses potensial radikalisasi penjara di Amerika Serikat dikaji dalam penelitian inovatif pada bab yang ditulis oleh Joshua Sinai. Ia mengembangkan model tujuh fase yang menguraikan unsur-unsur yang terlibat. Model ini memiliki hubungan dengan faktor-faktor penilaian risiko ekstrim yang dibahas pada bab-bab berikutnya dalam buku ini.

Bab lain, yang ditulis oleh Liran Goldman, meninjau pengalaman radikalisasi di penjara AS. Tinjauan ini dipandang dengan perspektif proses, relevansi budaya geng kekerasan dan referensi ke “Prislam”, agama dan dampak potensial dari model peran kepemimpinan, khususnya, bagi tahanan yang membutuhkan. Penulis menyarankan bahwa penjara hanya dapat menetapkan landasan untuk radikalisasi dan bahwa pengalaman paska dipenjara tentang kebutuhan dukungan reintegrasi yang tidak terpenuhi sama pentingnya dalam proses radikalisasi. Poin ini diulas lagi pada bab-bab berikutnya dalam buku ini.

Bab yang ditulis oleh Marisa Porges menganalisis proses psikologis yang mendasari dan implikasi dari aspek konseling/komunikatif dan konsekuensi yang mungkin, dari taktik deradikalisasi yang dipimpin negara di Yaman dan Arab Saudi. Arti penting keseimbangan psikologis antara persuasi dan resistensi terhadap perubahan dieksplorasi dalam bab ini.

Keberhasilan dan tantangan pendekatan komunikatif untuk deradikalisasi dalam konteks budaya penjara yang serupa dan lainnya ditinjau kembali dalam bab-bab berikutnya dalam buku ini. Itu termasuk bab yang ditulis oleh Christopher Dean tentang kerja individu dan kelompok di Inggris, Manajemen Pelanggar Nasional, dan Intervensi Identitas Sehat.

Dalam debat deradikalisasi bab berikutnya oleh John F. Morrison dijelaskan pentingnya tahanan IRA dalam evolusi dan politisasi gerakan itu di Irlandia ke arah keterlibatan dalam pemilu daripada penggunaan senjata, dengan penekanan pada perjalanan panjang menuju proses perdamaian.

Intinya adalah bahwa bahkan di negara-negara di mana tidak ada pendekatan deradikalisasi formal, tingkat pelanggaran kembali oleh pelaku terorisme sangat rendah dibandingkan dengan jenis pelanggaran lainnya.

Bidang yang kontroversial dan diperebutkan tentang penilaian risiko tahanan ekstremis brutal benar-benar dibahas dalam dua bab berikutnya dengan eksplorasi yang komprehensif dari faktor-faktor yang berkontribusi terhadap risiko dalam konteks ini.

Silke mengamati bahwa, setelah tinjauan literatur yang luas terkait dengan terorisme, ada kesepakatan dan beberapa faktor risiko yang tumpang tindih dalam dua perkembangan terakhir, NOMS, Pedoman Risiko Ekstremisme dan protokol Penilaian Risiko Ekstremisme Kekerasan. Beberapa factor itu termasuk keyakinan dan sikap, konteks dan niat, sejarah dan kemampuan, komitmen dan motivasi di kedua alat dengan faktor pelindung tambahan di alat yang kedua.

Bab yang ditulis oleh D. Elaine Pressman dan John Flockton tentang VERA 2 memberikan rincian luas tentang pengembangan, penelitian, landasan teoritis dan aplikasi alat itu. Kedua penulis telah membahas perlunya alat penilaian risiko yang spesifik, dan relevan yang sekarang sedang diuji coba di berbagai yurisdiksi.

Karena penelitian lebih lanjut diperlukan, tidak satu pun dari protokol penilaian risiko ini yang mengklaim dapat memprediksi risiko masa depan dari pelanggaran kembali dalam konteks teroris. Namun kedua protokol itu menawarkan pendekatan penilaian klinis yang diteliti, terstruktur, dan teliti.

Penilaian ini telah mengembangkan pendekatan yang komprehensif dan sistematis untuk mempertimbangkan berbagai faktor dinamis yang diketahui melalui penelitian, untuk dikaitkan dengan perilaku teroris yang penuh kekerasan. Pendekatan semacam itu sangat berharga bagi penegak hukum dan lembaga manajemen risiko yang memerlukan mekanisme yang dapat dipertahankan dan praktis.

Menggunakan wawancara dengan delapan belas pemimpin kelompok teroris yang paling aktif dan berani di Israel -Hamas, Fatah dan Jihad Islam- pengalaman unik “tahanan keamanan” di penjara Israel dibahas dalam bab yang ditulis oleh Sagit Yehoshua.

Manajemen narapidana di yurisdiksi ini dipengaruhi oleh ukuran populasi dan perlawanan kolektif yang ditunjukkan oleh orang Palestina yang “membangun sebuah komunitas baru di dalam penjara, di bawah ruang sosial baru, melalui konsep identitas dan kolektivisme, ke dalam lembaga yang diformalkan sepenuhnya”, yang mempengaruhi “kehidupan dan identitas para tahanan serta masyarakat Palestina.” (Hal. 145)

Potensi radikalisasi dan jalur deradikalisasi dibahas melalui pemeriksaan peran pendidikan, peluang kepemimpinan dan lamanya waktu yang dihabiskan di penjara. Hal yang sama digunakan pada tahanan paramiliter di Irlandia Utara seperti yang dijelaskan dalam bab-bab lain dalam buku ini.

Dengan menggunakan studi kasus kunci, buku ini juga mengacu pada penelitian ahli dan pengalaman radikalisasi dan deradikalisasi dari berbagai konteks di seluruh dunia (Inggris, Arab Saudi, Sri Lanka, Singapura, Indonesia, Jerman dan Spanyol). Hal itu penting untuk mengeksplorasi isu-isu kritis bagi praktek profesional dan hak-hak individu pelaku kejahatan, kebijakan manajemen penjara dan intervensi, rehabilitasi dan dampak pada mantan narapidana.

Akhirnya, bab oleh Neil Ferguson melihat pengalaman pasca keluar penjara dan pengaruh dari mereka yang dihukum karena pelanggaran terkait teroris di Inggris, Wales dan Irlandia Utara. Pesan-pesan tersebut menggarisbawahi pentingnya meningkatkan perhatian dan investasi dalam program rehabilitasi pada tahap pasca keluar penjara sementara tidak mengabaikan pelajaran yang dipetik di Irlandia Utara tentang dampak yang dapat dimiliki tahanan terhadap proses perdamaian di masa depan.

Kekuatan buku ini adalah berdasarkan pada penelitian, pengalaman, dan praktik saat ini melintasi batas-batas internasional dengan menggunakan pendekatan dan sumber yang berbeda. Buku ini menyoroti berbagai pendekatan yang berbeda, eksperimental dan kadang-kadang bertentangan yang telah dicobakan untuk mengelola dan mengintervensi  pelaku teror kekerasan dari spektrum budaya dan konteks yang luas.

Diakui bahwa evaluasi dan penelitian lebih lanjut tentang berbagai pendekatan rehabilitasi dan penilaian diperlukan. Namun, mengingat situasi yang mengerikan di Israel dan Palestina dan negara-negara lain saat ini, buku ini menawarkan penelitian, pengalaman dan pengalaman terkini ke dalam apa yang mungkin berhasil dalam beberapa konteks yang dapat menginformasikan semua yang tertarik pada masyarakat global yang lebih aman.

 

Sumber:  terrorismanalysts