Masih Berbahayakah Al-Qaeda bagi Amerika Serikat?

<> on March 30, 2014 in Pul-e Alam, Afghanistan.

Sejak ISIS menguasai sejengkal wilayah di antara Irak dan Suriah pada tahun 2014, penilaian ancaman teror secara global telah difokuskan secara tidak proporsional pada bahaya yang ditimbulkan oleh kelompok tersebut. Melalui eksekusi dramatis yang disiarkan melalui video internet, propaganda yang apik, dan serangan oleh anggota dan aktor tunggal, ISIS menjadi obyek berita utama dan membuat seluruh dunia memandang mereka. Bahkan setelah jatuhnya “khilafah” ISIS, fokus yang disebutkan di atas tetap tidak bergeser.

Dengan perhatian publik yang masih berfokus di tempat lain, Al-Qaeda telah mempelajari pengalaman ISIS, secara diam-diam melampaui kemampuan ISIS, sembari memanfaatkan dampak dari serangan luas yang dilakukan oleh kelompok pengusung “khalifah semu” tersebut.

(Baca juga:  Bedah Strategi: Apa yang Dikhawatirkan Al-Qaeda Pasca Melemahnya IS?

Pernyataan dari pejabat dan pengamat AS telah berulang kali menyatakan bahwa sementara ISIS menjadi berita utama, Al-Qaeda dan afiliasinya terus mewakili ancaman keamanan jangka panjang yang berbeda, mungkin lebih besar, untuk Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Pernyataan seperti ini mungkin tampak kontraintuitif dengan pengamat biasa. Sebagian besar perhatian terhadap ancaman berkelanjutan dari Al-Qaeda adalah karena fokusnya pada tujuan yang terpadu, menumbuhkan dukungan masyarakat, sembari merencanakan serangan terhadap sasaran dan simbol Barat.

Dengan perhatian global yang terfokus pada prospek dan realita serangan ISIS di kota-kota Eropa dan Timur Tengah, Al-Qaeda justru menampilkan dirinya sebagai alternatif yang lebih lembut, yang penentangannya terhadap “tentara salib” bukan sekedar kecaman. Afiliasi Al-Qaeda secara terbuka mengeluarkan pernyataan yang mengkritik serangan terhadap warga sipil. Al-Qaeda juga mengutuk penggunaan perempuan sebagai martir dalam serangan  dan secara terbuka melepaskan para penjaga perdamaian PBB yang ditawan. Satu kritik utama Al-Qaeda terhadap ISIS: kekerasan ceroboh yang terakhir, terutama penargetan warga sipil di Suriah dan Irak, merupakan penyimpangan dan penyelewengan dari tujuan untuk menyebabkan kerusakan pada Amerika dan warga sipilnya.

(Baca juga:  Komando Pusat Al-Qaeda: Darah Umat Islam Haram Ditumpahkan)


Berbeda dengan upaya ISIS yang tergesa-gesa menggambarkan diri sebagai sebuah negara, cabang Al-Qaeda tetap setia pada strategi yang telah terbukti berhasil bagi mereka. Al-Qaeda telah berulang kali memperingatkan para pengikutnya untuk tidak melakukannya terlalu cepat, dalam mendirikan negara, dan menghukum mereka yang bertindak sebaliknya. Pernyataan pemimpin Al-Qaeda saat ini, Ayman al-Zawahiri, telah mengkritik upaya oleh ISIS untuk memaksakan khalifah, dan menyebutnya sebagai prematur. Negara seperti itu, katanya, “harus didasarkan pada kesepakatan dan diterima oleh Muslim,” sambil menekankan pentingnya dukungan rakyat.

Meskipun berbagai upaya ini dilakukan untuk menggambarkan tindakan Al-Qaeda yang lebih lembut, tetapi ada ancaman berkelanjutan yang ditimbulkan oleh Al-Qaeda. Di Bangladesh, cabang lokal Al-Qaeda di Indian Subcontinent (AQIS), Ansar al-Islam, meluncurkan gelombang serangan yang menargetkan individu-individu yang menantang norma-norma konservatif, dari ateis hingga editor majalah komunitas LGBT pertama di negara itu. AQIS juga meluncurkan serangan terhadap pasukan keamanan di anak benua itu, memanfaatkan hubungan operasional dengan organisasi induknya dan Taliban.

Di Yaman, Al-Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP) telah memanfaatkan kekacauan dalam perang Yaman yang sedang berlangsung. Sambil menduduki kota strategis Mukalla selama hampir satu tahun, mereka meluncurkan gelombang serangan terhadap pasukan keamanan Yaman dan menyusun operasi penyerangan penjara yang berhasil membebaskan banyak militan dari penjara, sehingga menggagalkan upaya kontra-terorisme selama bertahun-tahun. Bisa dibilang, cabang paling berbahaya dari kelompok Al-Qaeda, adalah AQAP yang melatih para penyerang Charlie Hebdo. Para pejabat Tunisia juga menunjuk afiliasi lokal Al-Qaeda sebagai pelaku serangan di museum Bardo tahun 2015.

Baca juga:  

Al-Qaeda berpisah dengan bekas cabangnya di Irak (yang akhirnya menjadi ISIS), tetapi Al-Qaeda juga mengambil pelajaran dari apa yang mereka lakukan. Misalnya, pemimpin AQIS, Asim Umar menyerukan kepada pengikutnya untuk terlibat dalam serangan lonewolf ala ISIS di India.

Majalah berbahasa Inggris Al-Qaeda, Inspire, juga mencoba memanfaatkan kemarahan atas ketidakadilan di Amerika Serikat, termasuk aksi kebrutalan polisi, untuk merekrut kelompok-kelompok yang tidak puas dan kaum muda, sebuah taktik yang meniru upaya rekrutmen ISIS di Eropa. Dan di Mali, Kelompok afiliasi Al-Qaeda memperagakan pelatihan dengan pakaian ISIS setempat, seolah tidak menyadari garis yang memisahkan kelompok utama mereka di Suriah. Pekerjaan bersama antara afiliasi ISIS dan Al-Qaeda membuat Mali menjadi tempat paling berbahaya di dunia bagi pasukan perdamaian PBB pada tahun 2017.

Karena ISIS telah mendominasi perhatian, hanya sedikit yang siap untuk menghadapi fase berikutnya, seiring dengan kehancuran ISIS. Ketika seorang utusan pemimpin AQIM, Abu Musab Abdul Wadud, terbunuh awal tahun ini, kemudian terungkap bahwa ia sedang dalam misi untuk menyatukan berbagai faksi di Tunisia. Al-Qaeda juga telah mulai merekrut pejuang ISIS yang tidak puas. Meski hasilnya beragam, potensi kerusakan dari gabungan metode Al-Qaeda yang bercampur dengan operasi ala ISIS akan membuat kita tidak nyaman, tetapi perlu, untuk dibayangkan.

(Baca juga:  Surat Terbuka Al-Qaeda Kepada Aktivis Jihad Media)

Upaya-upaya memerangi ISIS telah mencapai hasil yang serius, tetapi pertempuran melawan teror akan terus berlanjut setelah kantong-kantong terakhir ISIS dikalahkan di Suriah dan Irak. Sementara mata terfokus pada kengerian di Brussels, Paris, dan Istanbul, Al-Qaeda telah berganti citra, bergabung kembali, dan belajar untuk memperkuat ancaman keamanan jangka panjang yang serius bagi Amerika Serikat, kepentingannya, dan sekutu-sekutunya.

Dengan pelajaran yang didapat dari kegagalan “kekhalifahan” ISIS dan pengetahuan yang dibawa oleh mantan pejuang ISIS, Al-Qaeda mungkin lebih berbahaya sekarang, dan memiliki posisi yang lebih baik untuk menyampaikan visinya, daripada sebelum-sebelumnya. Dengan dunia yang masih terfokus pada kengerian masa lalu yang dilakukan oleh ISIS, masa depan Al-Qaeda mungkin sangat cerah.

*Ditulis oleh Kevin Ivey, dimuat dalam situs Small Wars Journal

 

Sumber:   smallwarsjournal

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *