Jihad Wali Songo untuk Menegakkan Islam di Jawa (bag. 1)

 

Tantangan Dakwah dari Istana Majapahit

Islam datang dan berkembang ke kawasan Nusantara ketika dua pusat kekuasaan di Indonesia menjelang mengalami keruntuhan. Dua pusat kekuasaan tersebut adalah Sriwijaya dan Majapahit.

Keruntuhan Sriwijaya yang merupakan kerajaan maritim diawali dengan kemunduran dalam bidang ekonomi yang selanjutnya berpengaruh dalam bidang sosial dan politik. Sedangkan kerajaan Majapahit yang merupakan kerajaan agraris runtuh diawali dengan kemunduran dalam bidang politik akibat dari pertikaian antar saudara keturunan raja (perang paregreg) yang akhirnya berpengaruh besar dalam bidang ekonomi dan sosial.

Dengan melemah dan mundurnya kerajaan Sriwijaya memungkinkan Islam untuk melakukan Islamisasi lebih jauh. Sehingga pada abad sembilan Islam berkembang dengan pesatnya dan terbentuklah kerajaan Perlak disusul kemudian pada sekitar abad tiga belas kerajaan Samudra Pasai di Sumatra. Di Jawa menyusul pula pada abad 15 yaitu kesultanan Demak Bintoro yang didirikan oleh Wali Songo (9 wali).

Di Jawa, penyebaran agama Islam dihadapkan kepada dua jenis lingkungan budaya kejawen, yaitu lingkungan budaya istana (Majapahit) yang telah menyerap unsur-unsur Hinduisme dan budaya pedesaan (wong cilik) yang masih hidup dalam bayang-bayang animisme-dinamisme, dan hanya lapisan luarnya saja yang terpengaruh oleh Hinduisme.

Dari perjalanan sejarah proses islamisasi di Jawa, tampak bahwa Islam sulit diterima di lingkungan budaya Jawa istana, bahkan dalam cerita Babad Tanah Jawa, dijelaskan bahwa raja Majapahit menolak agama baru itu. Bila sang raja menolak, akibatnya tentu tidak mudah bagi Islam untuk masuk ke dalam lingkungan istana. Karena itu, para penyebar agama Islam kemudian lebih menekankan kegiatan dakwahnya di lingkungan masyarakat pedesaan, khususnya di daerah-daerah pesisir pulau Jawa. Islam diterima dengan baik oleh masyarakat pesisir utara Jawa ini.

Islam memperoleh penganut pertamanya di kota-kota pantai utara. Salah satu penyebar slam paling dikenal karena keberhasilannya adalah kelompok wali songo. Para wali meskipun masing-masing hidup tidak sejaman, tetapi dalam pemilihan wilayah dakwahnya tidak sembarangan.

Penentuan tempat dakwahnya dipertimbangkan pula dengan faktor geostrategic yang sesuai dengan zamannya. Pantai utara menjadi basis dan pusat berbaga keraton Islam yang independen (merdeka/berdaulat), yang akhirnya berhasil menghancurkan kerajaan Majapahit di daerah pedalaman.

Salah satu basis kekuataan Islam pesisir adalah Demak, Demak merupakan Kesultanan yang berbasis di Jawa Tengah. Kerajaan ini merupakan salah satu kesultanan Pesisir yang banyak menorehkan sejarah penyebaran Islam di Nusantara khususnya di pulau Jawa.

Ada dua hal yang perlu disebutkan di sini, sehubungan dengan adanya Islamisasi di Jawa. Pertama, agama Hindu, Buddha, dan kepercayaan lama telah berkembang lebih dulu jika dibandingkan dengan agama Islam. Kedua, meskipun masih diperdebatkan kapan Islam masuk ke Jawa, tetapi islamisasi besar-besaran baru terjadi pada abad ke-15 (periode Gresik) dan ke-16 (periode Demak) dengan momentum kejatuhan Majapahit, keraton Hindu Jawa pada tahun 1478 M.

Tanah Jawa menjadi wilayah terpenting bagi penyebaran dan pengembangan agama Islam di Nusantara sejak berabad-abad lampau. Keterkaitan antara Islam dan Jawa tidak bisa dilepaskan dari peran dan kerja keras dakwah para wali di tanah Jawa, yang kemudian lebih dikenal dengan Walisongo. Pembentukan lembaga Walisongo pertama kali dilakukan oleh Sultan Turki Muhammad I, yang memerintah tahun 1394 M. Pada waktu itu Sultan Muhammad I menerima laporan dari para saudagar Gujarat (India) bahwa di Pulau Jawa jumlah pemeluk agama Islam masih sedikit.

Pendapat lain menyatakan, awal mula kedatangan wali songo adalah ketika terjadi pertempuran di Jawa yakni sebuah suksesi kepemimpinan Majapahit yang berujung peperangan yang lebih dikenal dengan perang Paregreg. Para saudagar Gujarat yang beragama Islam memberitahukan kepada sultan Muhammad I bahwa di Jawa sedang terjadi peperangan saudara, sehingga Sultan Muhammad mengutus beberapa orang dengan keahlian di bidang irigasi dan paham agama Islam untuk misi kemanusiaan.

 

Baca halaman selanjutnya…