Pembantaian Gaza Sibak Sikap Pengecut Para Pemimpin Internasional

 

Pengecut.

Tidak ada kata lain yang cocok. Tidak ada kata lain yang menggambarkan esensi dari tanda tangan para diplomat, dari Kanada, Perserikatan Bangsa-Bangsa, Eropa, dan tanggapan kejam mereka, kata-kata dan respon atas pembantaian warga Palestina, termasuk seorang anak berusia delapan bulan.

Ketika pembantaian manusia yang mengejutkan terjadi secara meluas di Gaza pada hari Senin lalu menuntut adanya sebuah penolakan tegas, dapat diduga, mereka, para diplomat itu, terdesak.

Lebih buruk lagi, mereka memihak, pada dasarnya, kepada para pembunuh, sebagaimana yang cenderung dilakukan oleh para pengecut. Pada saat yang mendesak itu, mereka bersembunyi di balik tweet yang sangat mirip, atau siaran pers yang justru mengacungkan jari yang menuduh para korban; untuk membebaskan para pelaku sebenarnya dari keterlibatan dan kesalahan mereka; untuk memperbarui sejarah dengan menekankan bahwa “kekerasan” bukan merupakan pembantaian, tetapi “konflik” antara dua musuh yang setara; menyiratkan bahwa para korban memancing nasib mereka sendiri; dan untuk menunjukkan bahwa korban adalah alat propaganda “teroris”.

Jadi, tidak masalah apa yang dikatakan atau dilakukan oleh para diplomat yang sopan ini di PBB atau di mana pun. Sikap pengecut yang secara transparan telah dipamerkan sejak pembantaian Senin berdarah di Gaza akan selalu menjadi warisan mereka yang hina dan menggelisahkan.

Pertunjukan A: Menteri Luar Negeri Kanada, Chrystia Freeland. Setelah bersikap diam saat seorang demi seorang warga sipil Palestina dieksekusi tentara Israel, Freeland akhirnya, dengan enggan, memposting tweet berisi 45 kata yang mengalir dengan ketidaktulusan yang lantang di mana dia berpura-pura merasakan “keprihatinan” dan “kesedihan” untuk semua korban “mati” dari rakyat Palestina.

Tentu saja, dalam tweet ala kadarnya, Freeland gagal menggambarkan bagaimana semua orang Palestina yang “mati” tiba-tiba ditembak di kepala dan perut dengan peluru oleh preman-preman Israel yang berseragam. Sebaliknya, ia menulis bahwa “semua pihak dalam konflik” memiliki tanggung jawab untuk “melindungi” warga sipil.

Meskipun ada sejumlah besar keterangan saksi mata dan bukti foto, tetapi mantan jurnalis tersebut tidak dapat membedakan bahwa satu pihak, preman Israel bersenjata, telah melakukan semua pembunuhan dan melukai lainnya, serta orang-orang Palestina yang tidak bersenjata merupakan pihak yang terbunuh dan menderita.

Namun, Freeland meninggalkannya kepada bawahan yang patuh, untuk menyimpulkan bahwa semua anak-anak Palestina, wanita dan pria itu terbunuh dan cacat karena “keterlibatan [dari] organisasi teroris” yang mendalangi ekspresi penduduk Palestina yang berani menyuarakan tentang martabat manusia dan penentuan nasib bangsanya sendiri.

Freeland hanya menirukan pernyataan juru bicara Donald Trump yang buta huruf di PBB, Niki Haley, yang mengatakan kepada Dewan Keamanan kemarin bahwa dia juga “prihatin dengan kekerasan di Timur Tengah,” dan bahwa Israel telah menunjukkan sikap pertahanan yang mengagumkan “dalam menghadapi provokasi dan hasutan dari  Hamas dan Iran”.

Kanada dan Amerika setuju: Iran dan proxy barunya, Hamas, bukan Israel, bertanggung jawab penuh atas pembantaian di Gaza.

Bahwa bawahan Freeland mencela Hamas, dengan aba-aba, adalah kebetulan. Pada tahun 1997, Kanada memanggil duta besarnya untuk Israel setelah terungkap bahwa mata-mata Israel membawa paspor palsu Kanada dalam upaya meracuni pemimpin Hamas, Khaled Meshaal, di Yordania.

Kehancuran bi-lateral yang terjadi kemudian mendorong menteri luar negeri Israel untuk menjanjikan menteri luar negeri Kanada, Lloyd Axworthy, bahwa para pembunuh dari negaranya tidak akan pernah menggunakan paspor Kanada dalam operasi seperti itu lagi. (Israel berbohong dan melanjutkan perburuan paspor Kanada untuk operasi rahasia, sementara Axworthy berjabat tangan dengan lawannya yang bermuka dua.)

Pertunjukan B: Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. Kicauan oleh pucuk pimpinan PBB tentang pembantaian di Gaza adalah hampir mendekati dari pernyataan Freeland dan Haley. Dia menulis bahwa dia “khawatir dengan eskalasi dalam kekerasan” dan mendesak “semua orang” untuk menunjukkan sikap “menahan diri.”

Kepalsuan, diplomasi kosong dan kesetaraan palsu yang ditunjukkan oleh Guterres telah mendurhakai fakta bahwa 109 orang Palestina yang dibunuh sejak 30 Maret dan tidak seorang pun tentara Israel tewas atau terluka pada waktu itu.

Mengingat kesetaraan yang disematkan kepada dua pihak ini, sebenarnya orang-orang Palestina yang telah menunjukkan ketahanan, tujuan, dan “pengendalian diri” yang luar biasa. Memang, “menahan diri” tidak pernah menjadi bagian dari kamus tentara Israel. Tak terhitung banyaknya pengungsi Palestina yang mati dan terluka di Lebanon, Gaza, dan Tepi Barat merupakan bukti yang tak dapat disangkal tentang fakta itu.

Kesetaraan palsu yang disebutkan oleh PBB adalah hal memalukan bahkan meluas hingga kebisuan yang diamati oleh anggota Dewan Keamanan yang bertemu dalam sesi darurat kemarin untuk secara mencolok “mendiskusikan” pembunuhan massal orang-orang Palestina.

“Saya ingin meluangkan waktu untuk mengingat mereka yang tewas kemarin di Gaza, serta semua orang Palestina, Israel dan lainnya yang telah meninggal akibat konflik yang telah bertahan terlalu lama,” kata pimpinan sidang Dewan Keamanan.

Tidak ada “konflik” di Gaza pada hari Senin. Yang ada adalah pembantaian. Di satu sisi pagar kawat berduri, penembak jitu Israel yang pengecut, menggunakan senjata berkekuatan tinggi, menembak buruan mereka dengan ketepatan, kekebalan hukum dan restu dari pemerintah Israel yang rasis, serta jutaan orang Israel yang terlibat.

Di sisi lain pagar, orang-orang Palestina yang berani berbaris sebagai sebagai kesatuan orang, menantang, bangga dan merdeka, bermaksud kembali ke rumah mereka yang dirampas di tanah yang dirampas oleh Israel.

Pada akhir hari yang mengerikan itu, 60 orang Palestina tewas, dengan ribuan lainnya terluka luar biasa. Salah satu yang tewas adalah Laila Anwar al-Ghandour yang berusia delapan bulan. Dia meninggal karena menghirup gas air mata saat fajar pada hari Selasa atas perintah Hamas, kata sebuah teori kejam yang dihembuskan oleh Israel.

Pertunjukan C: Uni Eropa. Pernyataan EU sedikit lebih bertele-tele. Tetapi menggunakan bahasa yang disesuaikan, berulang, seperti metronom, kata-kata “konflik,” “menahan diri,” dan “Hamas”. Sekali lagi, kata “pembantaian” tidak digunakan.

Sementara itu, Den Hague yang ramai, kepala jaksa Pengadilan Pidana Internasional terus mengoceh dan mengoceh tentang bagaimana dia mengawasi mata-mata di Gaza dan akan “mengambil tindakan apa pun ” untuk mengadili kejahatan.

Para diplomat dan pejabat diplomatik ini ingin menyangkal apa yang telah kita lihat. Mereka tidak hanya ingin mengaburkan fakta yang mengerikan tetapi juga menguburnya jauh di dalam labirin diplomatik yang munafik. Mereka ingin menulis ulang tentang apa yang telah terjadi dan sedang terjadi di Gaza. Mereka ingin mengamankan para pembunuh dengan mengorbankan rasa sakit yang tak henti-hentinya dan penderitaan korban mereka.

Pihak yang lain, untungnya, telah menolak dan mengambil sikap terpuji dalam solidaritas dengan kemanusiaan dan hak-hak Palestina.

Perdana Menteri Irlandia, Taoiseach Leo Varadkar, mengatakan dia “sangat terkejut” dan memanggil duta besar Israel untuk menyampaikan kemarahan rakyat Irlandia secara langsung. Turki dan Afrika Selatan telah menarik duta besar mereka dari Israel.

Meskipun hanya simbolis, tindakan-tindakan penting ini adalah penangkal yang kuat dan nyata terhadap kepengecutan penipu yang mengaku “sedih” oleh “kekerasan” di Gaza, tetapi tidak melakukan apa pun ketika anak-anak Palestina dibunuh dan dimutilasi karena bermain sepak bola di pantai, menerbangkan layang-layang dan mengibarkan bendera di Palestina.

 

Sumber: aljazeera