Pembantaian Orang Cina oleh VOC di Batavia

Gambar Pembantaian Etnis Cina di Batavia tahun 1740

Orang Cina sudah berdagang di Jayakarta jauh sebelum kemunculan VOC. Bahkan sudah ada yang cukup lama menetap di wilayah tersebut untuk menanam tebu dan menyuling arak yang terkenal di kalangan para pelaut. Ketika VOC mulai menjejakkan kakinya di wilayah ini, perusahaan tersebut (VOC) pun menjalin hubungan baik dengan Orang Cina.

Sejak masa Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen (1627-1629), hubungan baik antara warga Cina dengan VOC ini dapat terjalin dengan baik, hingga bertahun-tahun setelah Coen tak lagi menjabat sebagai gubernur jenderal. Bahkan warga Cina memberikan penghargaan kepada Gubernur Jenderal Jacques Specx berupa sebuah medali dari emas. Akan tetapi semua berubah setelah makin banyaknya warga Cina yang datang ke Batavia.

Pada masa pemerintahan Johannes Camphuijs (1684-1691) tepatnya pada tanggal 21 Mei 1690, mulai dikeluarkan peraturan untuk membatasi masuknya orang Cina ke Batavia/Jawa. Vermeulen mengungkapkan salah satu penyebab terbitnya peraturan Mei 1690 adalah “meningkatnya berbagai gerombolan Cina di Batavia.” Mereka tidak meninggalkan Tiongkok sebagai pedagang atau memilliki ketrampilan tetapi melakukan “pencurian, penipuan, dan tindakan tidak pantas lainnya.”

Sampai dengan awal abad ke 18, hubungan dagang antara Batavia dan Tiongkok bertambah penting. Akan tetapi kondisi ekonomi Batavia pasca 1725 terus memburuk. Buku-buku akuntansi menunjukkan kerugian modal yang terjadi selama beberapa tahun berturut-turut.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh J.L. Blusse : “Habisnya sumber daya tanah dan hutan telah menekan industri ini (gula) dan kemudian ditambah lagi dengan kemunduran ekspor karena telah ditutupnya pasar Persia yang menguntungkan itu. Yang paling dirugikan adalah orang Cina. Hampir semua pabrik gula dimiliki orang Cina dan dikerjakan orang-orang Cina, terutama oleh para imigran yang baru datang ke Batavia. Sebagian besar komunitas Cina juga tergantung secara langsung maupun tidak langsung pada industri ini.”

Jumlah imigran Cina yang terus meningkat membuat VOC menerapkan berbagai peraturan guna membatasi jumlah orang Cina di Batavia. Di antaranya pada tanggal 10 Juni 1727, diputuskan untuk memulangkan semua orang Cina yang telah menetap di Batavia selama 10-12 tahun, tetapi tidak dapat menunjukkan surat izin tinggal.

Vermeulen mengungkapkan bila setiap orang Cina yang tidak memiliki izin semacam ini setelah tanggal kadaluarsanya akan dianggap “orang yang memasuki koloni secara ilegal dan sembunyi-sembunyi atau disembunyikan.” Pada tahun 1740 ada sekitar 2.500 rumah Cina di dalam tembok kota, dan penduduk Cina di kota dan sekitarnya setidaknya 15.000, atau sekitar 17 persen dari total populasi.

Sejak akhir tahun 1739 dan 1740 mulai muncul ketidakpuasan dan kekhawatiran di kalangan orang Cina yang tinggal di Batavia terhadap perlakuan dan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan VOC. Puncaknya adalah dikeluarkannya resolusi tanggal 25 Juli 1740, yang dikeluarkan oleh Gubernur Jenderal Adrian Valckenier. Pelaksanaan resolusi ini menimbulkan ketegangan yang terjadi di kalangan Cina di luar dan di dalam Batavia.

Adriaan Valckenier, dinyatakan VOC sebagai yang bertanggung jawab atas pembantaian orang Cina di Batavia

Resolusi 25 Juli 1740 memerintahkan bahwa semua orang Cina yang mencurigakan tanpa peduli mereka memiliki surat izin atau tidak, harus ditangkap dan diperiksa. Apabila mereka ternyata tidak mempunyai penghasilan atau menganggur, mereka akan dipulangkan ke Tiongkok atau dibuang ke Ceylon (Sri Lanka) dan Tanjung Harapan untuk bekerja di perkebunan dan pertambangan sebagai kuli.

Para pejabat kompeni menggunakan kesempatan ini untuk memeras orang-orang Cina kaya yang menginginkan surat izin, demi kepentingannya sendiri. Wijayakusuma menjelaskan, warga Cina bertambah gelisah dan panik ketika muncul desas-desus bahwa orang-orang Cina itu sebenarnya akan ditenggelamkan ke laut.

Isu ini memicu beberapa kelompok orang Cina di sekitar Batavia yang dipimpin oleh Khe Pandjang atau Wang Tai Pan untuk menghimpun kekuatan. Bulan September 1740, seorang pemimpin milisi Cina, berhasil menghimpun kekuatan sebanyak 1000 orang Cina yang berkumpul di pabrik Gula Gandaria (sekarang Jakarta Selatan).

Milisi ini dipimpin oleh Khe (Que) Panjang alias Tay Way Soey, orang Jawa menyebutnya Kapitan Sepanjang. Pada 7 Oktober 1740 Pasukan Cina menyerang pos-pos VOC di Meester Cornelis dan De Qual. Pasukaan VOC yang dalam perjalanan ke Kaduwang Tangerang juga diserang. Serangan itu mengakibatkan 16 serdadu VOC tewas.

Pemberontakan orang-orang Cina tersebut mengundang reaksi keras dari VOC. Tanggal 8 oktober 1740, VOC mengumumkan maklumat berisi larangan membawa perempuan keluar kota, orang Cina yang menolak menyerahkan senjata atau melawan VOC akan ditembak mati, dan pemberlakuan jam malam, serta tidak boleh menyalakan lampu.

Pada malam tanggal 9 Oktober 1740 terjadi kebakaran terhadap warung-warung dan rumah-rumah warga Cina yang diartikan oleh VOC sebagai tanda dimulainya pemberontakan orang Cina, sehingga yang terjadi kemudian adalah penjarahan, pembakaran rumah, dan pembunuhan besar-besaran terhadap orang Cina di Batavia.

Gubernur Jendral Adriaan Valckenier memerintahkan untuk membantai semua orang Cina di Batavia tanpa pandang bulu. Tanggal 10 Oktober 1740 adalah puncak pembantaian massal. Valckenier memerintahkan serdadunya untuk mengumpulkan semua orang Cina yang tersisa. Sebanyak 500 orang Cina, baik lelaki, perempuan, tua-muda berhasil dibawa dari rumah mereka dan dikumpulkan di lapangan depan balai Kota VOC saat itu lalu diseksekusi satu persatu. Bahkan pasien yang sedang sakitpun tidak luput dari pembantaian.

Kekerasan dalam kota berlangsung dari 9 Oktober hingga 22 Oktober 1740, ketika Valckenier memerintahkan agar semua pembunuhan dihentikan. Kondisi di dalam kota sudah reda, dan pengejaran terhadap warga Cina yang memberontak di luar tembok kota terhenti pada bulan November. Tragedi ini kemudian lebih dikenal dengan nama Geger Pecinan atau Tragedi Angke. Lebih dari 10.000 jiwa orang Cina telah tewas akibat tragedi ini.

Rumah orang-orang Cina dibakar pada Oktober 1740

Peristiwa ini mengakibatkan kerugian yang sangat besar, bukan hanya bagi warga Cina yang menjadi korban, tetapi juga berdampak buruk bagi VOC dan situasi di dalam dan di luar Batavia. Peristiwa ini menyebabkan terganggunya sistem distribusi dan kelangkaan barang secara besar-besaran di Batavia, karena status warga Cina adalah sebagai pedagang perantara dalam sistem perdagangan di Batavia.

Peristiwa-peristiwa tadi kemudian memaksa VOC untuk mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut, akan tetapi kondisi serta kerugian-kerugian di Batavia belum dapat dipulihkan hingga beberapa tahun ke depan. Pemerintah Hindia-Belanda kembali menyadari pentingnya peran orang Cina dalam kehidupan Batavia walaupun enggan untuk membiarkan orang Cina tinggal di dalam kota. Mereka lantas mendirikan pemukiman khusus yang sejak saat itu menjadi pusat pecinan Jakarta, yaitu di wilayah Glodok.

Pembantaian ini memicu perseteruan internal VOC yang dalam, antara Gustaaf Willem Baron van Imhoff (Gubernur Jenderal, 1743-50) yang mencela, memenjarakan, dan hampir mengeksekusi pendahulunya, Adriaan Valckenier (Gubernur Jenderal, 1737-41). Valckenier disebut sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas peristiwa berdarah terhadap orang-orang Cina di Batavia.

 

 

Referensi:

Benny. G Setiono. Cina Dalam Pusaran Politik. Trans Jakarta 2008.
Daradjati, Geger Pacinan 1740-1743 Persekutuan Tionghoa-Jawa Melawan VOC, Penerbit Buku Kompas Jakarta, cetakan kedua April 2013.
Johannes. Th. Vermeulen. Tionghoa di Batavia dan Huru-hara 1740 (diterjemahkan oleh Gatot Triwira). Komunitas Bambu, Jakarta 2010.
Ricklefs, The Crisis Of 1740-1 In Java: The Javanese, Chinese, Madurese And Dutch, And The Fall Of The Court Of Kartasura, In: Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 139 (1983), no: 2/3, Leiden, 268-290, http://www.kitlv-journals.nl
Susan Blackburn, Jakarta : Sejarah 400 Tahun. Masup Jakarta 2011
Wijayakusuma, Pembantaian Massal 1740 Tragedi Berdarah Angke, Pustaka Populer Obor 2005
Willem G. J Remmelink, Perang Cina dan Runtuhnya Negara Jawa, 1725-1743, Bukit Jendela Yogyakarta 2002.

Sumber Gambar:
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/5/57/Chinezenmoord_van_stolk_%282%29.jpg
https://id.wikipedia.org/wiki/Adriaan_Valckenier
https://en.wikipedia.org/wiki/1740_Batavia_massacre#/media/File:Tableau_de_la_Partie_de_Batavia,_ou_s%27est_fait_proprement_le_terrible_Massacre_des_Chinois,_le_9_Octob.jpeg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *