Pembunuhan 6.000 Ulama Picu Perlawanan Rakyat Mataram

Puncak kejayaan negara Mataram terjadi pada masa Sultan Agung. Pada masa Sultan Agung, seluruh Pulau Jawa sempat tunduk dalam kekuasaan Kesultanan Mataram, kecuali Batavia yang masih diduduki militer VOC Belanda. Sedangkan Banten telah berasimilasi melalui peleburan kebudayaan.

Wilayah luar Jawa yang juga tunduk di bawah Mataram adalah Palembang dan Jambi di Pulau Sumatra serta Sukadana dan Martapura (Banjarmasin) di pulau Kalimantan. Sultan Agung juga menjalin hubungan diplomatik dengan Makassar, negeri terkuat di Sulawesi saat itu.

Sepeninggal Sultan agung, Mataram merosot dengan cepat. Penggantinya, Amangkurat I gagal melanjutkan keberhasilan yang dicapai ayahnya, dan justru membawa Mataram ke dalam kemunduran dan pertumpahan darah.

(Baca juga:  Kekuatan Ramalan; Jihad Diponegoro Menegakkan Negara Islam di Jawa)

Amangkurat I lahir sekitar tahun 1619 M. Sejak umur 5 – 15 Tahun (1624-1634) dididik oleh Tumenggung Mataram. Ia diangkat sebagai sultan Mataram pasca mangkatnya Sultan Agung. Masa kekuasaanya berlangsung antara tahun 1646-1677, suatu masa yang dianggap sebagai tanda kemunduran Kerajaan Mataram. Bukan hanya sumber Belanda yang menyebutkan demikian, melainkan Babad Tanah Jawa garapan Meinsma juga mengakui hal tersebut:

Kala semanten sang nata sabarang karsanipun ewah kalijan adatipun, asring misesa tijang, tansah nggelaraken sijasat. Para boepati, mantri toewin para sentana sami lampah alap-alapan ing kalenggahanipun, sakelangkung resah tataning nagari.

Tijang samatawis sami miris manahipoen, sarta asring grahana woelan toewin srengenge; djawah salah mangsa, lintang koemoekoes in sabendaloe ketingal. Djawah awoee oetawi lindoe. Akatah delajat ingkang ketingal. Poenika pratandanipoen, jen negari bade risak.

“Ketika itu raja bertindak sekehendaknya sendiri, tidak seperti biasanya. Ia sering melakukan pembunuhan, dan selalu bermain siasat. Para Bupati, para mantri dan keluarga istana bertindak semaunya dengan menyalah-gunakan kedudukan mereka. Tertib bernegara rusak. Seluruh penduduk Mataram dirundung ketakutan. Sering terjadi gerhana bulan dan matahari. Hujan menyalahi musim dan bintang berekor terlihat setiap malam. Terjadi pula hujan abu dan gempa bumi. Banyak pertanda jelek menampakkan diri. Ini semua petunjuk bahwa negara akan rusak.”

Kekuasaan absolut Amangkurat I telah terlihat semenjak ia terpilih jadi Sultan Mataram tahun 1646 M. Pertama-tama ia memindahkan ibukota kerajaan dari Karta ke Plered tahun 1647 M. Berbeda dengan keraton di Karta yang terbuat dari kayu, kali ini sang Sultan membangun Keraton yang terbuat dari batu bata dan dikelilingi parit besar.

(Baca juga:  Jihad Wali Songo untuk Menegakkan Islam di Jawa (bag. 1))

Utusan Belanda, Abraham Verspreet mengunjungi keraton Plered pada tahun 1668, mengkonfirmasi keadaan tersebut. Ia menggambarkan keraton Plered layaknya sebuah pulau di tengah danau. Keraton yang berada di tengah parit buatan itu seakan-akan menggambarkan jiwa Amangkurat yang terasing karena pada dasarnya ia memang mencurigai siapapun.

Konon, setiap malam tiba seluruh kompleks Kraton disterilkan dari laki-laki. Hanya ia sendiri yang tinggal bersama ribuan wanita, abdi dalem, dan istri-istrinya. Konon lagi terdapat tiga puluh prajurit wanita cantik yang disebut prajurit Trinisat Kenya dengan setia selalu menjaganya.

Pada tahun-tahun pertama kekuasaannya, Amangkurat telah menampakkan sifat arogansinya. Sebelum ia menjadi Sultan dan masih menjadi putra mahkota, ia pernah terlibat skandal dengan istri seorang abdi dalem senior bernama Tumenggung Wiraguna. Skandal ini kemudian dilaporkan kepada Sultan Agung, namun tidak berhasil menggoyang posisinya sebagai Putra Mahkota.

Ketika telah berkuasa, Amangkurat I menumpahkan kebenciannya kepada Tumenggung Wiraguna dengan mengirimnya ke Timur untuk menumpas ekspansi pasukan Bali di Blambangan. Di tempat yang jauh dari keluarga dan para pendukungnya itu, Wiraguna dibunuh oleh orang kepercayaan Raja. Tidak hanya itu, Amangkurat juga memerintahkan pasukannya untuk membasmi semua orang yang pernah terlibat melaporkan tindakan skandal yang dahulu dilakukannya kepada ayahnya Sultan Agung. Perintah tersebut mengakibatkan hilangnya nyawa ribuan wanita dan anak yang tidak bersalah, termasuk keluarga Tumenggung Wiraguna.

Demikianlah pembunuhan demi pembunuhan yang dilakukan Amangkurat I tidak dapat membuatnya merasa semakin aman. Konon setiap kali sang Sunan keluar keraton, ia dikawal oleh 2.000 orang prajurit bertombak.

(Baca juga:  Di Bawah Ulama Padri, Sistem Islam Berhasil Memakmurkan Rakyat Minang)

Ia juga membunuh hampir semua pejabat tinggi (peninggalan ayahnya, Sultan Agung) dan menggantinya dengan abdi-abdi pengikutnya sehingga tampaknya ia tidak mempercayai lagi pembesar-pembesar dari kalangan keluarganya sendiri. Begitu mudahnya sang Sunan membunuh orang, sehingga seorang pejabat Belanda, Michielsen, pernah berkomentar bahwa “Semoga suatu saat sang Sunan akan jenuh (bosan) mengalirkan darah orang“.

Adik sang Sultan Amangkurat, Pangeran Alit, merasa turut terancam karena kedekatannya dengan Tumenggung Wiraguna. Ketika seluruh teman-teman terbaiknya telah dibantai, Pangeran Alit mulai mendekati pemuka-pemuka Islam untuk menghilangkan kecurigaan terhadapnya. Di saat yang bersama ia mengumpulkan teman-temannya untuk mempersiapkan serangan terhadap sang Kakak. Mengetahui hal tersebut, Amangkurat I tidak perlu pikir panjang untuk menghabisi pendukung adiknya. Terpancing atas provokasi tersebut, Pangeran Alit dengan kekuatan sekitar 60 orang pendukungnya, menyerbu alun-alun keraton dalam sebuah “pertarungan penghabisan berdarah” pada tahun 1647.

Kekuatan Pangeran Alit tersebut tidak sebanding dengan pasukan Sunan sehingga dapat dibasmi dengan mudah, hingga menyisakan Pangeran Alit seorang. Menurut catatan Belanda yang dipercaya, sang Sultan akhirnya membiarkan para prajuritnya untuk membunuh pangeran Alit atas alasan “pembelaan diri”, dengan itu bersihlah tangan Amangkurat dari darah adiknya sendiri.

 

Baca halaman selanjutnya: Kecurigaan Amangkurat I Terhadap Ulama dan Upaya Membasminya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *