Jihad Wali Songo untuk Menegakkan Islam di Jawa (Bag.2)

 

Begitu sampai di tanah Jawa, tim sembilan (Wali Songo) langsung melakukan pertemuan untuk merancang rencana kerja. Oleh sebab itu pertemuan pada tahun 1404 M yang dihadiri oleh seluruh anggotanya dianggap sebagai sidang Walisongo pertama, yang kemudian disebut sebagai Walisongo angkatan pertama. Istilah Walisongo sendiri baru muncul setelah ada beberapa wali pribumi dari golongan bangsawan Jawa yang menjadi anggota tim, bahkan ada yang menyebutkan bahwa istilah Walisongo baru muncul pada abad kedelapan belas atau kesembilan belas.

(Baca artikel sebelumnya:  Jihad Wali Songo untuk Menegakkan Islam di Jawa (bag. 1))

Berdasarkan sumber kitab walisanga, Babad Tanah Djawi, Babad Tjirebon, dan Primbon milik Prof. K.H.R. Moh. Adnan, walisongo pada dasarnya adalah semacam lembaga dakwah yang berisi tokoh-tokoh da’i yang berdakwah secara terorganisir dan sistematis melakukan usaha-usaha pengislaman masyarakat Jawa dan pulau-pulau di sekitarnya. Masing-masing anggota memmiliki tugas spesifik untuk satu tujuan mendakwahkan Islam.

Dalam primbon milik Prof. K.H.R. Moh. Adnan disebutkan tugas tokoh-tokoh wali songo dalam mengubah dan menyesuaikan tatanan nilai-nilai dan sistem sosial budaya masyarakat sebagai berikut:

  1. Sunan Ampel membuat peraturan-peraturan Islami untuk masyarakat Jawa
  2. Raja Pandhita di Gresik merancang pola kain batik, tenun lurik, dan perlengkapan kuda
  3. Susuhunan Majagung mengajarkan mengolah berbagai jenis masakan, lauk pauk, memperbarui alat-alat pertanian, dan membuat gerabah.
  4. Sunan Gunung Jati di Cerebon mengajarkan tata cara beribadah, berdoa, pengobatan, dan membuka hutan.
  5. Sunan Giri membuat tatanan pemerintahan Jawa, mengatur perhitungan kalender, siklus perubahan hari, bulan, tahun, windu, menyesuaikan siklus pawukon, juga merintis pembukaan jalan.
  6. Sunan bonang mengajarkan ilmu suluk, membuat gamelan, dan menggubah irama gamelan
  7. Sunan Drajat mengajarkan tata cara membangun rumah, dan membuat alat untuk mengangkut orang seperti tandu dan joli.
  8. Sunan Kudus merancang pekerjaan peleburan, membuat keris, melengkapi peralatan pande besi, kerajinan emas, juga membuat peraturan perundang-uandangan sampai system peradilan yang diperuntukkan bagi orang jawa.

(Baca juga:  Arti Penting Selat Malaka bagi Islamisasi Nusantara)

Menurut Dr. Saifur Rohman pada masa itu para pemimpin Islam telah mempunyai strategi dakwah untuk mengislamkan Jawa dan sekitarnya, diantaranya:

  1. Menetapkan visi untuk keputusan-keputusan strategis dalam sebuah persoalan. Kelompok muslim minoritas pada abad ke-14 telah memiliki visi yang jelas dan tegas: mendirikan khalifah Islam di tanah Jawa. Negara Islam adalah tujuan akhir bagi kelompok minoritas yang sedang mencari ruang di pemerintahan Jawa.
  2. Meminta perlindungan kepada penguasa. Permintaan itu pada saat yang sama memiliki dukungan secara politis karena istri Raja, Brawijaya adalah bangsa China. Diceritakan pada pupuh 1 bahwa kelompok muslim mendapatkan perlindungan di tanah Ampel, Jawa Timur. Di sanalah pertama kali disusun sebuah sistem organisasi sosial yang dijadikan sebagai media bagi kelompok minoritas memperluas pengaruhnya.
  3. Menghimpun kekuatan. Ketika pemerintah memberikan legalitas secara yuridis dan faktual, kelompok muslim menggalang sumber daya melalui penyebaran pengaruh dan perekrutan massa. Dalam rangka menghimpun kekuatan, kelompok muslim memperluas kekuasaan melalui acara ritual keagamaan. Dalam hal ini mereka menamakan acara pengumpulan massa itu dengan istilah garebeg mulud.
  4. Mengancurkan kekuatan lama secara fisik dan non-fisik. Ketika penggalangan sumber daya dinilai memadai, kelompok muslim berencana melakukan pemberontakan untuk merebut kekuasaan puncak. Contoh konkret adalah merusak arca yang dianggap suci oleh orang Jawa dan membakar kitan Buddha.

(Baca juga: Pembantaian Orang Cina oleh VOC di Batavia)

Meski tiap-tiap wali menggunakan cara berbeda kesemuanya itu terintegrasi dengan adanya mekanisme musyawarah tim Wali Songo. Beberapa hal yang dilakukan oleh Wali Songo

  • Mendirikan Masjid sebagai pusat dakwah dan kekuatan umat
  • Mendirikan pesantren-pesantren sebagai pusat kaderisasi dan pembinaan
  • Penguatan jaringan dengan menikahkan putri dan santrinya dengan anak bangsawan keluarga kerajaan majapahit yang telah didakwahi dan masuk Islam.
  • Pengiriman kader-kader pondok pesantren untuk terjun ke masyarakat sebagai mekanisme pemberdayaan santri
  • Memenuhi kebutuhan pokok masyarakat dengan berdagang, membuka warung, pengobatan, dll
  • Seruan Dakwah langsung kepada penguasa (upaya diplomasi)
  • Jihad melawan kekuatan Syiwa-Buddha dan Portugis
  • Membangun kekuasaan politik Islam dengan mendirikan kerajaan-kerajaan Islam

Rencana penguasaan politik Islam (siyasah syar’iyah) dalam dakwah walisongo telah dipersiapkan oleh Maulana Malik Isroil, anggota walisongo angkata pertama. Ketika berdakwah di cilegon jawa barat, beliau mempunyai beberapa orang murid yang dipersiapkan untuk menjadi raja, diantaranya Maulana Ainul Yaqin (Sunan Giri) dan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).

Saat itu Maulana Malik Isroil telah mengajarkan ilmu siyasah syar’iyah pada para santrinya sebagai bekal menjadi seorang pemimpin. Kitab-kitab yang diajarkan antara lain; Al Muqodimah karya Ibnu Khaldun, As Siyasah Syar’iyah dan Al Hisbah Fil Islam karya Ibnu Taimiyah serta kitab karya Al Mawardi, Al Ahkan As Sulthoniyah. Kitab-kitab tersebut membahas system politik Islam, aturan pemerintahan, hukum dan undang-undang, serta berbagai upaya untuk perbaikan pejabat dan rakyat dalam bingkai syariat Islam. Dan terutama untuk menegakkan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar dalam wilayah kekuasaan Islam.

 

 

Referensi:

Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo, Penerbit Pustaka IIMaN Depok, Cetakan V 2014.

Agus Wahyudi, Makrifat Jawa; Makna Hidup Sejati Syeh Siti Jenar dan Walisongo, Pustaka Marwa Yogyakarta, 2007

Dr. Saifur Rohman, MHum, Model Sikap Jawa terhadap Ideologi Asing dalam Babad Tanah Jawi dan Darmagandhul: Relevansinya dalam Pembentukan Karakter Bangsa, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta, September 2011.

Hamid Akasah, Wali Songo Periode I Sampai V, Penerbit Titian Ilmu, 2011.

Hasanu Simom, Misteri Syeh Siti Jenar; Peran Wali Sanga dalam MengIslamkan Tanah Jawa, Cet.IV, Penerbit Pustaka Pelajar Yogyakarta, 2007

Rachmad Abdullah, Sultan Fatah, Raja Islam Pertama penaklukTanah Jawa, Al Wafi Solo 2015