Menengok Sistem Layanan Kesehatan yang Hampir Runtuh di Gaza

Saat debu-debu mengendap di Gaza, rapuhnya gencatan senjata yang diperantarai oleh Mesir, mungkin membawa sedikit ketenangan bagi dua juta orang Palestina yang terperangkap di sana. Meskipun, lagi-lagi, tanpa ada solusi bagi masalah mendasar dalam kehidupan orang-orang Gaza.

Masalah yang paling mendesak bagi warga Palestina di Gaza adalah infrastruktur yang hancur lebur, yang berpotensi mengakibatkan bencana kemanusiaan besar setiap saat. Air dan listrik langka, limbah mengalir langsung ke laut dan perekonomian telah runtuh.

Sektor kesehatan telah menjadi fokus selama beberapa minggu terakhir sejak protes Great March of Return telah memusatkan perhatian dunia ke wilayah Gaza.

Jumlah cedera yang diakibatkan oleh serangan Israel terhadap demonstran tak bersenjata di perbatasan timur Jalur Gaza hampir mematahkan sendi-sendi sektor kesehatan, yang kewalahan dan kekurangan sumber daya, memperburuk tekanan pada para profesional di bidang kesehatan.

Tenaga medis bahkan telah menjadi sasaran Israel, dan dua orang tenaga medis, Razan al-Najjar pada 1 Juni dan Mousa Jaber Abu Hassanein pada 14 Mei, telah terbunuh saat melaksanakan tugas mereka.

Jumlah korban tertinggi dari Great March of Return ada pada tanggal 14 Mei, yang kemudian disusul oleh lebih banyak protes, dan lebih banyak peserta aksi yang terluka, pada 15 Mei. Kedua hari menyedihkan tersebut membawa adegan mengejutkan di rumah sakit Jalur Gaza.

Dengan jumlah korban luka yang sangat besar, lebih dari 3.100 selama dua hari itu saja, tidak ada tempat tidur yang tersedia dan orang-orang dirawat di lorong atau bahkan di gerbang masuk rumah sakit.

Ada kekurangan yang sangat banyak dalam persediaan obat-obatan, menurut Ashraf al-Qedra, juru bicara kementerian kesehatan, yang mengatakan bahwa banyak rumah sakit telah menggunakan 80 persen dari stok yang dimiliki oleh kementerian kesehatan selama hari-hari protes tersebut.

“Krisis ini menyebabkan defisit besar di rumah sakit di Jalur Gaza. Pasien yang mencari rumah sakit umum untuk perawatan, tidak dapat menemukan perawatan medis yang mereka butuhkan karena rumah sakit kewalahan dengan membanjirnya paseien yang cedera,“ kata al-Qedra kepada Electronic Intifada.

Penundaan Menyebabkan Amputasi

Ahmad Shahin, seorang pemuda berusia 24 tahun, tertembak di kaki kirinya saat protes pada 14 Mei. Dia menggeliat kesakitan di koridor di rumah sakit al-Shifa, Kota Gaza, di mana ruang operasi terlalu penuh, sehingga ia tidak bisa masuk.

Dia kemudian dipindahkan ke rumah sakit al-Awda, di mana dia menghabiskan satu malam lagi dalam penderitaan sebelum akhirnya dioperasi.

Saat itu kondisinya menjadi kritis setelah infeksi di lukanya.

“Saya menunggu enam jam untuk operasi,” kata Shahin, yang tinggal di kamp pengungsi Jabaliya, kepada Electronic Intifada. “Ayah saya harus membeli suntikan penghilang rasa sakit, karena persediaan di rumah sakit sudah habis. Setelah operasi saya menemukan bahwa kaki saya diamputasi [di bawah lutut], sebab kalau tidak, infeksi akan menyebar. ”

Hamza Rayan, 19, ditembak di dekat leher pada 15 Mei, sehingga membuat ia lumpuh di keempat anggota badan. Dia terluka, katanya, ketika mencoba menyelamatkan teman sebayanya, Ahmad Hassan, yang terluka. Sampai ayahnya, Ayman, mengatakan kepadanya di rumah sakit bahwa Hassan ditembak di kakinya, Hamza tidak tahu apakah temannya masih hidup.

Seperti dalam kasus Shahin, Hamza harus bergantung pada ayahnya untuk membawa persediaan medis yang telah habis di rumah sakit al-Shifa. Orang tua Rayan membeli cairan dari apotek di luar rumah sakit tetapi dia tidak mampu membayar biaya antibiotik atau obat penghilang rasa sakit.

“Saya adalah satu dari puluhan orang yang harus membeli obat-obatan dari apotek luar,” kata Ayman Rayan kepada Electronic Intifada. “Tapi saya menganggur. Saya dulu bisa membeli lima larutan garam tetapi sekarang saya tidak bisa lagi, dan putra saya membutuhkan tiga larutan garam, obat penghilang rasa sakit dan antibiotik setiap hari. ”

Ayah Hamza telah dipaksa meminjam uang untuk menutupi biaya kebutuhan medis putranya. Dia membeli dari organisasi non-pemerintah setempat, Perkumpulan Bantuan Medis Palestina, dan memperkirakan biayanya $ 28 per hari.

Bank Dunia telah menghitung pendapatan tahunan rata-rata di Gaza pada 2018 menjadi $ 1,826, di mana pengeluaran adalah $ 5 per hari.

 

Baca halaman selanjutnya:  Layanan Normal Terganggu