Rakyat Afghanistan Menyambut Hangat Para Pejuang Taliban

Taliban mengumumkan mereka akan melanjutkan pertempuran pada hari Senin karena gencatan senjata tiga hari pada hari raya Idul Fitri telah berakhir.

Pada hari terakhir dari gencatan senjata Idul Fitri tiga hari, Taliban mengatakan mereka akan melanjutkan pertempuran, meskipun Presiden Ashraf Ghani mengumumkan bahwa pemerintah memperpanjang gencatan senjata sendiri dengan kelompok itu dalam 10 hari.

Dalam pernyataan pada hari Ahad (17/6), Taliban mengulangi syarat yang mereka ajukan untuk memulai pembicaraan damai, bahwa mereka hanya akan bernegosiasi langsung dengan AS dan bahwa pasukan asing harus meninggalkan Afghanistan. (Baca artikel terkait: Mengapa Taliban Mengajak Dialog Dengan Amerika, Bukan Rezim Kabul?)

“Pejuang kami sekarang akan melanjutkan operasi mereka di seluruh negeri melawan penjajah asing dan boneka internal mereka,” kata juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid kepada Al Jazeera.

Dalam sebuah langkah yang tak terduga, Ghani pada tanggal 5 Juni mengumumkan gencatan senjata tanpa syarat dengan Taliban hingga 20 Juni , bertepatan dengan akhir Ramadhan.

Pada tanggal 9 Juni, Taliban mengumumkan bahwa pejuang mereka akan berhenti menyerang pasukan keamanan Afghanistan selama tiga hari Idul Fitri untuk pertama kalinya dalam konflik yang telah berlangsung selama hampir 17 tahun.

Ratusan tentara dan perwira polisi telah tewas sejak Taliban melancarkan serangan musim semi, Al Khandaq pada bulan April tahun ini dalam upaya untuk mengendalikan petak-petak besar negara itu.

(Baca artikel terkait: Soal Gencatan Senjata, Taliban dan Rezim Kabul Beda Sudut Pandang)

 

Kebahagiaan Luar Biasa

Hari pertama gencatan senjata pada hari Jumat dimulai dengan pelaksanaan sholat Idul Fitri bersama Taliban, warga sipil dan pejabat pemerintah di masjid-masjid di seluruh negeri.

Foto dan video muncul di media sosial pada hari itu, orang-orang Afghanistan merayakan Idul Fitri dengan orang-orang yang mereka sebut sebagai pejuang Taliban.

“Ini adalah momen kebahagiaan luar biasa bagi kami bahwa kami bisa merayakan Idul Fitri dengan tanpa rasa takut,” ujar Zahid Khan, penduduk Jalalabad kepada Al Jazeera.

Perayaan itu dipersingkat dengan serangan pertama yang diklaim oleh IS (ISIS) pada hari Sabtu yang menewaskan sedikitnya 30 orang dan melukai lebih dari 65 orang di provinsi Nangarhar.

Serangan kedua, pemboman bunuh diri di Jalalabad pada hari Ahad, dekat dengan kantor gubernur di provinsi Nangarhar, menewaskan sedikitnya 18 orang. Tidak ada kelompok yang segera mengklaim bertanggung jawab.

(Baca juga:  Pesan Idul Fitri Amirul Mukminin Imarah Islam Afghanistan untuk Kaum Muslimin)

“Pada hari Idul Fitri ketika semua orang datang, serangan oleh ISIL membuat banyak orang menangis karena kehilangan keluarga mereka,” Nikzad, seorang warga Kabul mengatakan kepada Al Jazeera.

“Perdamaian tidak mudah dicapai di negeri ini.”

Dukungan dan sambutan untuk Taliban

Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan kepada Al Jazeera bahwa gencatan senjata tiga hari di seluruh negeri membuktikan bahwa kelompok itu “bersatu dan dapat dipercaya”.

“pejuang kami disambut dengan antusias oleh rakyat membuktikan bahwa tuntutan kami dan bangsa itu identik – semua ingin penjajah asing pergi dan dibentuk pemerintahan Islam,” katanya.

Mujahid juga menekankan bahwa tidak ada pembicaraan yang dilakukan dengan pemerintah.

Namun, Zahid Khan, penduduk Jalalabad mengatakan dia hanya ingin perdamaian di seluruh negeri.

“Cukup pertumpahan darah dan air mata, ketika perdamaian itu mungkin, kita harus mendukungnya,” katanya.

 

Sumber:  aljazeera