Memahami Imperium Amerika Sebagai Biang Keladi Kekacauan Dunia

(AP Photo/Anja Niedringhaus)

Setiap minggu, situs Truthout, memilih buku untuk dikupas. Buku-buku yang menjadi puncak topik pembicaraan atau penjualan. Wawancara berikut ini adalah tentang buku baru berjudul A Nation Unmade by War. Sebagai bagian dari proses, Tom Engelhardt melakukan wawancara tentang isi buku tersebut dengan Markus Karlin dari Truthout.

 

Mark Karlin: Berapa banyak uang yang telah digunakan untuk perang melawan teror oleh AS dan apa hasil dari pengeluaran tersebut?

Tom Engelhardt: Angka yang paling mendekati akurat, yang pernah saya lihat berasal dari “Proyek Biaya Perang” yang dibentuk Watson Institute di Universitas Brown, dan angka tersebut mengejutkan, yaitu sebesar $ 5,6 triliun, termasuk biaya proyeksi masa depan untuk merawat para veteran perang AS. Presiden Trump sendiri, telah meningkatkan jumlah itu lebih banyak lagi. Ia, dengan ekspresi biasa saja, berbicara tentang $ 7 triliun yang akan habis di suatu tempat dalam perang tanpa akhir di Timur Tengah Raya. Suatu hari nanti, jumlah tersebut akan menjadi kenyataan.

Adapun dampak dari pengeluaran semacam itu di daerah-daerah di mana perang-perang ini terus dilakukan, sebagian besar tanpa henti, karena perang-perang tersebut diluncurkan terhadap sekelompok kecil jihadis tepat setelah 11 September 2001, maka pasti akan termasuk kondisi: penyebaran “terorisme” di Timur Tengah, sebagian Asia, dan Afrika; penciptaan negara hampir gagal atau bahkan negara gagal, kota-kota besar yang berubah menjadi puing-puing (tanpa adanya biaya untuk melakukan rekonstruksi), munculnya orang-orang yang terlantar dan gelombang pengungsi pada tingkat yang sekarang mirip dengan momen setelah Perang Dunia II, ketika bagian-bagian penting dari planet kita berada dalam kekacauan; dan akibat-akibat tersebut hanyalah sedikit untuk memulai daftar dari biaya sebenarnya yang dikeluarkan oleh AS untuk perang.

(Baca juga:  Cara Keji Amerika Menghalalkan Perang di Seluruh Dunia)

Di dalam negeri AS, secara diam-diam, telah terjadi dampak serupa. Bayangkan saja, misalnya, bagaimana negara AS akan tumbuh seandainya dana yang terbuang di dalam konflik yang tidak membuahkan hasil, dan masih terus menyebar, dihabiskan untuk mendanai infrastruktur Amerika yang runtuh, bukannya untuk terus meningkatkan keamanan nasional, sebagai sebagai “cabang” keempat pemerintah (setelah trias politika).

Bagian dari masalah dalam menilai “dampak” dari perang AS adalah bahwa, di era ini, dalam hal perang kita, orang-orang didorong untuk tidak memikirkan hal tersebut sama sekali dan perang AS mendapat perhatian yang sangat kecil.

Jadi untuk mengukur dengan tepat tentang bagaimana dampak perang tersebut berakibat di dalam negeri AS, adalah hal yang sangat sulit. Kebanyakan orang, misalnya, tidak memahami sesuatu yang sudah lama saya tulis di TomDispatch: bahwa Donald Trump tidak akan bisa dibayangkan sebagai presiden tanpa perang, bahwa uang triliunan dolar itu disia-siakan oleh mereka, dan hal tersebut pasti memenuhi syarat sebagai “dampak” yang cukup besar dari perang.

Mark Karlin: Apa yang membuat penilaian AS sebagai sebuah imperium berbeda dari semua imperium sebelumnya?

Tom: Sebagai permulaan, perlu disebutkan bahwa orang Amerika pada umumnya bahkan tidak menganggap diri kita sebagai “imperium.” Ya, sejak Uni Soviet hancur pada tahun 1991, para politisi dan pakar kami dengan bangga menyebut negara AS sebagai negara adikuasa “terakhir” atau “sendirian” dan negara yang paling “luar biasa” atau “sangat dibutuhkan”, daripada menyebutnya sebagai sebuah imperium. Tidak. Anda harus pergi ke suatu tempat di luar jaringan media utama, mungkin situs Truthout atau TomDispatch, misalnya, untuk menemukan siapa pun yang berbicara tentang kita dalam istilah-istilah itu.

(BAca juga:  The Wrong War: Mengungkap Kesalahan Mendasar Amerika di Perang Afghanistan)

Yang mengatakan, saya pikir dua hal telah membuat kita berbeda, berbicara secara imperial. Yang pertama adalah bahwa pasca-1991, diri kita sendiri sebagai pemenang akhir dari kontes imperium yang luas, semacam perlombaan senjata yang telah berlangsung sejak kapal-kapal Eropa yang dipersenjatai dengan meriam pertama-tama telah menerobos ke seluruh dunia pada abad ke-15 dan mulai untuk menaklukkan banyak hal.

Dalam momen kemenangan pasca-Soviet, yang tampak seperti kemenangan akhir, kemenangan selamanya, memang ada perasaan bahwa tidak pernah ada dan tidak akan pernah ada kekuatan seperti yang dimiliki oleh AS.

Rasa bangga diri pada imperium itulah yang membuat para pemimpi geopolitik di pemerintahan George W. Bush menciptakan Americana Pax pertama di Timur Tengah Raya dan kemudian di dunia, dengan cara yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya, yang, mereka yakin, akan membuat kekaisaran Romawi dan Inggris menjadi malu. Dan kita semua tahu, dengan invasi ke Irak, semua kehebatan imperium AS tersebut berakhir.

Pada tahun-tahun sejak mereka meluncurkan usaha terakhir dengan penuh kesombongan, perbedaan paling mencolok yang dapat saya lihat dengan imperium sebelumnya adalah bahwa AS terbukti sangat tidak mampu untuk menerapkan kekuatan militer dan politik secara bersamaan untuk mencapai tujuan-tujuannya. AS malah tidak mampu mendapatkan hasil apapun selain kehancuran dan kerusakan lebih lanjut di seluruh bagian planet bumi ini.

Akhirnya, tentu saja, ada perubahan iklim – yaitu, untuk pertama kalinya dalam sejarah panjang berbagai imperium, kesejahteraan planet ini sendiri dipertaruhkan. Permainan telah berubah, bahkan jika relatif sedikit orang-orang di sini yang memperhatikan.

Mark Karlin: Mengapa Anda menyebut AS sebagai “kerajaan yang penuh kekacauan”?

Tom: Amerika Serikat sekarang tampak sebagai kekuatan pembuat kekacauan di seluruh bagian penting dari planet ini. Lihat saja, misalnya, di kota-kota – dari Marawi di Filipina hingga Mosul dan Ramadi di Irak, Raqqa dan Aleppo di Suriah, Sirte di Libya, dan sebagainya – yang runtuh, sebagian besar oleh pemboman Amerika. Secara historis, di zaman imperium sebelumnya, kekuatan mematikan seperti itu, secara teratur diterapkan secara brutal dan menghancurkan, menjadi cara untuk memaksakan “ketertiban” di daerah-daerah yang ditaklukkan dan dijajah.

 

Baca halaman selanjutnya….

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *