Memotret Tentara Israel Bisa Berujung 5 Tahun Penjara

 

Tidak Terdokumentasi Bukan Berarti Tidak Ada Kekejaman

Jika seorang tentara Israel memukuli orang Palestina dan tidak ada yang merekamnya dalam video, apakah itu benar-benar terjadi? Itu adalah pertanyaan sekelompok anggota parlemen Israel yang tampaknya bertekad untuk mencari tahu.

RUU baru, yang diusulkan oleh empat anggota partai Beiteinu Israel pimpinan Avigdor Liberman, akan menjadikan “membuat video, merekam, atau memotret tentara Israel yang melaksanakan tugas mereka dengan tujuan mengikis semangat”, sebagai suatu kejahatan yang dapat dihukum lima tahun penjara. Jika maksudnya adalah untuk membahayakan keamanan negara, hukumannya akan berlipat ganda menjadi 10 tahun penjara. Undang-undang itu juga akan berlaku bagi mereka yang menyebarkan dokumentasi tersebut.

(Baca artikel terkait: Mendokumentasikan Kekejaman Israel Akan Diproses Hukum)

Menurut laporan Haaretz, RUU itu diharapkan mendapat dukungan dari seluruh pemerintah dalam pemungutan suara pada hari Minggu.

Berikut adalah tiga hal penting yang perlu diperhatikan tentang RUU ini.

  1. Ini adalah upaya eksplisit untuk membungkam dan mengkriminalkan karya-karya organisasi hak asasi manusia Israel.

Bagian penjelasan RUU itu secara khusus mengutip karya-karya B’Tselem, Machsom Watch, dan Breaking the Silence sebagai pendorongnya. Setelah satu dekade mengejar pendanaan kelompok hak asasi manusia dan anti-pendudukan, kemampuan kritikus Israel untuk bepergian secara bebas, dan kampanye yang menuduh mereka melakukan pengkhianatan, pemerintah sekarang mungkin mencoba untuk mengkriminalisasi aktivitas mereka secara langsung.

Kapanpun kesedihan mulai muncul, kapanpun karya-karya kelompok hak asasi manusia dan anti-pendudukan nampaknya sama sekali sia-sia, ingatlah RUU ini -terlepas dari apakah itu akan menjadi undang-undang atau dibiarkan mati di dalam komite. RUU ini adalah peringatan bahwa pemerintah nasionalis sayap kanan Israel melihat kerja kelompok-kelompok tersebut cukup mengancam dan karenanya mereka terus mencari cara untuk meminggirkan, meremehkan, dan melarang mereka dan pekerjaan mereka. Jelas, mengungkap realitas pendudukan adalah ancaman bagi pendudukan itu, dan dengan perluasan, juga ancaman bagi rezim Israel saat ini.

  1. Hukum ini hanya akan berlaku untuk orang Israel, bukan untuk orang Palestina.

Karena Israel belum mencaplok Tepi Barat dan karena itu memerintah atas orang-orang Palestina sebagai subyek non-warga negara dari rezim militernya, undang-undang yang disahkan oleh Knesset tidak berlaku bagi 2,8 juta orang Palestina yang tinggal di sana. (Agar suatu hukum bagi orang Israel berlaku untuk orang Palestina, komandan pasukan Israel di Tepi Barat harus menambahkannya ke kode militer yang berfungsi sebagai hukum untuk orang Palestina.)

Hasilnya adalah jika seorang Palestina dan seorang Israel berdiri berdampingan di sisi jalan raya Tepi Barat dan merekam tentara yang sama yang memukuli seorang pria Palestina, hanya orang Israel itu yang dianggap melakukan kejahatan.

Tentu saja, Israel tidak memerlukan undang-undang baru untuk menempatkan orang-orang Palestina di balik terali besi, terutama bagi yang menerbitkan sesuatu secara online yang mengungkap kemarahan petugas keamanan: dari hasutan, kekerasan hingga penahanan administratif (penjara tanpa dakwaan atau persidangan). Bagi otoritas Israel tidak akan kekurangan alat “legal” yang sudah tersedia untuk hal itu.

  1. Penulis RUU itu sebenarnya menuju sesuatu. Itu menciderai moral para tentara IDF dan warga sipil Israel, untuk menyaksikan kawan-kawan dan anak-anak lelaki melakukan pekerjaan yang buruk, dan kasar dalam memerintah orang lain dengan cara kekerasan dan penghinaan setiap hari.

Pendudukan bukanlah sesuatu yang indah – bukan untuk korbannya dan bukan untuk para pelakunya. Pada dasarnya itulah raison d’etre (alasan yang paling penting) dari penempatan RUU itu terhadap tiga organisasi ke dalam tanda silang: untuk memastikan bahwa tentara mengetahui bahwa mereka sedang dilihat (Machsom Watch), dan untuk memastikan orang Israel dan dunia melihat apa yang dilakukan para prajurit itu (Breaking the Silence dan B’Tselem).

Yang membawa kita kembali ke pertanyaan apakah kejahatan yang tidak didokumentasikan benar-benar terjadi. Dalam kesadaran publik Israel, RUU semacam itu mungkin benar-benar membuktikan bahwa jawabannya tidak, setidaknya sebagian.

Sebagian besar orang Israel tidak ingin melihat kekerasan pendudukan. Dari pandangan, pikiran, disonansi kognitif, ketidakkekalan objek -apapun yang Anda ingin menyebutnya, manusia memiliki sejumlah besar alat untuk menekan pikiran yang tidak nyaman untuk dipikirkan. Dengan benar-benar menghapus gambar-gambar yang menyinggung itu dari pandangan, akrobat mental itu menjadi jauh lebih mudah.

Namun di seluruh dunia yang lain (dan sebagian kecil masyarakat Israel) memiliki cerita yang berbeda. Setelah setengah abad pendudukan dan tiga dekade sejak jaringan televisi Amerika mulai menyiarkan video-video tentara Israel yang mematahkan tulang para pengunjuk rasa Palestina, kucing itu keluar dari kantongnya. Gambar-gambar penindasan dan kekerasan Israel terhadap orang-orang Palestina telah lama dipikirkan oleh jutaan orang di seluruh dunia.

Jika gambar-gambar itu tiba-tiba berhenti dibagikan, orang-orang tidak akan menyimpulkan hal itu karena pendudukan berakhir atau karena kediktatoran militer berubah menjadi baik hati dalam semalam. Tidak, mereka akan mengerti mengapa gambar-gambar itu berhenti datang: karena bahkan orang-orang Israel sayap kanan, hiper-nasionalis menyadari bahwa pendudukan secara moral menjijikkan dan merusak masyarakat mereka sendiri, tetapi bahwa satu-satunya obat yang mereka miliki untuk masalah itu adalah menutupi mata mereka.

 

Naskah ini disadur dari tulisan Michael Schaeffer Omer-Man, pemimpin redaksi Majalah +972 dan kontributor reguler untuk pelaporan dan analisis, yang dimuat dalam situs web lobelog.com.

 

Sumber: https://lobelog.com/hiding-the-occupation-doesnt-make-it-go-away/