Perang Paregreg, Awal Kemunduran Majapahit dan Dimulainya Kejayaan Islam di Jawa

Perang Paregreg, Awal Kemunduran Majapahit dan Dimulainya Kejayaan Islam di Jawa.

Jihad Wali Songo untuk Menegakkan Islam di Jawa (Bag.3)

 

Majapahit mulai mengalami kemunduran sekitar tahun 1364, diawali dengan peristiwa meninggalnya Gadjah Mada pada sekitar tahun 1363, yang kemudian disusul oleh kematian Hayam Wuruk. Sepeninggal Hayam Wuruk para pejabat/keluarga kerajaan saling berebut kekuasaan, terutama antara Bre Wirabumi (putra Hayam Wuruk dari selir) dan Wikramawardana (menantu Hayam Wuruk). Peristiwa kekacauan inilah yang kemudian dikenal dengan perang Paregreg.

Menurut para ahli sejarah seperti Vlekke, Ricklefs dan Lombard menyatakan bahwa keruntuhan majapahit disebabkan oleh banyak faktor. Faktor yang paling utama adalah faktor politik. Hal ini ditandai dengan lemahnya kepemimpinan paska Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Tidak ada penerus yang kuat kepemimpinannya sehingga legitimasi raja sangat lemah mengontrol wilayahnya. Akibatnya terjadi perang antar keluarga istana Majapahit yang paling besar seperti perang Paregreg.

(Baca juga:  Jihad Wali Songo untuk Menegakkan Islam di Jawa (Bag.2))

Perang saudara yang berlarut-larut mengakibatkan Majapahit sangat lemah, sehingga gagal mengontrol wilayah kekuasaannya. Daerah kekuasaan Majapahit terutama kota-kota pelabuhan di pesisir utara Jawa seperti Tuban, Demak, Gresik, Jepara, Rembang, dan Surabaya membentuk Negara sendiri.  Lambat laun seiring dakwah para wali, para penguasa pelabuhan beralih agama dari Hindu-Budha memeluk Islam.

Menurut para ahli sejarah seperti Vlekke, Ricklefs dan Lombard menyatakan bahwa keruntuhan majapahit disebabkan oleh banyak faktor. Faktor yang paling utama adalah faktor politik.

Setelah Majapahit mundur proses Islamisasi makin berkembang dari budaya sampai kekuasaan politik. Hal ini ditandai dengan munculnya Giri sebagai sebuah pemerintahan otonomi yang bercirikan pemerintahan Islam, yang kemudian disusul oleh kemunculan kerajaan yang lebih besar Demak.

Perang paregrek adalah perang yang panjang, antar keluarga Hayam wuruk. Kadang dimenangkan pihak Wikramawardhana dan kadang dimenangkan pihak bhre Wirabhumi. Perang dimulai pada tahun 1323 Saka atau 1401 Masehi dan berakhir pada tahun 1406 ketika pihak Bhre Wirabhumi diserbu sampai kalah dan dipenggal kepalanya oleh Raden Gajah.

(Baca juga: Jihad Wali Songo untuk Menegakkan Islam di Jawa (bag. 1))

Akibat perang paregreg, selain menghabiskan energi Majapahit. juga mengakibatkan beberapa wilayahnya melepaskan diri. Pada tahun 1405 Kalimantan Barat direbut oleh China. Kerajaan Palembang, Melayu dan Malaka yang tumbuh menjadi kota pelabuhan juga menyatakan kemerdekaannya dan lepas dari kontrol Majapahit. Menyusul Pula Brunei yang ada di pulau Kalimantan bagian utara juga melepaskan diri.

Pasca Perang Paregreg Wikramawardhana meminang putri Bre Wirabhumi. Dari pernikahan ini lahirlah Suhita yang kemudian naik tahta pada tahun 1427. Ketika menjadi raja, Suhita membalas dendam pada raden Gajah (pembunuh kakeknya Bhre Wirabhumi) dengan hukuman pancung pada tahun 1433.

Pada kurun pemerintahan Wikramawardhana, serangkaian ekspedisi laut Dinasti Ming yang dipimpin oleh laksamana Cheng Ho, seorang jenderal muslim China, tiba di Jawa beberapa kali antara kurun waktu 1405 sampai 1433. Sejak tahun 1430 ekspedisi Cheng Ho ini telah menciptakan komunitas muslim China dan Arab di beberapa kota pelabuhan pantai utara Jawa, seperti di Semarang, Demak, Tuban, dan Ampel; maka Islam pun mulai memiliki pijakan di pantai utara Jawa.

(Baca juga: Kontribusi Laksamana Cheng Ho bagi Islamisasi Nusantara)

Wikramawardhana memerintah hingga tahun 1426 M, dan diteruskan oleh putrinya, Ratu Suhita yang memerintah pada tahun 1426 M sampai 1447 M. Ia adalah putri kedua Wikramawardhana dari seorang selir yang juga putri kedua Bhre Wirabhumi. Pada 1447 M, Suhita mangkat dan pemerintahan dilanjutkan oleh Kertawijaya, adik laki-lakinya. Ia memerintah hingga tahun 1451 M. Setelah Kertawijaya wafat, Bhre Pamotan menjadi raja dengan gelar Rajasawardhana dan memerintah di Kahuripan. Ia wafat pada tahun 1453 M.

Terjadi jeda waktu tiga tahun tanpa raja akibat krisis pewarisan tahta. Girisawardhana (bre Wengker), putra Kertawijaya, naik takhta pada 1456 M bergelar Hyang Purwawisesa. Selama pemerintahannya dia meneruskan kebijakan ayahnya, Kertawijaya yang memberikan kedudukan penting pada para kerabatnya yang beragama Islam. Ia memerintah selama 10 tahun dan wafat pada 1466 M.

Penerusnya adalah Singhawikramawardhana yang hanya memerintah selama 2 tahun. Karena kebijakannya seperti pendahulunya memberi peluang pada kerabat muslim menjadikannya tidak disukai oleh sebagian kerabatnya sendiri.

Pada 1468 M pangeran Kertabhumi (Bhre Kertabhumi) merebut tahta Majapahit dari Singhawikramawardhana dan mengangkat dirinya sebagai raja Majapahit bergelar Brawijaya V.

Perang Paregreg menyebabkan kerajaan maritim Majapahit mundur secara mencolok, armada lautnya tidak mampu lagi mengontrol wilayah-wilayah luar Jawa secara efektif. Munculnya berbagai kemelut internal dan eksternal, seperti pemerintahan Liang Tau-Ming yang didukung para petualang dan bajak laut Cina membuat pemerintahan Majapahit semakin tidak mampu lagi mengendalikannya.

(Baca juga:   Arti Penting Selat Malaka bagi Islamisasi Nusantara)

Kemerosotan kekuasaan Majapahit mengakibatkan penciutan wilayah dan runtuhnya kewibawaan. Kekuasaan Majapahit di Jawa hanya tinggal inti kekuasaan sembilan kadipaten, yaitu: Kahuripan, Daha, Wengker, Lasem, Matahun, Pajang, Pamanahan, Wirabumi, dan Trowulan. Masing-masing kadipaten itu dikuasai keluarga raja sebagai bupati, dibantu patih atau Amangkubumi.

Ketika armada laut Majapahit mengalami kemunduran, pedagang muslim telah tumbuh sebagai kekuatan baru menggantikan kedudukan pedagang non-muslim. Pedagang muslim tersebar di pesisir utara Jawa dan menjadikan pelabuhan-pelabuhan pesisir utara Jawa sebagai pangkalan, tempat pelaut membeli air bersih dan perbekalan untuk masa pelayaran yang panjang.

 

Baca halaman selanjutnya…..

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *