Sejarah Yahudisasi Palestina dan Perlawanan Daulah Utsmaniyah

Sejarah Yahudisasi Palestina dan Perlawanan Daulah Utsmaniyah (Seri Yahudisasi Palestina Bag. 1)

Kaum Yahudi tidak menemukan tanah dan negara sebagai tempat pelarian, setelah sebelumnya terusir dari Andalusia (1492), selain wilayah kekuasaan Turki Utsmani. Namun nyatanya, orang-orang Yahudi tidak memenuhi komitmen leluhurnya dan membalas perlakuan baik ini melakukan pengkhianatan pertama mereka terhadap Khilafah Utsmaniyah. Mereka melakukan pemberontakan pada tahun 1908 demi menyokong politik kolonialisme Barat Eropa dan gerakan Zionis Internasional.

Kepentingan Zionis adalah ambisi mereka terhadap Sinai dan Palestina. Lebih khusus, kota Al-Quds menjadi incaran gerakan ini lantaran memiliki nilai spiritual dan sejarah yang sangat berharga bagi dunia Islam dan rakyat Palestina. Pada masa pemerintahan Sultan Murad Al-Utsmani, putra Sultan Salim II (lahir tahun 953 H, memerintah dari 7 Ramadhan 982 H s.d. 5 Jumadal Akhirah 1003 H), Yahudi mencoba untuk tinggal di kota dan Gunung Thur (Tabor) yang berada di Sinai. Para Biara Santa Katarina tidak punya pilihan selain meminta tolong kepada Sultan Murad untuk melarang Yahudi tinggal dan menetap di kota dan daerah Santa Katarina. Sultan Murad kemudian memenuhi permintaan itu dan mengirim tiga dokumen dekrit ke Gubernur Mesir saat itu.

Ketiga dokumen tersebut masih tersimpan di perpustakaan Biara bersama dengan koleksi langka Utsmaniyah lainnya yang berisi perlindungan terhadap ahl al-dzimmah, dalam hal ini penganut Kristen Ad-Dir. Jumlah seluruh dokumen mencapai 75 buah. Ketiga dekrit tadi mengisyaratkan adanya kesadaran pada Khilafah Utsmaniyah akan bahaya dari pemukiman Yahudi.

(Baca juga:  Sejarah Umat Kristen di Yerusalem Dalam Naungan Daulah Utsmaniyah)

Pada masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid II, Khilafah Utsmaniyah mengambil kebijakan berbeda terhadap komunitas Yahudi. Pada masa pemerintahannya, gerakan Zionis telah aktif pasca konferensi Basel pada tahun 1897. Sebelum konfrensi pun Sultan Abdul Hamid sudah menyadari bahaya dari gerakan tsb, hingga beliau mengeluarkan tiga dekrit Sultan hanya dalam beberapa hari pada bulan Dzulqa’dah 1308 H/1891, yaitu pada tanggal 21,28,29.  Semua dekrit tersebut mempertegas larangan mukim bagi imigran “pengikut” Nabi Musa (Yahudi) di wilayah kaum Muslim di Sinai dan Palestina, terutama setelah pengusiran mereka dari Eropa.

Dekrit kedua Sultan berbunyi:

“Tujuh hari setelah dekrit pertama Sultan, inilah dekrit yang kedua. Kepada komisi militer ma’iyyah sunniyyah. Sesungguhnya tindakan untuk menerima imigran Yahudi dan menampung mereka atau memberikan kepada mereka kewarganegaraan adalah sangat berbahaya. Di masa yang akan datang hal ini akan menimbulkan problem hukum migran Yahudi. Karena itu, menolak kedatangan mereka adalah keharusan. Hal ini harus diperhitungkan dalam mengkaji masalah ini. Keputusan ini harus segera dilaksanakan sejak hari ini, dan dekrit ini hendaknya menjadi prioritas terpenting sekretaris khusus.”

Pada hari ke-29 Sultan mengeluarkan dekrit selanjutnya, yang berbunyi:

“Tidak satu pun negara yang berhak memprotes penolakan kami terhadap imigran Yahudi yang telah diusir dari negara beradab… Negara-negara yang memprotes tersebut lebih pantas mengarahkan protes mereka kepada negara yang telah mengusir dan menolak keberadaan mereka (Yahudi).”

Dalam rangka realisasi dekrit tersebut, sejumlah aturan dikeluarkan pada tahun 1900 M. Aturan khusus yang ditujukan kepada pengunjung al-Quds (Yerusalem) dari kalangan Yahudi tersebut sebagai berikut:

–     Para pengunjung Yerusalem dari kalangan Yahudi harus membawa surat jalan (visa) yang memuat sifat, tujuan, dan jangka waktu lama perjalanan, serta identitas pemilik visa.

–     Semua Yahudi yang tiba di Beirut atau pelabuhan mana pun dalam wilayah al-Quds harus menitipkan tiket perjalanannya pada imigrasi dengan membayar sebesar satu qirsy. Masa keberadaan di Palestina adalah tiga bulan. Bila setelah jangka waktu tersebut pemilik tiket belum meninggalkan Palestina maka polisi akan mengeluarkannya secara paksa.

–     Memantau visa tinggal para pengunjung setiap bulan, sehingga polisi dapat mengeluarkan para pelanggar dari kalangan Yahudi.

–     Tindakan tegas harus diambil terhadap pelaku pelanggaran beserta pegawai administrasi yang bertanggung jawab atas pelaksanaan peraturan ini.

Ketika Kaisar Jerman Wilhelm II berkunjung kepada Sultan pada tahun 1898 M, Theodor Herzl dengan segera menemui Kaisar agar dapat menjadi perantara terhadap Sultan Abdul Hamid. Namun, Kaisar Jerman menolak untuk mengungkit isu tersebut karena dia paham sikap Sultan terhadap posisi Palestina dalam konteks Islam. Selanjutnya, ketika Wilhelm II hendak menuju Syam, Herzl mendahuluinya menuju ke Palestina melalui pintu gerbang Mesir melalui Sinai. Herzl meminta orang-orang Yahudi Palestina untuk merayakan kedatangan Kaisar Jerman. Namun, Herzl lagi-lagi tidak memperoleh apa yang diinginkannya dari Kaisar Wilhelm II.

(Baca juga: Sejarah Toleransi: Yerusalem dan Orang-Orang Kristen Dalam Naungan Islam)

Saat itulah Herzl menyadari bahwa cita-citanya tidak mungkin terwujud melainkan dengan cara menyingkirkan Sultan Abdul Hamid, dan itu melalui dua cara yang saling menyokong. Pertama, eksternal yang terkait dengan negara-negara Eropa dan peranannya dalam menjatuhkan Khilafah Utsmaniyah. Kedua, internal yaitu oleh Yahudi kelompok İttihat ve Terakki (Organisasi Persatuan dan Kemajuan). Strategi tersebut akhirnya berhasil dengan diturunkannya Sultan yang menyusul kudeta Konstitusi pada tahun 1909 M.

Saat lima orang delegasi dari kelompok pemberontak menemui Sultan untuk menyampaikan pencopotan Sultan dari jabatannya, salah seorang di antara mereka adalah seorang Yahudi bernama Kurh Soh. Saat melihat kehadirannya, Sultan berkata kepada para delegasi, “Apa yang dilakukan oleh si Yahudi ini di antara kalian, dalam urusan menurunkan khalifah Kaum Muslimin?”

Sultan Abdul Hamid II menunjukkan harga diri dan martabat ketika Inggris mengirim pasukan militer ke ke pelabuhan Aqaba, atas dasar bahwa Sinai adalah milik Mesir. Dia segera mengirim pasukan Utsmaniyah untuk mengusir kekuatan Mesir. Ketika konsulat Inggris di Istanbul memprotes tindakan tersebut, jawaban Sultan adalah, “Apakah pemilik tanah harus meminta izin dahulu kepada pihak lain untuk urusan hak miliknya?”

Sultan pernah mengucapkan sebuah ungkapan bersejarah kepada Herzl:

“Sungguh, meski kalian memberikan emas sepenuh bumi, apa lagi sekadar £ 150,000,000 emas Inggris, saya tidak akan pernah menerima tawaran Anda dengan keputusan yang kokoh. Saya sungguh telah melayani agama Islam dan umat Muhammad selama lebih dari 30 tahun. Saya belum pernah mencoreng catatan sejarah kaum Muslim, ayah dan kakekku, para sultan dan khalifah Utsmaniyah. Karenanya, secara pasti saya tidak akan pernah menerima tawaran Anda.

“Demikian, sungguh aku memuja dan memuji Allah, bahwa saya tidak pernah menerima untuk mengotori negeri Utsmaniyah dan Dunia Islam dengan aib abadi yang timbul dari tawaran mereka untuk mendirikan sebuah negara Yahudi di tanah yang disucikan –Palestina. Adapun apa yang terjadi setelahnya maka terjadilah. Untuk itu, aku mengulangi lagi pujian dan pujaan kepada Allah Ta’ala. Saya yakin bahwa apa yang saya sampaikan ini penting untuk diketahui dan dengannya saya menutup pesan ini.”

 

22/9/1898

Pelayan Kaum Muslimin,

Abdul Hamid bin Abdul Majid

 

Setelah kelompok nasionalis Arab bersorak atas tersingkirnya Sultan, tidak butuh waktu lama hingga bencana Yahudisasi Palestina terjadi. Apalagi kemudian sejarah menunjukkan orang-orang Yahudi berada di balik kudeta tersebut.

Jurnalis Yusuf Ibrahim Yazbik menuturkan dalam bukunya Hari-Hari di Libanon ungkapan duka cita Uskup Maronit di Lebanon, Ilyas Alhuwaik, yang dipersaksikan oleh dokter Sultan, yang merupakan seorang pengikut Maronit. Saat ia diberitahu tentang kematian Sultan, Uskup Alhuwaik berkata, “Kita telah hidup di bawah kekuasaannya dengan seribu (berlimpah) kebaikan dari Allah, dan kita tidak tahu apa yang akan datang kepada kita di hari-hari setelah kematiannya.”

Saat itulah Herzl menyadari bahwa cita-citanya tidak mungkin terwujud melainkan dengan cara menyingkirkan Sultan Abdul Hamid, dan itu melalui dua cara yang saling menyokong. Pertama, eksternal yang terkait dengan negara-negara Eropa dan peranannya dalam menjatuhkan Khilafah Utsmaniyah. Kedua, internal yaitu oleh Yahudi kelompok İttihat ve Terakki (Organisasi Persatuan dan Kemajuan). Strategi tersebut akhirnya berhasil dengan diturunkannya Sultan yang menyusul kudeta Konstitusi pada tahun 1909 M.

Demikianlah gambaran seutuhnya  mengenai penjagaan bumi Arab di bawah kekuasaan Turki Utsmani selama hampir 500 tahun. Ketika orang-orang Arab memberontak terhadap Khilafah Utsmaniyah, mereka terdampar sendiri dalam Revolusi Arab (Arab Revolt) yang menyengsarakan mereka. Akibatnya, negeri terbengkalai dan warga terusirnya warga. Bahkan, akhirnya mereka harus melegitimasi Yahudisasi Palestina melalui perjanjian antara Faishal—putra Syarif Husain—dan Weizmann pada tahun 1919.

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *